Mohon tunggu...
Iwan Nugroho
Iwan Nugroho Mohon Tunggu... Ingin berbagi manfaat

Memulai dari hal kecil atau ringan, mengajar di Universitas Widyagama Malang. http://widyagama.ac.id/iwan-nugroho/

Selanjutnya

Tutup

Wisata Artikel Utama

Coban Selolapis, Air Terjun Unik di Jombang

4 Februari 2017   23:22 Diperbarui: 5 Februari 2017   07:58 5325 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Coban Selolapis, Air Terjun Unik di Jombang
Coban Selolapis (koleksi pribadi)

Kecamatan Wonosalam adalah wilayah pegunungan di Kabupaten Jombang. Wonosalam bersuhu sejuk seperti halnya kota Batu di Malang. Potensi wisatanya sangat besar, baik dari alam maupun agrowisatanya. Obyek wisata menyebar di seluruh wilayah. Pengembangan wisata Wonosalam belum lama berkembang, sehingga masih perlu banyak pembenahan.

Bagi pembaca yang suka petualangan alam, Coban Selolapis bisa jadi obyek wisata pilihan untuk dikunjungi. Coban bermakna air terjun. Coban Selolapis berada pada aliran sungai hulu pada lereng gunung Anjasmoro. Coban Selolapis masuk dalam wilayah Kecamatan Wonosalam, pada koordinat -7.682434, 112.417479. 

peta lokasi (googlemap)
peta lokasi (googlemap)
Untuk menuju Coban Selolapis, pengunjung dapat memilih arah dari Surabaya, Kediri, atau Malang. Dari Surabaya rute yang nyaman melalui Jombang, kemudian ke Wonosalam. Dari Malang atau Kediri pengunjung sebaiknya memilih rute melalui Kandangan ke Wonosalam. Dari Wonosalam, pengunjung memilih rute ke arah Pacet sejauh sekitar 10 km, menuju ke Coban Selolapis. 

Dari jalan raya Wonosalam – Pacet, petunjuk menuju air terjun cukup jelas, dengan jalanan pedesaan beraspal dan makadam, atau tanah. Lingkungan pedesaan dipenuhi tanaman kebun campuran, terdiri durian, cengkeh, kakao, kopi, pete, alpukat, kemiri, jengkol dan pala. Lokasi air terjun berada dalam hutan dalam pengelolaan Perhutani. Pengelolaan wisata Coban Selolapis dilakukan oleh kelompok masyarakat (SEDOV,Self Development and Motivation-SEDOV) bekerjasama dengan Perhutani. 

Hutan Coban Selolapis (koleksi pribadi)
Hutan Coban Selolapis (koleksi pribadi)
Jangan dibayangkan prasarana wisatanya lengkap atau jadi. Wisata alam ini benar-benar masih alami dan sederhana, baik prasarana atau fasilitasnya. Namun justru ini tantangannya. Pemandangan bukit dan lembah sangat indah, dengan tutupan vegetasi hutan yang lebat.  Saat kami berlima berkunjung kemarin (2/2/2017), bekas hujan membuat jalanan licin. Ini menyulitkan mobil hingga masuk lokasi parkir.

petunjuk arah (koleksi pribadi)
petunjuk arah (koleksi pribadi)
Dari lokasi parkir hingga Coban Selolapis, berjarak hanya 750 m. Jalanan menurun sangat tajam, selebar 1 hingga 2 m. Oleh pengelola, jalan yang curam telah dibentuk seperti tangga diperkuat bambu. Saya harus berhati-hati karena jalanan licin, tanah mudah luruh oleh hentakan kaki, bambu-bambu nampak rapuh, berada di tepi jurang. Diperlukan waktu sekitar 20 menit agar sampai di air terjun.

Menyusuri sungai ke Coban Selolapis (koleksi pribadi)
Menyusuri sungai ke Coban Selolapis (koleksi pribadi)
Mendekati air terjun, kelembaban air meningkat. Embun dan air seolah memenuhi udara sepanjang sungai yang kami lewati, menciptakan nuansa gelap dan basah pada daun, ranting dan pohon. Suasananya sepi, hanya kami saja yang berpetualang disini, karena pas kebetulan hari kerja. Kata pemandu, bernama Kiki, pengunjung ramai hanya di hari libur atau akhir pekan.

selolapis4-5895fb476223bdb905c26a7c.jpg
selolapis4-5895fb476223bdb905c26a7c.jpg
Coban Selolapis (koleksi pribadi)
Coban Selolapis (koleksi pribadi)
Begitu tiba di air terjun, suara dari derasnya air seolah menggema. Ruang atau luas area air terjun tidak lebih 100 meter persegi, memang tidak besar sehingga menciptakan gema suara. Yang unik adalah ada dua air terjun, yakni dari tebing setinggi 8 - 10 meter dengan arus sangat deras; dan dari tebing batuan setinggi 5 meter dengan arus lembut memancar. Jadi ada dua air terjun pada lokasi yang berdekatan. Setelah saya mencermati peta, kiranya ini berasal dua sungai, sungai utama dengan arus yang deras, dan anak sungai dengan arus yang lembut melewati batu. Dua sungai ini kemudian menyatu hingga ke hilir melewati kota Mojokerto bermuara ke sungai Brantas.

Nama Selolapis, berasal dari selo atau batu, dan lapis bermakna berlapis. Ini merujuk kepada air terjun kedua yang mengalir dari tebing batu. Tebing itu nampak seperti susunan batu berlapis-lapis. Batuan berlapis atau tepatnya batuan yang berstrata, berbentuk pipih lebar, banyak ditemukan di sekitar air terjun. Membuka ingatan saat kuliah Geomorfologi tiga puluh tahun yang lalu; batuan ini dari morfologinya seperti batuan metamorfosis; dan dari tekstur dan warnanya seperti batuan beku.

Pepohonan Coban Selolapis (koleksi pribadi)
Pepohonan Coban Selolapis (koleksi pribadi)
Tidak terbayangkan sebelumnya bisa hadir di Coban Selolapis. Padahal setengah jam sebelumnya saya sempat ragu untuk turun ke lembah ini. Maklum fisik ini sudah berumur lebih setengah abad. Hanya kata syukur terucap atas kesempatan menikmati alam yang indah dan unik ini. Kami berfoto untuk mendokumentasikan sejarah hidup kami ini. Tidak lebih dua puluh menit di air terjun, kami kemudian naik meninggalkan Coban Selolapis. Cuaca nampak gelap oleh mendung. Biasanya volume air terjun meningkat di saat hujan dan bisa membahayakan pengunjung wisata.

Perjalanan naik dari lembah air terjun membutuhkan tenaga lebih besar. Langkah dan hentakan kaki terasa berat menyangga tubuh. Kami beberapa kali istirahat untuk memulihkan stamina sambil menikmati pemandangan alam Anjasmoro, baik dari ragam flora maupun suara satwa burung khas pegunungan.

Sajian Teh Basil (koleksi pribadi)
Sajian Teh Basil (koleksi pribadi)
Di dekat lokasi parkir, ditemukan beberapa warung sederhana menjual makanan dan minuman. Di sini tersedia minuman unik dan khas, yakni teh basil. Menurut Kiki (pemandu wisata), basil adalah tanaman lokal yang tumbuh liar di hutan atau pekarangan penduduk. Pucuk daun basil ini direbus dan dihidangkan seperti teh. Rasanya mengandung campuran antara daun kemangi dan cengkeh. Nikmat dan menghangatkan badan.

Malang, 4 Februari 2017

Penulis buku  

  1. Iwan Nugroho. 2011. Ekowisata dan Pembangunan Berkelanjutan. Pustaka Pelajar, Yogyakarta. 362p. ISBN 978-602-9033-31-1 
  2. Iwan Nugroho dan Rokhmin Dahuri. 2012. Pembangunan Wilayah: Perspektif ekonomi, sosial dan lingkungan. Cetakan Ulang. Diterbitkan kembali oleh LP3ES, Jakarta ISBN 979-3330-90-2
  3. Iwan Nugroho dan Purnawan D Negara. 2015. Pengembangan Desa Melalui Ekowisata, diterbitkan oleh Era Adicitra Intermedia, Solo. 281 halaman. ISBN 978-602-1680-13-

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x