Mohon tunggu...
Iwel Sastra
Iwel Sastra Mohon Tunggu...

Komedian & Motivator (08176655874)

Selanjutnya

Tutup

Humor Pilihan

Presiden Indonesia Berikutnya Komedian?

23 April 2019   13:15 Diperbarui: 23 April 2019   13:39 0 7 3 Mohon Tunggu...
Presiden Indonesia Berikutnya Komedian?
dokpri

Hari ini saya menerima banyak sekali pesan berupa tautan berita tentang komedian Volodymyr Zelensky memenangkan pemilihan presiden Ukraina. Bahkan di sejumlah grup percakapan, beberapa anggota mengirimkan tautan tersebut dengan menandai akun saya. Beserta tautan tersebut ada yang menulis, "Siap-siap untuk tahun 2024 Mas Iwel." Saya membalas semua tautan tersebut dengan emoji tertawa.

Saya yakin beberapa teman menghubungkan kemenangan Volodymyr Zelensky dengan saya karena profesi saya memang komedian. Di samping itu, saya juga sangat dekat dengan dunia politik karena saya merupakan salah satu komedian politik di Indonesia yang sering membawakan isu-isu politik dalam lawakan saya. Selain itu, nama saya mulai dikenal luas oleh masyarakat Indonesia sejak tampil dalam program televisi parodi politik Republik Mimpi dan Democrazy yang pernah tayang bertahun-tahun di sebuah televisi swasta.

Di Indonesia sebenarnya komedian sudah dekat dengan politik sejak lama. Semasa orde baru, pelawak Eddy Sud yang pernah bergabung dengan kwartet jaya bersama Ateng, Iskak dan Bing Slamet menjadi anggota DPR melalui Golongan Karya (Golkar). Tahun 1992 melalui Partai Demokrasi Indonesia Djati Kusumo yang merupakan anggota grup lawak Kwartet S terpilih menjadi anggota DPR.

Pada masa orde baru ada juga beberapa pelawak yang bersinggungan dengan politik yang kemudian ruang gerak mereka dalam berkarir dipersempit bahkan ditutup. Di antaranya adalah Mat Solar yang ketika ketahuan ikut kampanye untuk Partai Persatuan Pembangunan kesempatannya untuk tampil di televisi dipersulit. Harry De Fretes yang tengah berjaya melalui Lenong Rumpi akhirnya harus merelakan programnya dihentikan karena ikut kampanye Partai Demokrasi Indonesia.

Namun ada juga pelawak yang masih bisa berselancar di ranah politik dengan melakukan kritik-kritik sosial di masa pemerintahan Soeharto. Di antaranya adalah Warkop DKI dan grup lawak Bagito. Lawakan Warkop DKI di radio dan panggung sangat bertolak belakang dengan lawakan mereka di film. Di radio dan panggung mereka memainkan materi lawakan verbal yang menyerempet kepada kritik sosial. Sementara di film, mereka lebih banyak mengandalkan adegan slapstick.

Di era reformasi, beberapa orang pelawak yang terjun ke politik praktis berhasil menjadi anggota DPR. Beberapa di antaranya adalah Komar, Dedi Gumelar dan Eko Patrio. Di jalur Dewan Perwakilan Daerah ada pelawak Oni yang berhasil terpilih sebagai anggota DPD perwakilan Jawa Barat. Oni pernah bergabung dengan grup lawak SOS bersama Ogi dan Sule.

Namun kisah-kisah sukses komedian yang berhasil menjadi anggota legislatif belum diikuti dengan kisah-kisah sukses ketika mereka ikut berkompetisi di pilkada. Dedi Gumelar pernah maju sebagai calon wakil Bupati Karawang dan Calon Walikota Tangerang. Namun ia belum berhasil menang. Komar juga gagal terpilih ketika maju sebagai calon Bupati Indramayu dan Calon Wakil Bupati Cirebon. Kegagalan dalam pilkada juga dialami komedian Andre Taulany ketika maju sebagai calon wakil walikota Tangerang Selatan.

Apakah akan ada komedian Indonesia yang mengikuti jejak Volodymyr Zelensky menjadi Presiden? Menurut saya, peluang itu sangat terbuka karena dalam politik modern saat ini selebriti termasuk di dalamnya komedian masih menjadi salah satu andalan partai politik untuk memperoleh suara. Meskipun di Indonesia belum pernah ada pelawak yang jadi presiden, tetapi Indonesia pernah punya presiden yang suka melawak, yaitu Gus Dur, he he he.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x