Mohon tunggu...
James P Pardede
James P Pardede Mohon Tunggu... Freelancer

Menulis itu sangat menyenangkan...dengan menulis ada banyak hal yang bisa kita bagikan.Mulai dari masalah sosial, pendidikan dan masalah lainnya yang bisa memberi pencerahan

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Pilihan

Siapa yang Bertanggung Jawab terhadap Kerusakan Hutan di Tapsel dan Madina?

19 Juni 2019   15:42 Diperbarui: 19 Juni 2019   16:13 0 1 0 Mohon Tunggu...
Siapa yang Bertanggung Jawab terhadap Kerusakan Hutan di Tapsel dan Madina?
Kawasan Hutan di Tapanuli Selatan dan Mandailing Natal banyak yang sudah gundul. Dikhawatirkan, jika hutan ini dibiarkan gundul akan berdampak negatif kepada lingkungan di sekitarnya. Foto : James P Pardede

Ini adalah pengalaman pertama saya melintasi jalan lintas Pantai Barat Mandailing Natal. Perjalanan dari Batang Toru melewati kebun Hapesong dan Danau Siais jalannya lumayan bagus. Karena perjalanan kami menuju Desa Kun Kun Kecamatan Batang Natal malam hari, jadi kami tidak melihat sisi kiri dan kanan jalan yang gelap.

Kami baru bisa melihat kondisi jalan yang sesungguhnya dan kondisi hutan di sepanjang perjalanan saat pulang pagi dari Desa Kun Kun melewati beberapa desa dan akhirnya kami menemukan kawasan hutan yang sangat luas dalam kondisi gundul dan dibabat habis. Seajuh mata memandang, hutan yang ada sebgian sudah beralih fungsi menjadi kebun sawit.

Berdasarkan data dan informasi yang diolah dari berbagai sumber menyebutkan bahwa hutan dikawasan ini pernah terbakar dan masyarakat sekitar ada yang dengan sengaja membabat hutan dan membakarnya untuk membuka lahan baru.

Memasuki wilayah Kecamatan Muara Batanggadis, Kabupaten Madina, rawa yang mengering semakin banyak ditemukan. Bukit menjadi tandus dan tumbuhan di atasnya berwarna coklat akibat kekurangan air dan bekas terbakar. Sebagian lahan bekas terbakar sudah mulai diolah menjadi kebun sawit.

Pengakuan dari salah seorang penjaga kebun mengakui kalau saat ini mereka kesulitan mendapat air bersih sejak hutan dikawasan itu habis dibabat dan terbakar. Air yang biasanya mengalir dan bersumber dari gunung sudah tidak ada lagi, rawa mengering, bahkan tanah bukit mulai longsor.

Air terjun di sepanjang jalan lintas pantai Barat Mandailing Natal, tepatnya di daerah Tapanuli Selatan dan berdekatan dengan Danau Siais, debit airnya semakin kecil. Foto : James P. Pardede
Air terjun di sepanjang jalan lintas pantai Barat Mandailing Natal, tepatnya di daerah Tapanuli Selatan dan berdekatan dengan Danau Siais, debit airnya semakin kecil. Foto : James P. Pardede

Pantauan di perbukitan sepanjang Danau Siais banyak juga pohon yang masih berdiri, tapi sebagian batangnya sudah berwarna hitam karena bekas terbakar, daunnya juga berguguran. Anak sungai di bawahnya kering, debit air terjun Aek Simatutung yang mengalir dari atas bukit menjadi sangat kecil. Air terjun lainnya yang dulu masih mengalirkan air sekarang sudah mengering.

Menurut salah seorang pengusaha asal Medan, Sugianto Makmur yang sudah melewati jalur itu untuk yang kedua kalinya. Saat pertama kali lewat jalan itu masih menemukan sekitar 8 air terjun. Dari 8 air terjun ini, sebagian diantaranya ada yang kecil dan ada juga yang debit airnya besar.

"Pada saat melintasi jalan lintas Pantai Barat Mandailing Natal ini, air terjun yang bisa ditemui hanya beberapa saja dengan debit air mengecil. Seperti air terjun di sekitar jembatan Aek Korsik Menek, debit air terjunnya semakin mengecil. Dikhawatirkan, kalau kawasan hutan yang semakin gundul ini dibiarkan akan mengakibatkan bencana banjir dan masyarakat kesulitan dalam mendapatkan sumber air bersih yang selama ini sangat mudah diperoleh", kata Sugianto Makmur.

Salah seorang warga yang membuka usaha warung makanan dan minuman di pinggir Danau Siais mengakui kalau lahan gundul yang ada dikawasan danau dibabat oleh warga sekitar untuk membuka lahan baru dan rencananya mereka akan bercocok tanam pada lahan yang sudah dibabat (dibakar).