Mohon tunggu...
I WayanRudiarta
I WayanRudiarta Mohon Tunggu... Dosen - Belajar untuk tahu

Penulis pemula

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Agama, Tradisi, dan Budaya (Nyepi di Tengah Badai Covid-19)

22 Maret 2020   16:27 Diperbarui: 24 Maret 2020   23:17 1299
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Nyepi di Bali. (sumber: kompas.com)

Pada hakikatnya tujuan beragama dalam hindu adalah mencapai kemanunggalan dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Moksa;  yang berarti bebas, lepas). Untuk mecapai hal tersebut, dalam ajaran Hindu disebutkan ada empat cara yang bisa ditempuh, yang dikenal dengan Catur Marga Yoga. 

Catur Marga Yoga adalah  empat jalan atau cara umat Hindu untuk menghormati dan menuju ke jalan Tuhan Yang Maha Esa atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Keempat jalan itu adalah Bhakti Marga Yoga, Karma Marga Yoga, Jnana Marga Yoga, dan Raja Marga Yoga. 

Beragama dalam Hindu tidak melulu dilakukan dengan jalan bhakti/sembahyang (Bhakti Marga Yoga), tetapi juga bisa dilakukan dengan bekerja dengan sungguh-sungguh, terlebih melakukan pelayanan baik pada sesama umat maupun kepada Tuhan sebagai realisasi konsep ngayah (Karma Marga Yoga). 

Kemudian bisa pula dilakukan dengan berbagi pengetahuan secara sungguh-sungguh untuk mencerdaskan para generasi penerus (Jnana Marga Yoga), dan jalan tertinggi adalah dengan menerapkan disiplin Tapa Brata Yoga Semadhi (Raja Marga Yoga).

Kembali pada pemikiran, bahwa beragama dalam Hindu tidak hanya direalisasikan melalui sembahyang (beryadnya). Hal ini membuat keberadaan budaya memiliki tempat tersendiri dalam pelaksanaan kehidupan beragama Hindu. Dalam agama Hindu, terlebih Hindu yang berkembang di Bali keberadaan budaya begitu kental adanya. 

Sulit untuk menemukan kehidupan beragama orang Hindu Bali yang tidak diinternalisasi dengan nilai budaya. Setiap perayaan hari besar keagamaan selalu menonjolkan budaya. Hal ini tentunya sejalan dengan 7 unsur kebudayaan yang dikemukakan Koentjaraningat (Bahasa, Sistem Pengetahuan, 

Sistem Kemasyarakatan atau Organisasi Sosial, Sistem Peralatan Hidup dan Teknologi, Sistem Mata Pencaharian Hidup, Sistem Religi , dan Kesenian) terkhusus pada unsur sistem religi.

Sistem religi ini terinternalisasi dalam tradisi yang tumbuh dan berkembang di berbagai daerah. Tradisi yang dilaksanakan secara turun temurun bahkan oleh oknum tertentu dipandang sebagai satu kesatuan dengan kehidupan beragama. Padahal sesungguhnya tradisi itu menunjang eksistensi budaya masyarakat dan sebagai perekat kehidupan sosial masyarakat. 

Tradisi kebanyakan bersifat tradisional, artinya banyak filosofi yang terkandung dari pelaksanaan suatu tradisi, bukan karena agama yang mengharuskan itu, tetapi kesepakatan dan nilai historis tertentu dari suatu daerah.  Terlebih era modern ini, banyak pihak yang selalu berbicara melestarikan tradisi, tetapi tidak mengetahui esensi dasar pelaksanaan tradisi tersebut. 

Olehnya, saya memandang tradisi sangat perlu dilestarikan, tetapi lebih perlu dan penting untuk mengetahui esensi dan nilai filosofis pelaksanannya. Tidak cukup dengan jawaban "mula keto (Memang begitu)".

Agama, Budaya, dan Tradisi dalam Perayaan Nyepi

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun