Mohon tunggu...
Muhammad Itsbatun Najih
Muhammad Itsbatun Najih Mohon Tunggu... pekerja sosial

Mencoba menawarkan dan membagikan suatu hal yang dirasa 'penting'. Kalau 'tidak penting', biarkan keduanya menyampaikan kepentingannya sendiri.

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Pilihan

Prospek Merangkai Kata di Era Disruptif

28 Maret 2019   13:34 Diperbarui: 28 Maret 2019   13:53 0 3 0 Mohon Tunggu...
Prospek Merangkai Kata di Era Disruptif
sumber: rosda.co.id

Selamat datang di era disruptif. Era di mana disinyalir banyak profesi bakal punah. Benarkah demikian? Merampungkan buku bergenre aplikatif ini sejenak merefleksikan bahwa sejatinya tidak ada yang perlu dicemaskan berkait masa depan suatu profesi. Termasuk di antaranya penulis --di media massa, sebagai pokok bahasan buku.

Tidak sedikit media massa cetak berguguran diterpa kencangnya media daring. Profesi menulis, meliputi penulis kolom dan kalangan pewarta, rasa-rasanya kehilangan ruang eksistensi. Kita memang tidak bisa menghentikan laju teknologi dan informatika. Namun, senyatanya yang berubah atau berganti adalah murni perihal wadah. Kemenarikan zaman disruptif, justru mengamini ungkapan "mati satu, tumbuh seribu".

Satu koran gulung tikar, satu majalah berpamitan; sekaligus di saat bersamaan memunculkan wadah-wadah anyar. Selain media massa berbasis daring, para perangkai kata bisa terjun pada dunia periklanan, vlogger, blogger. Ketika banyak toko buku menutup pintu, pintu penjualan buku terbuka lebar lewat media sosial. Di Instagram, misalnya; foto buku, judul buku, nyaris tak ada yang spesial. Namun, kekuatan pemasaran buku di era disruptif  terletak pada kata-kata "promonya" yang dibuat ringkas, padat, menarik.

Bila dicermati, hampir-hampir semua sektor pekerjaan kekinian, membutuhkan keahlian menulis. Tentunya, tidak sampai pada fase sebuah tulisan ilmiah lazimnya di jurnal. Melainkan tulisan-tulisan berkandung penuh citarasa populer. Tak ayal, kini bertumbuhlah admin media sosial suatu lembaga-perusahaan, digital content, bahkan iklan digital bercorak video pun masih membutuhkan sepatah-dua patah kata yang dituntut memukau.

Buku yang berangkat dari bahan materi kuliah Menulis Populer bagi mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia ini, setidaknya menstimulus kalangan muda untuk bersiap diri menghadapi masa industri kreatif dengan keahlian tulis-menulis. Di sisi lain, kita masih perlu menyadari, tidak jarang di ruang publik penggunaan narasi teks bahasa Indonesia masih berantakan. Karena itu, bekal kecakapan menulis sesuai kaidah sekaligus menarik (populer) sangat diperlukan.

Selain berinti memberikan informasi pengetahuan serta pengalaman, tulisan populer sendiri juga mencirikan nuansa "hiburan" alias tidak kaku seperti penulisan jurnal ilmiah. Seperti halnya artikel Opini, Resensi, Feature, dan sebagainya; teknis tulisan bisa dibuat dengan ragam cara; tidak harus dimulai dengan pokok masalah seperti lazimnya pembuka suatu tulisan jurnal. Uniknya, materi tulisan populer tidak harus berasal dari fakta-fakta empiris (penelitian). Melainkan, dipersilakan berangkat dari refleksi dan pengamatan singkat/sederhana (hlm: 9).

Keunggulan utama tulisan populer dibanding tulisan ilmiah-jurnal terletak pada kuantitas sasaran pembaca. Karena disampaikan dengan bahasa non-ilmiah, tulisan populer dirasa lebih mudah dicerna dan diakses banyak pembaca lintas disiplin keilmuan. Meski tidak memperlukan analisis mendalam dan rinci, tetapi tulisan populer tetap memperhatikan alur logika dan sistematika berpikir. Nilai plus berikutnya, tulisan populer sangat bisa dipadupadankan dengan kresi bahasa sastrawi.

Atawa sebaliknya, bagi yang selama ini mengakrabi tulisan jurnal dengan diksi ilmiah, buku ini bisa menjadi panduan untuk lebih meluweskan tulisan. Sehingga, tulisan seorang pakar di sebuah jurnal bisa diubah menjadi tulisan populer. Walhasil, pembaca luas bisa lebih mudah memafhumi. Di era media sosial dan tumbunya aneka platform digital seperti sekarang, sarana menulis populer terbuka luas. Seberapa kreatif dan impresif tulisan menjadi parameter untuk kemudian viral sekaligus membuka ceruk keuntungan finansial.       

Buku ini diawali dengan definisi filosofis penulisan populer. Dibabar aneka jenis penulisan yang berorientasi pada zaman industri kreatif beserta tamsil aplikasinya. Diakhiri dengan semacam tantangan seakan mengajak pembaca untuk lekas menulis. Stigma menulis itu sulit boleh jadi bersebab kaya teori tetapi miskin praktik. Selain berikhtiar menghapus stigma tersebut, buku ini mewedarkan pesan penting bahwa pada sebuah tulisan, pantang mempersulit pembaca untuk memahami. Si penulis mesti lihai "menyederhanakan" tulisan seberat apapun tema yang diangkat; sehingga pesan tulisan berhasil tersampaikan (hlm: 2).

Data buku:

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2