Mohon tunggu...
Ivan Yusuf Faisal
Ivan Yusuf Faisal Mohon Tunggu... pelajar/mahasiswa -

Bukan jurnalis, hanya sharing. Rijks Universitêit de Gröningen, Ned

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana

Perang Pertama Togog

8 Maret 2018   01:13 Diperbarui: 8 Maret 2018   07:53 500
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Fiksiana. Sumber ilustrasi: PEXELS/Dzenina Lukac

Ini perang pertama Togog. Nyaris saja sesaat setelah berkerling pandangan, sebuah panah api hampir menancap diperutnya. Tapi Togog jago ngindha, menghindar. Hampir saja. Di ujung jauh, terdengar teriakan yang memekikkan, kira-kira 300 meter dari telinganya. Antara yakin dan tidak, Togog terus membabat lawannya menuju sumber suara. Bendhogrowong harus menang.

"Merdeka atau moksa!" Teriak Togog sang Tejamantri.

Setelah mendekat, ternyata pekikan tadi, suara kesepiannya.

Merasa tertipu, Togog akhirnya beristirahat dan duduk di bawah pohon Kalpataru. Disulutnya rokok dari tembakau pegunungan Gohkarna, favoritnya. Damai tak terkira, luka tak dirasa.

Melintas didepannya Prabu Wisanggeni. Badannya penuh darah dan luka. Nafasnya hampir putus ditengah badan penuh debunya. Duduklah ia disebelah Togog yang nelangsa.

"Wonten menopo to kangmasTejamaya?" Ujar Wisanggeni pada Togog.

"Aku habis menjalani perang yang saya tidak tahu apa yang saya perjuangkan dan mengapa aku perjuangkan, Prabu". Jawab Togog singkat.

"Apa tadi kangmas mendengar suara pekikan dari arah sini?" Tanya Wisanggeni takdzim pada Togog, menanyakan suara yang didengar Togog sebelumnya.

"Percuma, kamu mau bawa Brahmananda-nya Dewa Brahma yang jauh lebih sakti dari pada Brahmastra, Pashupatastra, Brahmasira, Amoghashakti, Vajra, Narayanastra, Vaishnavastra, Cakraataupun Sudarshana,atau malah mungkin, Gadha Rujakpala juga ndak ada apa-apanya. Ndak akan bisa menemukan suara teriakan itu. Satu2nya cara menemukan suara itu, adalah dengan mencari kedamaian, karena suara itu, asalnya dari kesepian di kepala kita". Kalimat terakhir, turut terucap bersama hembusan rokok Togog.

"Lhoh Kangmas, njenengan kan Putra Sang Hyang Tunggal, njenengan itu dewa yang diperintah moksa di dunia bersama adik njenengan Kangmas Semar Manikmaya, hlakok bisa denger suara teriakan itu juga? Wong Dewa kok kesepian itu gimana to kangmas?" Wisanggeni bertanya heran.

Diceceknya rokok surgawi Gohkarna oleh Togog, tak lupa digaruk ketiak kanan miliknya lalu dihirup sebentar, dan bersila ala orang Tapa Moksa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun