Mohon tunggu...
Muhammad Ivan
Muhammad Ivan Mohon Tunggu... PNS di Kemenko PMK

Sebagai abdi negara, menulis menjadi aktivitas yang membantu saya menajamkan analisa kebijakan publik. Saya bukan penulis, saya hanya berusaha menyebarkan perspektif saya tentang sesuatu hal.

Selanjutnya

Tutup

Tekno Artikel Utama

Superioritas Zaman: Memahami Literasi Digital ala Gen Z

15 Oktober 2017   12:09 Diperbarui: 16 Oktober 2017   02:54 3989 13 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Superioritas Zaman: Memahami Literasi Digital ala Gen Z
Ilustrasi: thinkstockphotos

"The first six years of education are not about academic success. . .

It's about being ready to learn and finding your passion."

(Pasi Sahlberg, Finnish Educator)

Sebagaimana disebutkan Pasi Sahlberg, bahwa 6 tahun pertama (sekolah dasar) dalam dunia pendidikan adalah bukan sukses di bidang akademik. Menurutnya, yang paling penting, yakni siap belajar dan menemukan passion. Sebagaimana membaca, prosesnya tergantung bukan pada kemampuan membaca teks, namun bagaimana memahami konteksnya dan ide antar kalimat, paragraf, hingga mampu menemukan simpulan.

Perubahan sosial budaya yang begitu cepat dalam teknologi memberi aksesibilitas informasi yang lebih baik terkhusus mereka yang lahir di zaman millenial. Mereka dikenal dengan native digital (Marc Prensky [2001a, 2001b]) atau generasi net, yang lahir setelah tahun 1990, yang baru saja masuk universitas dan dunia kerja yang akan mentransformasi dunia yang kita kenal ini, termasuk dunia pendidikan.

Dalam dunia persekolahan, suasana pembelajaran pun akan berubah. Guru tidak lagi dapat menganggap dirinya sebagai center of learning and teaching, yang ke-aku-annya akan mulai terdestruksi karena gaya belajar siswa yang sudah mulai berubah. Tapscott berargumentasi bahwa model pedagogi bagi generasi net telah mengubah pendekatan fokus guru yang berlandasarkan instruksi ke model fokus siswa yang berlandaskan kolaborasi (Jones and Ramanau 2009a).

Generasi Z tidak lagi membawa buku, namun membawa buku dalam tablet atau smartphone. 90 persen waktu mereka dihabiskan unuk membuka, menutup, melihat, dan berdiskusi dengan teman-temannya secara online, termasuk menstalking (memata-matai) siapapun. Generasi ini berlawanan dengan generasi silent di tahun 40-an. 

Generasi ini menjadi jembatan antara publik dan elite. Buku-buku teks akan kehilangan pamor, dibandingkan apa yang menarik di dalam jejaring sosial dan games online. Membaca, dalam konteks Gen Z, mereka bukan hanya membaca teks, namun juga membaca secara riil time permasalahan hidup.

Membaca bukan kebutuhan

Di Indonesia, jumlah SD sekitar 148.529 sekolah dengan siswa sebanyak 25.307.472 (Dapodik, Oktober 2017). Bukankah angka ini sangat fantastis. Bukankah ini merupakan investasi yang sangat relevan dengan kebutuhan melahirkan generasi emas tahun 2045. Namun ironis, studi yang dilakukan Central Connecticut State University pada tahun 2016 menempatkan Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara perihal ketertarikan pada membaca. Dengan demikian, semakin saya memahami bahwa persoalan membaca di Indonesia, sehebat apapun disosialisasikan, dimewahkan maupun terdigitalisasi, membaca tetap akan menjadi pekerjaan yang sangat membosankan dan tidak menyenangkan. Mengapa?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x