Mohon tunggu...
Muhammad Itsbatun Najih
Muhammad Itsbatun Najih Mohon Tunggu... Aku Adalah Kamu Yang Lain

Mencoba menawarkan dan membagikan suatu hal yang dirasa 'penting'. Kalau 'tidak penting', biarkan keduanya menyampaikan kepentingannya sendiri.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Rusia, dari Komunis menjadi Islamis

8 Februari 2021   10:32 Diperbarui: 8 Februari 2021   10:39 88 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Rusia, dari Komunis menjadi Islamis
dok pribadi

Jika di sebagian negara-negara Eropa kaum muslim terkekang mengekspresikan laku keagamaannya seperti pelarangan mendirikan menara, memakai burqa, atau mengumandangkan azan,  maka hal itu tak berlaku di Rusia. Di negara bekas komunis itu, Islam justru tumbuh dengan alunan kebebasan yang benar-benar menggairahkan.

Salah besar jika sebagian pihak masih terstigmatisasi soal Rusia dengan komunisme serta ateismenya. Memang, kehidupan beragama pada masa Revolusi Bolshevik dari tahun 1917 hingga robohnya di tahun 1991, agama benar-benar dikekang bahkan hampir-hampir dimuseumkan. Revolusi Bolshevik  telah menyebabkan perkembangan Islam serta agama lainnya tersendat bahkan macet. 

Pembakaran buku-buku agama dan pemumian rumah ibadah menjadi salah satu agenda utamanya. Stigmatisasi Rusia dengan masyarakat anti-Tuhan begitu meluas dan bahkan menjadi label hingga sekarang khususnya mereka yang masih awam perihal perkembangan Rusia kontemporer. Tapi, itu dulu. Sebuah kenangan pahit yang hanya berumur satu generasi atau 74 tahun.

Melalui buku ini, kita serasa diperlihatkan kondisi perkembangan Islam Rusia pasca-Revolusi Bolshevik yang semakin bergeliat. Pun sebagai ikhtiar menginformasikan bahwa Rusia telah berganti baju. Rusia sekarang adalah Rusia yang toleran dan justru "menghidupkan" agama walau Rusia tetap menjadi negara sekuler. 

Islam serta agama lain (Kristen Ortodoks) yang menjadi mayoritas mendapat kebebasan menjalankan agamanya. Berdasarkan hitungan kasar, setidaknya 15-20 persen penduduk Rusia telah memeluk Islam. Lebih lanjut jika membandingkan dengan negara-negara lain di Eropa yang penganut muslimnya didominasi oleh kaum imigran dari Timur Tengah, angka 20 persen itu atau sekitar 25 juta jiwa merupakan etnis asli Rusia.

M. Aji Surya juga membeberkan fakta menarik perihal masuknya Islam ke wilayah Rusia yang ternyata sudah begitu lama. Mulai sahabat Nabi bernama Suraqat bin Amr memasuki wilayah Derbent tahun 22 H atas perintah Khalifah Umar bin Khattab untuk menyebarkan Islam. Jauh sebelum itu, Nabi Muhammad juga sudah pernah berkirim surat kepada penguasa Persia, Kisra Abruiz untuk memeluk Islam. 

Kekuasaan Persia kala itu telah menjangkau sampai wilayah Rusia (Dagestan). Catatan sejarah itu rupanya menghasilkan jawaban mengapa penganut Islam di Rusia adalah murni penduduk asli etnis Rusia. Bukan oleh kaum imigran Arab seperti kebanyakan di negara-negara Eropa lainnya.

Islam pertama kali masuk ke wilayah Rusia pada abad ke-7 M di daerah Dagestan kemudian menyebar ke wilayah Tatarstan. Bahkan sekarang, Ibu kota Tatarstan, Kazan, separuh penduduknya--sebesar dua juta jiwa-- telah memeluk Islam. Aji Surya menggambarkan kota ini seperti kota-kota di Indonesia: masjid bertebaran, suara azan berkumandang tanpa ragu-ragu, kopiah khas Arab mudah dijumpa. Aji Surya menyebut Kazan sebagai kota santrinya Rusia.

Di era sekarang, kehidupan muslim Rusia semakin bergairah. Kegairahan itu jelas tampak dari usaha muslim Rusia mengejar ketertinggalan dalam urusan peningkatan kehidupan beragamanya. Anak-anak muda ramai-ramai belajar Islam di universitas-universitas di Timur Tengah dan Indonesia. Berbagai kegiatan keislaman seperti Musabaqah Tilawatil Quran tingkat internasional kerap digelar. Halal Expo menjadi agenda wajib tahunan. Tak sampai berhenti di situ, animo untuk pergi berhaji dari tahun ke tahun semakin tinggi. Di tahun 2010 saja, setidaknya kuota haji Rusia sekitar 25 ribu.

Buku ini merupakan hasil kumpulan catatan seorang Aji Surya dan Fransminggi Kasmara ketika bertugas sebagai diplomat di Rusia. Buku ini telah merepresentasikan dan bisa menjadi contoh ideal bagaimana Islam benar-benar berkembang dengan baik di negara bekas komunis. Jalinan antara agama dan negara walau dalam ruh sekuler tetap mampu berjalan harmonis. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN