Mohon tunggu...
Muhammad Itsbatun Najih
Muhammad Itsbatun Najih Mohon Tunggu... pekerja sosial

Mencoba menawarkan dan membagikan suatu hal yang dirasa 'penting'. Kalau 'tidak penting', biarkan keduanya menyampaikan kepentingannya sendiri.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Pendidikan Ekologis di Tengah Cerobong Industri

16 Juli 2018   14:14 Diperbarui: 16 Juli 2018   14:18 812 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Pendidikan Ekologis di Tengah Cerobong Industri
sumber: rosda.co.id

Membincang pendidikan lingkungan hidup (PLH) di Indonesia terkata masih dalam tahap dasar. Terutama saat diajarkan di sekolah-sekolah. Level dasar dalam artian masih sekadar pemberian pengetahuan terhadap hal-hal yang bersifat teknis macam menanam pohon. Konsekuensinya, peserta didik --sebagai pengelola lingkungan di masa depan---hanya terjejalkan aspek kognitif; seputar pengetahuan menjadikan lingkungan asri (hlm: 283).

Penulis buku berhasrat agar PLH diluaskan cakupannya. Sehingga, peserta didik diharapkan berpunya sikap kritis dan lebih memahami problem lingkungan secara holistik dan mendasar. Harapan penulis tersebut terbilang relevan mengingat pada hari ini permasalahan lingkungan cukup kompleks. 

Peserta didik kiranya tidak lagi sekadar dimafhumkan agar memilah dan membuang sampah sesuai kategorisasi yang bisa didaur ulang atau tidak. Melainkan, juga perlu dimaklumkan aspek lingkungan melalui pendekatan filsafat, budaya, ekonomi, dan politik.

Setidaknya dalam rentang seabad ini, problem lingkungan mengalami eskalasi. Tragedi Chernobyl atau tumpahan minyak di perairan laut merupakan dua kasus yang menghilirkan kerusakan lingkungan teramat parah; yang bersebab dari rangkaian kompleksitas berupa kebijakan politik terhadap nuklir, kepentingan ekonomi-bisnis, dan kebutuhan besar terhadap energi. Begitupun kala memandang bencana longsor sampah di Bandung dan suhu Kota Batu yang masyhur berudara dingin yang kini hampir sepanas Surabaya.

Contoh-contoh aktual macam itulah yang diuarkan oleh penulis. Karena itu, dengan mengambil tamsil konsep dan praktik PLH di banyak negara, penulis mensaripatikannya dan lantas memberikan semacam saran-saran implementasi PLH di Indonesia ke depannya. 

Di antaranya: perlunya PLH dijadikan pendidikan holistik terstruktur; tertulis rigid semenjak sekolah dasar hingga perguruan tinggi serta menghilangkan sikap antroposentrisme --yang menganggap manusia adalah segala pusat seraya mengabaikan lingkungan. Di samping menyorongkan idealita PLH, buku ini juga berisi panduan teknis menyusun kurikulum dan varian pengajaran berbasis PLH sebagai langkah konkret ikhtiar penyelamatan lingkungan dari ranah pendidikan.

Narasi kesadaran lingkungan dalam kurikulum Indonesia, terkata tidak sinkron dan timbul-tenggelam. Materi ajar Kimia Lingkungan dan Kimia Inti, misalnya, pernah secara baik terlembagakan sebagai suatu mata pelajaran (mapel) tersendiri pada Kurikulum 1984. Namun, sangat disayangkan, mapel tersebut lenyap tak berbekas pada Kurikulum 1994 hingga Kurikulum 2013 (hlm: 202). 

Mapel yang mewedarkan pengetahuan perihal bahaya pencemaran lingkungan itu dihilangkan. Penulis buku lantas memberikan informasi kepada pembaca bahwa, terdapat dugaan penghilangan mapel tersebut bukan tanpa alasan. 

Ada pihak yang nanti merasa terancam saat para siswa tersebut nantinya akan sadar dan mafhum perihal dampak besar sebuah industri. Kita tentu tahu perkembangan industri pada tahun-tahun itu berkembang pesat. Dan, termausk kredit poin buku ini adalah bagaimana agar pendidikan ekologis mampu berperan dan mendudukkan tempat secara proporsional terhadap keberadaan industri.

Buku ini membabar contoh-contoh aplikatif pembelajaran lingkungan hidup yang terkata relevan dan konstekstual untuk generasi siswa zaman kini. Semisal penggunaan tas kresek hitam yang biasa dijadikan pembungkus makanan. 

Pada satu sisi, sampah sudah menjadi masalah tersendiri. Dan, masalah semakin bertumpuk saat sampah berjenis plastik memerlukan waktu puluhan tahun untuk dapat diurai. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN