Wisata Pilihan

Merabu yang Tersisa di Borneo

3 Maret 2018   23:42 Diperbarui: 4 Maret 2018   09:54 525 0 0

                Komunikasi lancar,  semacam jalan tol. Namun kepastian dan lokasi belum juga ditentukan. Chating di grup media juga aktif. Hingga hari -2 aku belum juga putuskan untuk ikut. Hingga dini hari -1 baru bisa  memberikan kepastian. Budget sedang sakit-sakitnya. Sedang kena penyakit kronis. 

                Setelah keputusan bulat, aku mencari peralataan dan menyiapkan diri. Kami berangkat beranggotakan 7 orang. Mbak Nana paling senior, disusul Mas Ino, Mbak Novi, Edwin, Fauzi, Guntur dan aku. Nama tim kami adalah OU- Komuniti. 

                Hari kamis. Rencana awal berangakat pukul 14.00. Namun  untuk datang lebih awal lebih baik.  Rencanya disalah satu rumah rekan kami untuk berkumpul. Aku datang paling telat.

                Semua telah datang. Kami berangkat dari kota Sangatta sekitar pukul 14.... lewat beberapa menit. Biasa orang Indonesia, hehehhe.....

            Perjalanan dilanjutkan hingga tiba magrib, kami istrahat di Kota Kecamatan Wahau untuk pengisian bahan bakar kendaraan, juga mencari pengganjal perut. Setelah kurang lebih sejam, kami melanjutkan perjalan. Hingga larut malam, perjalan dari Wahau sudah berjam-jam, kami sudah melewati baruga ukuran sedang khas ukir masyarakat kaltim, artinya sudah berada di antara perbatasan Kabupaten Kutai Timur dan Kabupaten Berau.  Kami tetap jalan terus, tanpa menghiraukan.

                Hingga dini hari, sudah ditengah hutan, udaranya mulai berbeda. Sangat menusuk dinginnya. Pemukiman sangatlah jarang. Tim kami sudah mulai kelelehan, sudah tidak bisa menahan rasa kantuk dan capek. Berapa kali kami niat istrahat, namun saranku tidak boleh sembarangan untuk menginap. Ada beberapa ancaman, bisa jadi di begal ditengah jalan atau diganggu hewan-hewan liar. Kami memutuskan untuk singgah di depan rumah warga. 

Disini ada 2 rumah yang berdampingan. Keputusan sudah di ambil. Kami meminta ijin kepada pemilik rumah untuk tidur di depan rumah mereka.  Kami disambut dengan baik, pemilik rumah bahkan bersedia mengeluarkan lampu kecil yang di colok dari pengisian aki. Kami berbincang singkat dengan pemilik rumah, daerah ini namannya kampung Letta masuk Kecematan Kelay "kata pemilik rumah".

                Pagi datang menyambut. Pepohan begitu rindang. Udara sangat sejuk, dingin namun menyegarkan. Kami juga sangat beruntung, bisa melihat burung Enggang (Rangkong)  salah satu burung endemik Borneo, terbang berombongan dengan keluarga mereka. Sekarang meraka  sudah sangat jarang bisa ditemui.

                Perjalanan dilanjutkan........! sekitar pukul 7.30 kami berangkat dari tempat menginap. Hingga beberapa mneit sudah berada di kota Kecamatan Kelay. Kami singggah untuk pengisian bahan bakar. Kemudian melanjutkan perjalan hingga pukul 09. 30 pagi,  tiba di Gerbang Kampung Merasa. Kami bertemu dengan warga di dekat gerbang, bertanya tentang tujuan kami yaitu Kampung Merabu. Ternyata sudah sangat jauh kami lewati. 

Terpaksa kami kembali mengikuti jalur yang yang telah dilalui tadi pagi. Kami mengikuti arahan warga, sebelah kiri jalan ada baruga stainles bertuliskan "Kampung Lesan". Itulah jalan yang bisa dilalui. Sesampai di gerbang stainlestersebut. Kebetulan kami bertemu lagi dengan warga, lalu bertanya. Iyah ini suda benar.

                Kami memasuki jalur yang dimaksud. Jalannya sudah bukan aspal lagi ataupun cor semen. Namun hanya kerikil pasir merah yang sudah di ratakan. Tidak sedikit yang sudah rusak, suadah seperti jalur air. Pertengahan jalan, kami kembali mengisi bahan bakar. Cadangan yang dibawa dari kota kecamatan.  

Disini tidak ada satupun pemukiman warga.  Tidak lama setelah mengisia BBM, salah satu teman kami mengalami kecelakaan. Terjatuh, akibat rem motor tidak bisa berfungsi dengan baik. Beban yang dibawa cukup berat, ditambah medan terjal bekelok dan kerikil yang licing akhirnya terjatuh. Untungnya....luka tida begitu parah. Hanya luka lecet,  ditangan dan di kaki. Kendaraan masih bisa diperbaiki.

                Setelah kejadian tadi, kami beristrahat sejenak. Meneguk air putih dan biskuit untuk mengganjal perut.  Tidak lama, salah satu warga lewat dengan kendaraaan  motor, Dia singgah. Mungkin tau kalau kami sedang kebingungan. hehehe,,,,tidak lama lagi akan dapat perkampungan  Lesan. Nanti setelah disitu bisa bertanya lagi "katanya'' kami kembali bersemangat.

                Perjalanan dilanjutkan! Sekitar 30 menit,Benar kami sudah berada di kampung Lesan. Pemukiman warga tidaklah padat. Kami bertanya untuk menuju dermaga, 2  anak-anak lewat dekat kami, Dia menujukkan jalannya. Kami menuju dermaga penyeberangan. Dari hilir sungai sebalah kami melihat kapal.

 Langsung bersiap-siap untuk menaikkan motor di atas kapal penyeberangan. Setelah penumpang turun, kami bertanya kepada bapak yang sudah lengkap dengan pakaian muslimnya.  Ternyata disebelah hilir sungai sudah tidak ada lagi masjid yang dekat. Apalagi waktu untuk melaksanakan sholat jumat  sudah sangat dekat, kurang 30 menit lagi. terpaksa kami minta kepada pengemudi kapal untuk menunggu kami sampai selesai sholat jumat.

                Kami kembali ke kampung, kami langsung menuju masjid untuk persiapan. Aku meminta ijin kepada pengurus masjid untuk mandi. Waktu jumat sudah dekat. Penduduk juga mulai berdatangan,

                Sholat jumat usai, aku di hampiri oleh beberapa warga. Mereka bertanya, mau kemana dek? Kami mau ke Kampung Merabu, "kataku"

                Dia mengira aku ini pengawas lapangan untuk kegiatan warga sehari-hari. Aku bilang hanya berkunjung, kebetulan kami punya waktu libur yang panjang. Barulah mereka menjelaskan dengan detail. Aku mencoba mengingat penjelesannya. Aku pamit dari masjid. Menuju tempat istrihat di warung warga. Kami memesan mie instand, nasi putih, tambah telur sebagai pengganjal perut.

                Kami kembali menuju dermaga penyeberangan. Kapal sudah menunggu sedari tadi. Biaya 25 ribu per motor hingga ke hilir sebelah. Setelah sampai perjalanan langsung dilanjutkan, mengikuti salah satu anak muda kampung yang kebetulan menuju ke arah yang sama. Walaupun hanya setengah jalan, setidaknya bisa membantu sampai di pertigaan. 

Ada 3 jalur berbeda untuk yang ke kiri salah satu jalan menuju perusahaan, jalur tengah menuju Desa Panaan, dan jalur yang  ke kanan menuju Belimbing Merabu. Kami ambil jalur kanan. Menuju Kampung Merabu sekitar 28 km. 

Kami tiba di baruga "Selamat Datang di Kampung merabu". Sedikit usang, semacam tidak terawat. Kami masuk dan terus. Hingga tiba jalannya terputus. Mentok di hilir sungai. Sedikit ada berdebatan. Kami berpencar. Aku pilih jalur ke kanan. Yang lain memilih ke kiri. Ternyata sama-sama buntu. Jalannya terputus oleh sungai. Aku sempat minum air sungainya yang membuatku tergoda dengan kejernihannya, ditambah dahaga yang tak tertahan.

                Kami memutuskan keluar dari gerbang, menuju ke jalur lain. Berharap  dapat perkampungan. Sepanjang perjalanan menuju perkambungan, tiba-tiba ada yang  mengangetkanku. Sebuah binatang, semacam serangga menyegat jemari tanganku. Sungguh sakitnya dahsyat. Seperti terpotong, rasanya dan panas. Aku mengingat pengobatan tradisional, jika tergigit sesuatu, usaplah dengan menggunakan tanah. Aku langsung berhenti untuk menggosoknya dengan tanah. Di belakangku ada rumah warga, mereka memerhatikanku. Aku juga sedang mencari daun, yang biasa ku sebut daun Kamboja, namun disini tidak ada. Terpaksa sepanjang perjalanan menuju perkampungan masih terasa sakitnya.

Kampung Merabu

                Tibalah kami di perkampungan. Beberapa rumah mulai nampak. Bentuk rumah sedang, tiang rendah. Mungkin ciri khas rumah masyarakat disini. Kami singgah bertanya, mencari rumah Pak Sopiansyah. Nama yang kami kenal. Warga mengarahkan kami untuk mengambil belokan kanan setelah melewati jalan ini.

                Iyah benar....kami sudah sampai dirumah Pak Sopiansyah sekitar pukul 16.50. Ini tidak salah lagi. di depan rumah, terukir namanya. Ternyata juga selaku ketua RT O1 Kamp. Merabu.

                Kami berbincang-bincang ringan, sama-sama belum saling kenal. Hingga akhirnya kami mulai akrab dan terbiasa.

                Kami diminta untuk menumui Pak Cris, beliau yang mengurus wisatawan yang datang. Mulai dari kapal, guide, hingga yang lain-lainya.

                Tidak lama...Pak Cris datang. Kami berbincang. Mengusahakan. Sore ini kami bisa ke sumber mata air Nyadeng.Pak Cris mulai berpikir. Mulai mencari warga yang punya kapal. Karena tidak semua  warga sedang dikampung, kebanyakan sedang di ladang atau ke hutan.

                Sudah ada warga yang bersedia, 2 kapal bisa dioperasikan. Guidenya pak pak RT. Kami sudah dimita untuk segera bersiap-siap.

                Pak cris....sudah ready belum.? Kami sudah ready semua pak.

                Kami diarahkan ke dermaga penyeberangan. Sementara menunggu pak RT mengambil peralatannya. Kami sempat berphoto di depan sekretariat "Krima Puri". Kata warga setiap wisatawan harus melapor ke Krima Puri, itu adalah kebijakan bersama. Kami mengikuti segala aturannya.

                Aku juga sempat berphoto di depan perpustakaan kampung. sangat sederhana kelihatannya dari luar.

                Pak RT datang....Hanya membawa tas selempang kecil. Botol air minum diselipkan di poket samping, ukurunnya sangat imut.

Semuanya sudah Ready.Waktunya GO..GO.....

Mata Air Nyadeng

                Kami diarahkan ke dermaga! Jaraknya hanya beberapa meter. Ternyata di belakang rumah itu sudah sungai. Dari pinggir aku perhatikan. Ada dua kapal yang sudah bersiap. Kami dibagi 2 kelompok. Aku dapat bagian kapal yang berwarna merah. Ukurannya kecil dibanding satunya yang berwarna hijau. Kami berusaha menaiki kapal, sepatu tetap tidak basah. Dihilir sungai itu dangkal. Kapal tidak bisa terlalu ditarik ketepi.

                Aku sudah naik di kapal, aku wa-was. Sepertinya kapal itu terombang-ambing. Mesin penggerak belum dinyalakan. Berdebar kencang rasnya. Aku juga perhatikan muka si Yoci sama Edwin. Sepertinya juga mereka ketakukan. Bukan karena takut hanyut. Mungkin barang-barangnya yang takut basah.

                Ngerek,,,ngerek ,,,ngerek,,,suara mesin kapal. Ditarik oleh jokinya. Namanya pak Udin. Mukanya lucu. Giginya depanya hilang satu. Rambutnya sepanjang bahu. Sesekali aku melihat ke belakang. Selalu tersenyum dan berkata "aman ini tidak akan tenggelam". Mungkin caranya menenangkanku.

                Sudah lebih 10 menit berlalu, ketinting melaju. Kami jauh lebih kencang dari ketiting satunya.  Sudah tidak kelihatan. Karena begitu banyaknya kelokan yang dilalui. Suara mesin kapal seperti mau pecah saja. Pikiranku resah dan kacau. Bagaimana tiba-tiba mesinya pecah, rusak atau apalah. Kami pasti hanyut dan barang-barang. Kerena arus sungai deras. Penggerak kapal satu-satunya  adalah mesinnya.

                Benar kataku......Tiba-tiba ketinting macet. Bagian dangkal yang dilalui airnya deras. Banyak batu-batuan kecil. Untungnya hanya beberapa detik saja. Bisa teratasi. Dihilir sungai juga ada hewan liar yang mati, baunya sangat menyegat. Kami tidak terlalu peduli. Yang penting kapal bergerak lagi.

                Dermaga ketinting sudah nampak.....kecepatan dikurangi. Ketinting mulai bermanuver. Harus tepat sasaran. Agar bisa tepat disandaran. Salah sedikit bisa tebalik satu kapal. Kami diminta turun hati-hati. Membawa barang-barang.

                Kami langsung bergerak! Menuju tujuan selanjutnya. Hari mulai gelap. Harapan bisa sampai  sebelum gelap. Pohon tumbuh dengan liar. Suara kicauan burung juga menemani sepanjang perjalan. Jalanan sedikit licin, mungkin diguyur hujan tadi pagi.

                Ditengah perjalan kami kehausan,  aku mencari sumber air. Tidak lama aliran air begitu deras, biru bersih. Aku turun mengisi botol yang ada disamping tasku. Benar airnya sangat segar, seperti dari lemari es sangat dingin  "ucapku".

                Tidak lama kami sudah sampai ditujuan "Sumber Mata Air Nyadeng". Pemandangan luar biasa indah.  Aku melihat sekeliling. Sangat takjub dan takzim. Kami istrahat sebentar. Untuk persiapan pemasangan tenda dan pengisian perut.

                Musim apapun Nyadeng ini tidak pernah keruh. Apalagi airnya berkurang. Selalu sama, dari setiap musimnya. Ikannya juga sangat melimpah, cukup dilemparkan makanan ke atas air. Ikan berlomba menyambarnya. Betul-betul indah, seperti di negeri dongen saja. Menikmati pemandangan sekeliling yang luar biasa dan tetap lestari ini, kata Pak Rt kepada kami.

                Hari ini...gilaran saya bersama Edwin yang memasak. Iyah hanya kami berdua. Yang lain sedang sibuk memasang tenda dan cari tempat menggantung hammock. Bagiku perut lebih diutamakan. Sedari tadi sudah keroncongan.

                Sekarang kami sedang sibuk dengan tugas masing-masing. Sambil menunggu nasi matang. Kami rebus air. Untuk ngopi. Pikiran mulai kacau. Sudah hampir seharian tidak menyentuh kopi. Aku mengeluarkan gelas! Meracik kopi hitam seperti biasanya.

                Menikmati kopi hitam sementara tetap menunggu nasi matang. Ternyata beda, kopi di alam bebas lebih nikmat. Mungkin karena pikiran tidak terbebani lagi, sama seperti alam yang liar ini. Heheheh......

                Sudah pukul 08. 00.... kami siap untuk makan malam. Buat kami ini adalah menu spesial. Hasil dari kebun pak RT yang kami olah. Apapun menunya itu, tetaplah enak. Apalagi sudah keroncongan begini. Kami semua lahap. Tanpa mempedulikan mengabadikan moment.

               Makan malam usai...kami istrahat. Sambil berkesah ditempat masing-masing. Mereviewcerita perjalanan. Kami diigatkan untuk tidak terlalu larut untuk tidur. Nanti pukul 04 pagi berangakt ke puncak.

                Sebelum jam 04 mas  Ino, salah satu teman kami sudah bangun, kami semua diusilin. Sudah diminta bergerak cepat. Perintah! Membawa barang yang diperlukan. Senter. kompor, kopi, dan gelas. Biar bisa ngopi di puncak, katanya.

Puncak Ketepu

                Puncak ketepu adalah spot andalan. Disini bisa melihat bentangan alam karst Sangkuliran-Mangkaliat. Masih berdiri kokoh. Pemandangan sungguh luar biasa.

                Perjalan tidaklah mudah, kemiringan dan ketintinggian sangatlah terasa. Walaupuan hanya beberapa menit. Tapi rasanya ngos-ngosan. Jangan terlalu banyak melihat ke atas, nanti putus asa dan tambah loyo, kata-kata itu teringat di pikiranku. Salah satu nasihat temanku dulu ketika menanjak gunung bersama.

                Ah.......akhirnya sampai di puncak. Namanya "PuncakKetepu" Masih gelap. Istrahat sejanak. Kemudian beraksi. Photo sana, photo sini. Jepret mulai tidak terkendali. Si Guntur, teman kami. Sedang sibuk nyalain kompor. Untuk meracik kopi andalannya, juga pop corn buatannya. Katanya, ini camilan wajib ketika menjelajah.

                Kami tinggal eksekusi buatannya! Nikmatnya. menunggu matahari terbit sambil bersantai dengan segelas kopi ditangan.

                Matahari mulai terbit, embun mulai nampak. Kadang muncul, kadang hilang. Moment harus dimanfaatkan dengan baik. Perjuangan kesini tidaklah mudah. Jadi sangat berharga.

                Tidak terasa sudah pukul 08.Pagimkami bersiap-siap turun. Tidak lupa berphoto rombongan. Jadikan bukti perjuangan. Sampah-sampah tidak boleh ada yang dintinggalkan sediktpun.

                Kami bergegas , biasanya perjalanan lebih mudah dan cepat. Diperjalan aku bersama pak RT, bercerita banyak tentang kampung merabu. Saya sangat tertarik. Pertanyaan saya begitu banyak untuk beliau. Macam peluru yang melesat dari batang pistol yang mengenai tubuh Pak Rt, heheheh....

                Sudah sampai di Nyadeng,kami ganti baju. Tidak membuang-buang waktu. Kami langsung loncat di air. Orang-orang biasa menyebutnya ini adalah "danau", tapi tenyata ini bukan danau. Ini adalah hulu atau sumber mata air yang mengalir deras dan jernih ke sungai besar (Sungai Lesan).

                Setelah berlama-lama di air. Sudah mulai tertusuk dingin. selanjutnya persiapan untuk pengisian perut.

                Sebelum dhur, kami harus bergerak ke dermaga. Sesuai dengan perjanjian kemarin. Kami dijemput pukul 02. Siang. Setelah menunggu 5 menit. Keteting sudah kedegaran dari kejauhan. Naik ketinting lagi yang bikin kami was-was. Semacam film-film action Thailan.

                Kali ini sudah tidak terlalu heroik, arus derasnya Sungai Lesan tidak perlu dilawan lagi. cukup diikuti. Mesin ketinting macet tetap bisa jalan, yang penting tidak terbalik. Aman terkendali, dalam hatiku berusaha menangkan diri masing-masing.

                Tidak lama kami sudah mendekat di dermaga kampung, anak-anak laki-laki maupun perempuan sedang asyik mandi di hilir sungai. Potret yang langka. Teringat waktu kecil dulu. Main di sungai seharian.

                Sekarang pukul 03. Siang lewat, kami sudah di kampung Merabu. Istrahat di warung. Sedang bersantai, menikmati minum. Sambil mempersiapkan peralatan, juga membeli logistik untuk di bawa ke tujuan selanjutnya.

                Kami harus bergerak lagi setelah Ashar! Persiapan usai, perlengkapan aman. Kali ini kami akan mendatangi salah satu goa yang sangat populer. Ini masuk daftar tujuan kami selanjutnya.

                Waktu istrahat sudah cukup, kami bergerak dari rumah pak RT. Perlengkapan tidak terlalu banyak lagi seperti sebelumnya, cukup membawa hammock atau matras. Mulut goa atau samping goa bisa dijadikan alternatif untuk tidur "kata pak RT".

                Tidak lama perjalanan dari kampung. Kami berpapasan warga. Sedang membawa  hewan buruannya. Seperti sedang membawa tas besar. Keempat kakinya diikat, lalu badannya digendong dibelakang. Setiap pemburu diikuti oleh beberapa anjing untuk membantunya dalam perburuan. Aktivitas alami warga.

                Ditengah perjalanan, kami istrahat. Mulai kecapean. Dibawah pohon meranti merah yang cukup besar.  Pak RT mulai bercerita sedikit, seperti inilah kehidupan disini. Hampir semua bergantung dengan alam. Ketika alam dirusak kami tidak tahu lagi harus kemana. Warga aktivitasnya sehari-hari di hutan untuk berburu atau mencari keperluan yang lain.

                Kami melanjutkan lagi perjalanan! cerita nanti bisa disambung lagi. si Guntur dan Si Fauzi sudah bergerak duluan. Kata pak Rt cukup mengikuti jalan yang bersih tidak akan kesasar, makanya dia ngebet ke depan.

                Eh.....tib-tiba mereka kembali. Dengan napas yang terengah-engah. Muka ketakukan, seperti tidak ada darah di wajahnya. Mereka bilang sedang di kejar Orang Utan. Aku tidak percanya. Mungkin cuma niatnya mengerjai. Tidak lama, kami berjalan, benar. Kami sudah melihat orang utan sedang mengamuk diatas kami. Ranting pohon sekali pegang langsung patah. Dia melempar ke aram kami, untungya tersangkut dipohon yang lain. Kami mulai panik. Ini benar-benar mengamuk, dia sudah mulai turun dari atas pohon yang tinggi. Betinanya juga mengikuti untuk turun. Saya mencari korek api, katanya takut dengan api.

                Untungnya....pak RT. Sedang menenangkan dia. Menirukan suara dia. Entah itu apa maksudnya. Yang terpenting kami tidak sampai di serang. Orang utan ini sangat buas, bisa mengalahkan beberapa orang dewasa. Bahkan senjatapun kadang tidak mempan.

                Aku, pak RT, dan Edwin paling belakang. Yang lain sudah jauh di depan. Mungkin sudah mengambil langkah seribu. Hehehe....Aku sangat penasaran, pertama kali menemukan orang utan di alam yang bebas.

                Orang utannya kembali ke atas pohon, anaknya sedang menunggu di atas. Mungkin Guntur dan Fauzi sedang membuat mereka kaget. Makanya mereka mengamuk. Tidak boleh dibuat kaget atau semacamnya, jika kebetulan bertemu, biarkan saja. Pura-pura melihatnya saja. Karena fatal akibanya jika salah "nasihat pak Rt".

Goa Beloyot

                Kami melanjutkan perjalanan, mengikuti hilir sungai. Hari sudah mulai gelap. Langkah dipercepat. Berharap tiba di tujuan selanjutnya yaitu Goa Beloyot.

               Sudah tiba ditujuan... Merapikan barang-barang dan mengahamparkan terpal. Beberapa sibuk mencari spot hammock. Aku sedang menarik tali untuk menggantung pakaian dan barang-barang.

                Tidak terasa sudah gelap. Sekarang sedang persiapan untuk memasak. Hanya tadi pagi di Danau Nyadeng mengisi perut. Hingga sekarang belum. Jelas perut mulai meronta. Aku sama Pak Rt mengobrol.

                Pak RT menjelaskan! nama Goa Beloyot itu diambil dari nama buah yang ada di sekitar goa ini. Dulu disini banyak sekali tumbuh liar. Beloyot itu sebenarnya adalah mangga, orang Dayak sini menyebutnya.

                Tiba-tiba....panggilan untuk makan malam sudah tiba. Obrolan dihentikan! Mengambil tempat. Menu makan terus spesial. Apapun itu pasti enak. Aku melihat semuanya lahap. Akupun juga begitu. Tidak ada jarak. Semuanya mencair. Apa lagi perasaan malu. Seperti keluarga sendiri.

                Makan malam usai, aku menuju ke sungai. Tidak jauh dari goa. Hanya sekitar 100 meter. Kali ini tugas saya untuk membuat kopi. Malam tidak pernah terlewatkan tanpa itu.

                Yah.. sudah jadi. Yang lain sedang menunggu. Berkesah lagi sambil ngopi.

                 Tidak terasa, mulai larut, waktunya kami istrahat. Besok akan menyusuri goa. Kami menuju tempat masing-masing. Ada yang tidur di matras. Ada yang di hammock.

                Pagi tiba...suasana alam sangat terasa. Kicauan burung yang indah. Embun masih terasa. Dingin menusuk tubuh. Terasa malas beranjak. Menikmatinya dengan sempurna.

                Segera kami begegas untuk menyusuri goa. Mulai melangkah. Jalannya sedikit sulit. Menanjak dan licin. Bekas embun yang turun. Sudah tiba di mulut goa. Kami masuk. Menyalakan senter. Sangat gelap dalam goa.

                Didalam goa ada beberapa semacam lorong, ada yang buntu dan juga ada yang tembus. Kami mengikuti arahan pak RT. Didalam goa sangat luas. Tidak lama...kami sudah tiba di tempat yang kami cari. Beberapa telapak tangan yang ditunjukkan oleh Pak RT.

                Kami sedang sibuk memotret, dan mencari beberapa telapak yang ada. Kami menemukan gambar, bukan hanya telapak tangan manusia. Namun ada beberapa gambar binatang buruang.

                Pak RT menjelaskan! Goa digunakan sebagai tempat tinggal sebelum mengenal struktur bangunan. Didiami oleh kelompok keluarga. Bekas tangan ini sudah diteliti oleh beberapa peneliti dari mencanegara. Meraka menyakini bahwa ini sudah terjadi dari ribuan tahun silam. Beberapa telapak dan gambar yang ada mempunyai makna tertentu. Beberapa peninggalan sudah dibawa keluar untuk diteliti lebih lanjut.

                Sungguh luar biasa,. Pertama kali menemukan tempat semacam ini. Sebelumnya hanya melihat lewat gambar atau media elektronik. Ini bukti nyata bahwa negeri kita mempunyai nilai histori yang tinggi, khususnya budaya yang beragam. sangat penting untuk dipelajari, diteliti dan dilestariakan.

                Waktunya kembali! Selepas dari  Goa Beloyot langsung kami bergerak. Persiapan untuk ke kampung. Tiba-tiba pak RT menggingatkan. Sebenarnya  masih ada satu goa yang bisa didatangi. Arahnya tetap ke jalan pulang. Cukup  belok kanan lalu treking sekitar 15 menit dari pertigaan. Goa tersebut tidak sepopuler Goa Beloyot namun tidak ada salahnya berkunjung kesana.

                Namanya Goa Lungun. Didalam goa tersebut terdapat tengkorak manusia yang berusia ribuan tahun, diletakkan dalam peti. Dibuat dengan alat pertukangan sederhana. Ditata sedemikian rupa. Didalam peti tersebut, mayat dilapisi dengan daun biru atu wos (daun yang biasa juga digunakan untuk penutup kepala seraung).

                Pada peti mati mayat laki-laki ada pecahan keramik, beliung (semacam kapak), dan sejenis panci, serta tikar anyaman halus dari rotan. Pada peti mayat wanita ada seikat sapu lidi dan panci yang lebih kecil  dari yang ada di peti laki-laki. Kedua peti tersbut diletakkan  berlawanan arah. Jadi dalam celah goa tersebut tidak telalu besar karena sudah ditempati peti. Lalu disisinya juarng yang menganga dalam.

                Setelah dari goa, kami kembali kepertigaan. Untuk melanjutkan perjalanan ke kampung sekitar pukul 11 siang. Kali ini perjalanan lebih dinikamati. Tidak terlalu cepat juga tidak pelan. Seharusnya memang langkahnya seperti ini, "ucapku dalam hati".

                Pukul 01 siang sudah dikampung. Kami istrahat untuk menurunkan panas dan keringat. Di rumah pak Rt sedang ramai. Ibi-ibu sedang memisahkan padi dari batangnya. Ibu Rt keluar dari dalam rumah menyambut kami. Membawa kopi hitam dalam cerek besar. Dalam hati, ini yang dari tadi saya tunggu-tunggu. Saya seruput dulu setengah gelas. Kemudian menyimpan setengahnya.

                Selanjutnya menikmati Sungai Lesan. Menuju kesana tidak jauh dari rumah pak Rt. Hanya berjalan kaki. Tidak butuh waktu lama. Saya langsung turun ke air. Celana kargo panjang tidak saya lepas. Dari kemarin aku berniat mencucinya tidak kesampaian juga. Saatnya disini, untuk mandi dan cuci peralatan.

                Kami sangat gembira, tidak kalah heboh dari anak kecil yang sedang mandi  di sekitar kami. Sungainya lebar, air mengalir jerni nan deras. Betul-betul lepas rasanya.

                Setelah puas menikmati Sungai Lesan......Waktunya kembali ke rumah pak RT. Sore ini kami akan kembali ke sanngatta.  Semua barang sudah di packing dengan baik.. Berkesah sedikit dengan warga lalu pamit . Tak lupa meminta berphoto bersama. Sebagai kenangan-kenangan pernah datang kesini. 

                Kami berangkat dari kampung sekitar pukul 03. Siang. Ada perasaan sedih akan berpisah dengan pak RT, warga, dan Kampung Merabu. Disisi lain kami merasa bangga bisa disini. Menikmti alamnya dengan sempurna. 

Sudah saatnya.......! Aku mulai menarik gas. melambaikan tangan. Mendapatkan semangat yang luar biasa. 

                Perjalanan ini tidak akan terlupakan, sangat mengesangkan. Berpetualang dan menikmati bentangan alam yang begitu indah. Dari Kab. Kutai Timur ( Sangkuliran) hingga Kab. Berau ( Mangkaliat). Seperti di negeri dongeng.

                Patut dilestarikan dan dijaga dari setiap ancaman yang ada. Anak cucu kelak perlu tahu juga menikmatinya.

                Semoga kami bisa  kembali berpetualang untuk menikmatinya. Tetap terjaga  keindahan alamnya dan tidak pernah luntur. Tersohor hingga ke mancanegara. Karena merabu adalah bagian penting dari Borneo.

SALAM LESTARI!

TETAP LESTARI!