Alfian Nawawi
Alfian Nawawi karyawan swasta

Lelaki yang menyukai hujan. Terkadang lebih memilih sunyi di antara lalu lintas ide dan peristiwa. Petani, pekerja seni, penyiar radio, penulis buku dan blogger. Tapi sampai saat ini masih belum mahir juga menulis.\r\n

Selanjutnya

Tutup

Dongeng

Sangiang Serri dan Meong Mpalo Karellae (I)

8 Oktober 2013   13:03 Diperbarui: 24 Juni 2015   06:50 302 0 0
Sangiang Serri dan Meong Mpalo Karellae (I)
1381212573863574437

[caption id="attachment_293293" align="alignright" width="299" caption="ilustrasi (image: www.exurlz.com)"][/caption] Cerita Rakyat Bulukumba, Sulawesi Selatan: "Sangiang Serri dan Meong Mpalo Karellae"

Sang Maha Pencipta dengan Kuasa dan Kehendak-Nya telah menciptakan Dunia Atas, Dunia Tengah dan Dunia Bawah. Ketiga dunia tersebut Diciptakan-Nya dengan dimensi yang berbeda-beda dengan tujuan untuk menjaga keseimbangan alam semesta.

Pada Dunia Atas,terdapat sebuah negeri bernama Kahyanganyang dipimpin olehBatara Guru atau Datu Patoto dengan permaisurinya bernama Datu Palinge. Pasanganini telah ditakdirkan mempunyai seorang putri yang diberi nama We Oddang Nriwu yang kecantikannya tidak ada bandingannya di seluruh Kahyangan.

Dari hari ke hari We Oddang Nriwu tumbuh menjadi seorang gadis yang semakin cantik. Rambutnya hitam berkilau, panjang terurai dan hampir –hampir menyentuh tanah setiap kali berjalan dengan gemulai. Wajahnya yangcantik jelita ibaratbulan purnama. Kedua bola matanya yang indah laksana bintang kejora di langit. Pandangan matanya meneduhkan hati siapa saja yang melihatnya. Alisnya bagaikan semut beriring. Tubuhnya tinggi semampai dan kulitnya putih bersih berseri. Mahkota mungil dari emas yang bersusun tiga di kepalanya laksana kilau cahaya matahari yang muncul tersenyum dari ufuk Timur. Kehalusan tutur bahasanya mempesonakan. Sikapnya senantiasar ramah dan santun terhadap siapa saja.

Kecantikan We Oddang Nriwu telah tersohor bukan hanya di seantero Kahyangan namun telah disebut-sebut telah menjadi legenda pula bagi para penghuni Dunia Tengah maupun Dunia Bawah.

Para jejaka tampan penghuni Kahyangan silih berganti mencoba merebut perhatian dari We Oddang Nriwu.Mereka rupanyatelah mabuk kepayang terhadap putri kesayangan Batara Guru. Pemuda-pemuda itu bahkan telah sampai pada tingkat persaingan untuk berusaha memiliki We Oddang Nriwu dengan berbagai cara.

Pada suatu hari di taman istanaDatu Patoto dan permaisurinya, Datu Palinge memperbincangkan perihal putri kesayangan mereka.

“Putri kita dari hari ke hari telah tumbuh semakin matang dan dewasa, adinda,” kata Datu Patoto.

“Ya, Batara Guru. Putri kita rupanya akhir-akhir ini telah banyak menawan hati para jejaka di Kahyangan. Tapi semoga ini merupakan pertanda baik dari YangMaha Kuasa,” sahut Datu Palinge dengan suara lembut.

“Semoga saja demikian adanya, dinda. Tapi justru hal itulah yang mengusik pikiranku akhir-akhir ini,” ujar Datu Patoto.

“Apakah gerangan yang mengusik pikiran Batara Guru?” Tanya Sang Permaisuri menatap mata penguasa Kahyangan itu dengan perasaan penuh kasih sayang.

Batara Guru terdiam sejenak lalu menghela napas berat.Kemudian berkata. “Putri kita telah ditakdirkan menjadipewaris keabadian, kebijaksanaan dan keseimbangan alam di Kahyangan maupun bagi segenap penghuni Dunia Tengah dan Dunia Bawah. Sesungguhnya sebelum kelahiran We Oddang Nriwu, aku telah mendapat Petunjuk dari Yang Maha Kuasa mengenai apa yang harus aku lakukan untuk menjaga keseimbangan itu melalui putri kita.”

“Jika memang seperti itu, lalu apakah gerangan Petunjuk dari Yang Maha Kuasa, Batara Guru?” Tanya Permaisuridengan perasaan yang mulai gelisah tidak menentu.

“Petunjuk itu menyiratkan bahwa putri kita sesungguhnya adalah milik untuk semua dan bukanlahmilik dari seseorang saja. Dengan demikian adalah berarti We Oddang Nriwu tidak dapat menjadi milik bagi seorang pun perjaka di Kahyangan ini. Ia harus dipersunting oleh alam semesta, dinda.”

“Dengan cara bagaimana putri kita harus dipersunting oleh alam semesta, wahai penguasa Kahyangan?”

“Aku masih memikirkan cara yang terbaik dan akan menimbangnya secara bijaksana dan seadil mungkin, permaisuriku,” kata Batara Guru dengan suara yang semakin berat.

Sementara itu di seantero Kahyangan, para penduduk negeri dengan tenang tetap menjalankan keseharian mereka seperti biasa. Segala sesuatunya berjalan secara teratur sebagaimana yang sudah-sudah. Hingga pada suatu hari keadaan teratur itu perlahan mulai berubah dan menunjukkan ketidakseimbangan. Perubahanitu perlahan mulai dirasakan oleh para penghuni Kahyangan.

Salah satu perubahan itu adalah para penghuni Kahyangan mulai merasakan bosan memakan sagu, makanan pokok di Kahyangan selama ini. Mereka mulai berkeinginan untuk merasakan makanan pokok yang berbeda dan jauh lebih lezat dibanding sagu.

Batara Guru mengetahui akan hal ini. Batara Guru kemudian mencoba meminta Petunjuk dari Yang Maha Kuasa. Dari hasil semedinya yang dilakukan selama tujuh hari tujuh malam, akhirnya Batara Guru berhasil mendapatkan ilham.

Berdasarkan ilham tersebut, kemudian Batara Guru mengeluarkan pengumuman kepada seluruh penghuni Kahyangan. Pengumuman itu antara lain memberitahu penghuni Kahyangan bahwa Batara Guru akan menciptakan sebuah jenis makanan lezat yang tiada taranya sebagai pengganti sagu.Para penghuni Kahyangan menyambut gembira pengumuman itu.

Di hadapan para penghuni Kahyangan, Batara Guru bersabda penuh wibawa, “Wahai rakyatku. Aku telah memutuskan untuk mengganti sagu dengan jenis makanan yangrasanya jauh lebih lezat tiada tara. Semoga kebijakan ini dapat diterima dan tidak dapat diganggu gugat oleh siapapun manakala kebijakan ini telah berlaku!”

Seluruh penghuni Kahyangan bersorak gembira gegap gempita sebagai tanda setuju dengan kebijakan Batara Guru.

“Hidup Batara Guru! Hidup Batara Guru! Hidup Batara Guru!!” teriak mereka saling bersahutan.

“Perlukalian ketahui bahwa makanan yang jenisnya sama sekali baru ini bukan hanya dapat dinikmati oleh penduduk Kahyangan namun juga dapat dinikmati oleh seluruh manusia penghuni Dunia Tengah maupun Dunia Bawah!”

Seluruh penghuni Kahyangan penuh takzim menyimak setiap kalimat yang keluar dari mulut Batara Guru.

Kemudian Batara Gurumelanjutkan sabdanya,”Kebijakan pertama adalah menurunkan putriku, We Oddang Nriwu ke Dunia Tengah di atas permukaan bumi. Keputusan ini berdasarkan ilham yang telah aku terima dalam semedi. Aku akan menurunkan raga putriku ke bumi namun jiwanya tetap abadi bersemayam dalam istananya di Kahyangan. Adapun kebijakan kedua berlaku setelah kebijakan pertama telah dilaksanakan yaitu memunculkan jenis makanan lezat yang kalian dambakan. Demikian titah ini telah aku sampaikan dan semoga dapat menjaga keseimbangan alam semesta sesuai aturan yang telah Digariskan oleh Sang Maha Pencipta.”(Bersambung)