Mohon tunggu...
Iwan Nugroho
Iwan Nugroho Mohon Tunggu... Dosen - Ingin berbagi manfaat

Memulai dari hal kecil atau ringan, mengajar di Universitas Widyagama Malang. http://widyagama.ac.id/iwan-nugroho/

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan Pilihan

Biden: Simbol Kemenangan Moral

8 November 2020   22:31 Diperbarui: 8 November 2020   22:42 167 10 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Biden: Simbol Kemenangan Moral
Sumber https://www.nytimes.com/

Pemilu di AS sudah memberikan hasil, Joe Biden terpilih menjadi presiden Amerika ke  46.  Usai sudah drama pemilu AS yang dianggap paling heboh, yang menyedot perhatian seluruh dunia.  Semua orang ikut larut, sibuk memberi komentar perihal  suksesi kepemimpinan negara adidaya itu.  Ada juga yang menyebut pemilu AS ini rasa Indonesia, karena sengitnya pertarungan antar calon dan pendukungnya.

Analisis bermunculan perihal pemilu AS.  Mengapa? Karena amat jarang incumbent kalah.  Trump menjadi presidan ke empat yang gagal di periode keduanya di jaman modern (sejak tahun 30an).  Analisis banyak berkenaan dengan gagalnya Trump dan kepemimpinannya.

Mengapa gagal? Banyak faktor yang mempengaruhi. 

Naiknya Trump menjadi presiden tahun 2017 merupakan kejutan.  Ia bukanlah orang politik, namun mampu menarik perhatian pemilih karena keberaniannya, jagoan, agresivitas, dan membangkitkan kebanggaan warga Amerika.  Ia apa adanya seperti umumnya orang biasa dibanding politisi yang umumnya bijak berdiplomasi.  Tampilan nya suka ceplas ceplos, agresif dan menjanjikan suasana baru sehingga diterima pemilih tentang harapan Amerika yang baru dan maju.

Saat menjadi presiden, keberanian Trump makin nampak.  Kata-katanya sangat tajam saat temu pers dan pernah mengusir wartawan.  Ia biasa menyampaikan kata kasar atau rasis dalam menanggapi kritik atau tekanan kepada dirinya.  Trump juga menyerang Cina dan WHO dalam kasus penanganan pandemi COVID.   Kebijakan tembok perbatasan Mexico terealisasi meski kontroversi.  Perilaku kasar Trump sangat melukai, menghina dan telah melanggar norma kepresidenan.  Ini yang membuat kecewa dan menyinggung perasaan banyak orang

Analis politik menyatakan bahwa Donald Trump memenangkan kursi kepresidenan pada tahun 2017 karena orang bisa menerima pelanggaran norma yang biasa ia lakukan.  Namun, ia kalah kursi kepresidenan pada tahun 2020 karena orang tidak bisa menerima pelanggaran norma oleh presidennya (1).  Kelemahan perilaku Presiden Trump tersebut begitu menyolok meski kebijakannya dianggap menunjukkan kekuatan.

Kalau Trump tampil bak seorang jagoan yang agresif, tampilan Jo Biden biasa saja.  Ia seperti halnya kakek, ayah atau teman bagi orang-orang terdekat dan koleganya.  Joe Biden lebih mengandalkan pengalamannya sebagai politisi senior.  Ia seorang yang rendah hati, bisa bekerjasama mendampingi Barack Obama sebagai wakil presiden selama dua kali masa jabatan.  Ia menjadi sahabat Obama yang usianya hampir 20 tahun lebih muda.  Ia mengalah dan mendukung Hillary Clinton saat bertarung dengan Donald Trump pada pemilu presiden tahun 2016.

Saat mencalonkan presiden dua tahun yang lalu, motivasi Biden sangat sederhana.  Ia menyadari sudah sangat tua.   Ia maju lebih karena kewajiban moral, ia ingin mengembalikan nilai-nilai jiwa dan moral negaranya (soul of the country) (2).

Pengalaman presiden Donald Trump dapat menjadi pelajaran banyak hal dalam kehidupan terutama kepemimpinan.  Kepemimpinan lahir karena kekuatan atau pengaruh dari seseorang  yang bersumber dari tiga sifat, yakni  empathy (peduli, memihak), self-awareness (sadar diri), dan objectivity in dealing with others (obyektif).  Siapapun orang, terlebih seorang pemimpin, ketika egonya naik, agresif atau reaktif, maka ia sedang kehilangan tiga sifat tersebut.  Tanpa hal tersebut, nilai moral kepemimpinan dan organisasi sedang dipertanyakan.

Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN