jafar tamam
jafar tamam Pengajar dan Penulis

Supel dan Mewah

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup highlight

Keutuhan Esksistensi Jomblo

16 Januari 2016   21:19 Diperbarui: 16 Januari 2016   21:36 193 0 0

Menjadi jomblo itu mulia, hebat, dan bermartabat.

Pembaca yang budiman! Belakangan ini marak sekali digaungkan di media sosial bahwa menjadi jomblo merupakan stigma tak terampuni yang melekat pada diri seseorang. Mulai dari tulisan hingga meme bertemakan jomblo terkesan menyudutkan eksistensi jomblo. Padahal, jika dikaji secara mendalam melalui penalaran yang matang, akan kita temukan sebuah bukti yang mencengangkan, bahwa jomblo sejatinya adalah wujud eksistensi yang patut dipertahankan!

Setidaknya disini saya akan mengurai 3 hal mengapa jomblo memiliki keunggulan dibanding yang tidak jomblo (red : pacaran).
Pertama, bahwa jomblo lebih banyak memiliki waktu untuk dimanfaatkan demi pencapaian masa depan. Berbeda dengan mereka yang dimabuk asmara tanpa kejelasan yang pasti, seorang jomblo bisa tampil lebih menggairahkan soal perbendaharaan waktu. Di saat non-jomblo (read : pacaran) asyik-masyuk dengan buaian abstrak bersama kekasihnya, sang jomblo mampu mempersiapkan masa depan guna kelanggengan masa depan yang seseungguhnya, yakni menikah dan hidup tenang.


Banting tulang memapankan diri, belajar memperluas wawasan adalah langkah jitu bagi jomblo demi meraih kunci kebahagiaan. Karena dengan keduanya, kelanggengan bahtera rumah tangga kelak dipertaruhkan. Dalam hal ini, jomblo-lah peraih medalinya.
Jujur, bagi saya, membaca buku memperdalam keilmuan lebih memuaskan ketimbang berjalan dengan seorang perempuan ke suatu wisata atau tempat perbelanjaan. Nikmat memang, namun hanya sesaat. Dan saat ia tersadar, penyesalanlah yang akan didapat.

Wacana bahwa pacaran mampu mendongkrak semangat belajar ataupun berkarya itu adalah wacana yang mengandung keambiguan. Kalau hanya untuk memompa semangat belajar saja ia butuh sorakan semangat sang pacar, maka bukankah itu hanya akan menyemai jiwa kebergntungan antara satu dengan yang lainnya. Tidak mandiri. Padahal, belum tentu keduanya bisa hadir bersama pada saat yang dibutuhkan. Dan, pada saat-saat tertentu, seseorang akhirnya harus menggigit jari karena nilai pelajaran di sekolah yang ia dapati berwarna merah dikarenakan antara ia dan kekasihnya itu baru saja mengalami permasalahan yang cukup serius.

Mengapa demikian, karena hakikatnya, seorang yang pacaran mereka semangat belajar hanya saat ada pacarnya, dan itu tak lebih dari sekadar semangat yang hangat-hangat di depan, namun hambar di belakang. Ia bekerja karena ingin dilihat. Ia beraktivitas karena ingin diperhatikan. Namun permasalahannya, mampukah antar keduanya mempertahankan hal tersebut. Mampukah seseorang tak lelah memperhatikan pacarnya padahal masih banyak hal lain yang butuh difokusi. Fokus dan perhatiannya pun terbelah. Saat-saat seperti itu-lah pacaran malah hanya akan menelurkan kegalauan yang beranak pinak melahirkan kegalauan yang lain.

Pacaran, berdasarkan hasil wawancara saya dengan sosok yang telah melanglangbuana dalam dunia pacaran namun diakhiri dengan penyesalan, “Seorang yang pacaran mudah cemburu, yang kemudian hal tersebut diiringi dengan kegalauan.” Tatkala ada seorang perempuan lain mendekat, maka hatinya menggelegak.iri. Lalu galau.

Kedua, bahwa jomblo mampu lebih hemat mengatur siklus keuangan. Demi menyunggingkan senyum kekasihnya, seorang yang aktif berpacaran tak jarang rela merogoh kocek dalam dompetnya. Baik dalam keadaan lapang dada, atau sering kali malah sering diirngi dengan terpaksa, sang pacar membelikan ini dan itu untuk kekasihnya.

Kemudian lahir sebuah apologi, bahwa hal demikian, bagi orang pacaran, terkadang dilakukan secara bergantian, jadi tidak ada kesan membertakan, dan penuh dengan pengorbanan. Maka rasa getir tak mengiri perjalanan pacaran mereka.

Sama saja. Memang, pada awalnya akan dilakukan dengan sukarela antar pasangan, namun, suatu saat mereka berpisah, atau keduanya tak lagi menyapa, kenyataan seperti itu akan membuat sesak dada. Ia merugi karena sosok yang ia beri perjuangkan tidak lantas menjadi pendamping hidupnya yang abadi. Jomblo terbebas dari belenggu keduanya.

Pula, bagaimanapun jua, meski keduanya bergantian soal merogoh kocek, seiring berjalannya waktu, keduanya sama-sama bakal mengeluarkan biaya. Mending kalau sudah bisa bekerja mencari uang sendiri, lah kalo masih bergantung pada orang tua. Makin nestapa saja suasana.

Ketiga, bahwa seorang jomblo, berkat perjuangannya yang gigih, saat serius menapaki gerbang pernikahan nanti, ia akan berhadapan dengan kekasih sejatinya, sedang ia dalam keadaan prima. Makna prima biar pembaca yang menterjemahkannya. Disebut prima dan menyegarkan, karena ia telah mempersembahkan demi kekasih sejati yang dinantikannya dengan persiapan yang matang dan sarat nilai perjuangan!

Dengan tekad bulat yang dilestarikannya, ia kukuh menahan hati, mesti harus berdarah-darah, demi teman hidupnya yang sejati kelak. Buat istri yang akan menemaninya sepanjang hidup itulah gelora cinta sucinya dipersembahkan.

Demikian uraian tentang fadhilah-fadhilah jomblo. Jomblo yang dimaksud disini adalah mereka yang setia menjomblo hingga halal demi menjaga martabat dirinya, bukan karena ia dicampakkan oleh berbagai wanita yang ia damba, namun ternyata baginya cinta bertepuk sebelah tangan, lalu kemudian, demi alasan tertentu, ia mengaku-ngaku jomblo. Jomblo disini tidak bermakna demikian.

Pacaran bisa saja bermakna melecehkan perempuan. Karena hakikatnya ia telah menjajakan hal yang tak bisa dipertanggungjawabkan. Siapa yang mampu menjamin bahwa ia akan menikahi siapa yang dipacari. Pasalnya, begitu banyak sepasang kekasih, yang sudah bersama mempuk cinta, memperjuangkan satu sama lain, namun pada akhirnya, keduanya berbeda haluan dalam jenjang yang lebih serius, Menikah.

Lelaki sejati berusaha menjauhi hal tersebut. Sebagaimana Jauhar al-Zanki berkata dalam bukunya “Berani Mencintai, Bernyali Menikahi",


"Lelaki sejati tak royal obral janji.
Saat cinta suci terbersit dalam hati
Siapkan diri segera menikahi
Aapakah engkau berani?"


Semoga Mencerahkan!


Salam Jomblo!

[caption caption="Sumber : gambarkata.com"][/caption]
Bintaro, 25 Desember 2015