Lusia Jahaubun
Lusia Jahaubun Writer wanna be

Karena beberapa perasaan sulit untuk diungkapkan, maka menulislah.

Selanjutnya

Tutup

Travel Pilihan

Menantang Dinginnya Dieng

14 September 2018   23:12 Diperbarui: 14 September 2018   23:27 524 1 0
Menantang Dinginnya Dieng
dokpri

Perjalanan ini kami mulai pada pukul 1 dini hari. Kami? Yup, saya dan 3 rekan lainnya meniatkan menantang dinginnya dataran tinggi Dieng. Perjalanan kami mulai dari Jogja dengan mobil rentalan yang kami ambil 2 jam sebelum perjalanan. 

Setelah semua keperluan untuk ngemil sudah kami kantongi, saatnya meluncur ke Dieng.

Perjalanan kami awali dengan basa-basi ala-ala, sampai akhirnya 2 rekan saya ketiduran dan yang tersisa hanya saya dan teman yang nyupir. Sempat kit di buat "shock" dengan kemunculan awan yang tiba-tiba menutupi jalan kami. "Allahu Akbar, Allahu Akbar, " hanya 2 kata itu yang entah kenapa secara bersamaan keluar dari mulut kita. 

"Wah gokil ya, Ki" saya berujar setelah melewati awan yang turun secara magis itu. Waktu sudah menunjukkan pukul 4 pagi, sampailah kami di Dieng bertepatan dengan adzan subuh. Sempat berpikir untuk bertayamum saja, karena suhunya sangat dingin. Tapi kami saling menguatkan untuk berwuhu.

Kejadian lucu terjadi setelah solat subuh selesai, kami berempat kemudian dengan segera mengerumuni perapia kecil yang dibuat warga setempat untuk menghangatkan badan mereka.

Selang setelah beberapa menit, kamipun bergegas menuju puncak Sikunir.  Pada pertengahan perjalanan, kedua rekan saya langsung menghentikan langkahnya dan kembali, katanya sich cape. Saya yang masih semangat menuju puncak tidak berhenti hanya karena cape. Setelah sampai di puncak, wow, amazing, Itu kata pertama yang keluar secara spontan.

Merahnya mentari pagi diselimuti centilnya awan yang kian kemari semakin mempercantik suasa sunrise kita. 

Tak terasa sudah mulai meninggi mentari di pagi itu. Saya segera bergegas untuk turun dan kedua rekan saya yang tidak melanjutkan perjalanan sudah duduk bertengger di depan meja panjang yang penuh dengan gorengan.

dokpri
dokpri
 Perjalanan kami berlanjut ke Sikidang,.

Ini adalah tempat terindah (versi saya) yang pernah saya datangi. Sekalipun tempatnya berbau belerang yang menyengat, tapi saya suka dengan pemandangan alamnya yang begitu mistik. Melihat kumpulan asap yang berhamduran keluar ke permukaan tanah adalah sesuatu yang menakjubkan. Tidak salah kami berjuang di tengah malam buta hanya untuk berkunjung ke tempat ini.

dokpri
dokpri
Saya jatuh cinta pada kunjungan pertama. Dari Sikidang yang penuh dengan asap belerang, kami  meluncur ke candi, namun sayangnya, karena sudah kecapean, akhirnya kami tidak turun dari mobil dan langsung bergegas pulang. 

Seperjalanan pulang, kami dibuat takjib dengan apa yang mata kami sanggup lihat. Begitu indah pemandangannya. Sempat beberapa kali kami berhenti hanya untuk berfoto dan mengabadikan setiap moment yang kami lewati. 

Dieng, kami pasti kembali, sedingin apapun itu.