Mohon tunggu...
Iwan Setiawan
Iwan Setiawan Mohon Tunggu... Guru - Menulis untuk Indonesia

Pustakawan, dan bergiat di pendidikan nonformal.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Kompor Listrik di Dapur Bi Entin

23 September 2022   13:26 Diperbarui: 24 September 2022   04:25 454
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pemerintah giat menyosialisasikan konversi kompor gas ke kompor listrik. Bertujuan menghemat anggaran negara. Kita dukung penuh langkah efisiensi ini (Foto: Shutterstock via Kompas.com)

Masyarakat luas masih diliputi perasaan asing sehingga timbul perasaan-perasaan yang majemuk. Ada yang takut kesetrum, takut listrik korslet, dan takut meteran listrik ngejepret  karena kelebihan beban.

Dalam sebuah tayangan di saluran YouTube, seorang warga mengutarakan kekhawatiran pada program konversi kompor gas ini. Ia merasa nyaman dengan kompor gas yang selama ini digunakan. Sebagai penarik ojek pangkalan dengan pendapatan tak menentu, warga Jakarta ini khawatir biaya listrik di rumahnya akan membengkak.

Keberterimaan program yang digulirkan pemerintah dengan tujuan efisiensi ini semestinya terus dikaji. Langkah sosialisasi  dengan mengusung pesan akan keamanan alat tak boleh terhenti.

Hal yang tak kalah penting adalah bagaimana meyakinkan masyarakat luas, yang menjadi sasaran program, bila pemerintah tak akan menyusahkan, atau menyulitkan mereka. Sebagai gantinya, pemerintah akan memberi banyak kemudahan.

Kompor listrik tentu berlainan dengan kompor konvensional minyak tanah atau kompor gas yang selama ini digunakan secara luas. Kompor listrik hanya menyalurkan energi panas, tidak mengeluarkan nyala api. Untuk menggunakannya perlu beberapa langkah, satu hal yang tak ditemui pada dua jenis kompor yang lain.

Sebagai misal, pengguna perlu menyetel ukuran panas dan lama waktu memasak untuk setiap jenis masakan. Ketika menumis tentu memerlukan nyala atau panas dan waktu yang berbeda dengan saat menjarang air.

Di samping itu, kompor listrik memiliki bentuk yang khas. Permukaannya datar dan rata seperti kaca. Tidak ada celah untuk tatakan pada permukaan tungkunya.

Wajan atau penggorengan dengan bentuk membulat bagian bawahnya dipastikan tidak dapat digunakan pada kompor listrik. Material logam perkakas masak pun diperlukan yang memiliki spesifikasi khusus. Panci dan wajan berbahan aluminium disebut tidak bisa dipakai. Yang bisa dipakai diantaranya perkakas masak berbahan stainless steel dan teflon.   

Sifat lentur terbatas yang dimiliki kompor listrik bila tidak disosialisasikan dengan semestinya akan menjadi sandungan. Masyarakat kalangan bawah yang menjadi sasaran utama program, tentu akan dengan mudah menolaknya. Belum banyak diantara golongan ini yang memiliki perkakas memasak yang mendukung penggunaan kompor induksi atau kompor listrik ini.

Setiap program yang digulirkan tentu akan disambut dengan respons yang beragam. Yang setuju tentu akan menerimanya tanpa alasan. Namun bagi yang tidak, seribu satu alasan akan menjadi dalil pembenar.

Masyarakat penerima manfaat program konversi tidak berada pada salah satu kubu ini. Mereka menerima program ini karena memang sudah seharusnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun