Mohon tunggu...
I WayanRudiarta
I WayanRudiarta Mohon Tunggu... Dosen - Belajar untuk tahu

Penulis pemula

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Agama, Tradisi, dan Budaya (Nyepi di Tengah Badai Covid-19)

22 Maret 2020   16:27 Diperbarui: 24 Maret 2020   23:17 1299
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Nyepi di Bali. (sumber: kompas.com)

Merujuk pada bentuk dasar yang pertama, pemisahan antara antara "yang suci" dan "yang profane". Ini berarti dalam beragama, kita harus mampu membedakan mana yang suci "Sacred" yang keberadaan/pelaksanaan wajib dalam beragama dan mana yang sifatnya hiburan "Profan", sehingga tidak bias dalam pelaksanaan kehidupan beragama. 

Beragama adalah perihal sesuatu yang "sacred" jadi keberadaan yang "profan" itu sifatnya tidak wajib. Sama dengan perayaan Nyepi, tawur agung, caru, dan lainnya adalah "sacred" ini tidak bisa ditunda di hari lain, tetapi keberadaan ogoh-ogoh adalah "profan" tidak wajib adanya, dan bisa ditunda di hari lain.

Nyepi di Tengah Badai Covid-19

Ada yang berbeda dengan perayaan Nyepi tahun 2020 ini. Nyepi jatuh pada tanggal 25 Maret 2020 dan Pengrupukan pada tanggal 24 Maret 2020 dirayakan tepat di tengah badai Covid-19. 

Pandemi Global yang sudah mewabah ke sebagian besar belahan dunia ini menjadi sesuatu yang mengerikan bagi kehidupan global. Kesehatan adalah asset yang utama, ya benar sekali. Olehnya, sebagai antisipasi penularan virus yang begitu cepat pemerintah menghimbau agar seluruh masyarakat mengurangi aktivitas yang melibatkan banyak orang.

Hal ini berdampak pada Parade Ogoh-Ogoh yang biasa dilaksanakan oleh sebagian besar umat hindu Bali. Banyak ogoh-ogoh sudah selesai dibuat dengan menghabiskan dana jutaan rupiah. 

Tetapi dengan himbauan pemerintah agar menghindari keramaian, terlebih melalui Instruksi Gubernur Bali Nomor 267/01-B/HK/2020 tentang Pelaksanaan Rangkaian Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1942 di Bali pada instruksi point Kedua yang berbunyi "Tidak Melaksanakan Pengarakan Ogoh-Ogoh, dalam bentuk apapun dan dimanapun" menimbulkan pro dan kontra di masyarakat.

 Satu sisi masyarakat setuju, guna mengurangi resiko penyebaran Virus Corona. Di sisi lain mereka kecewa ogoh-ogoh yang sudah digarap dan siap diarak justru hanya akan menjadi pajangan belaka. 

Berbagai wujud ekspresi ketidakpuasanpun muncul. Menanggapi hal ini, saya kembali ke konsep awal terkait Agama, Budaya dan Tradisi. Ogoh-ogoh ini adalah tradisi yang tentunya bisa dilakukan lagi tahun depan. Sekarang marilah kita ikuti instruksi gubernur untuk kebaikan kita bersama. Bukankah kesehatan adalah asset yang utama?

Terkait dengan tradisi, dalam film Serial Mahabharata ada percakapan yang cukup menggelitik antara Krishna dan Bhisma, yang isinya begini, "Tradisi itu sama dengan buah manga Bhisma. Ketika mereka muncul rasanya pahit sekali, tak lama kemudian rasa meraka akan asam. Hanya mereka yang suka asam yang bisa menerimanya dengan baik. 

Dan setelah beberapa waktu kemudian, rasanyapun berubah jadi manis. Mereka menjadi makanan kesukaan banyak orang. Tetapi setelah beberapa waktu kemudian mereka berubah menjadi busuk. Merekapun menjadi sangat mengganggu. Orang yang memakannyapun bisa sakit, dan akhirnya yang tersisa hanyalah bagian kering dari bijinya".

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun