Iskandar Zulkarnain
Iskandar Zulkarnain profesional

coba berbagi pada sesama, pemilik blog http://www.iskandarzulkarnain.com

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Wulan Anak SMA Stella Duce Itu

19 Mei 2017   11:00 Diperbarui: 19 Mei 2017   11:13 2128 9 12
Wulan Anak SMA Stella Duce Itu
Benteng VREDEBURG (dok. Pribadi)

“Mas, Wulan mandi dulu.. yang sabar ya Mas” begitu tulis Wulan di WA ku sore itu.

“Ok, acaranya cuma sampai jam sepuluh malam lho” jawabku dengan WA dari ponselku.

“Iya, Mas. Wulan paham kok, sebelum Maghrib Wulan sudah di tekape” balas Wulan lagi.

“Ok, Mas sabar nunggu, asal pasti datang” jawabku.

Tak ada jawaban. Ponsel aku masukan kembali ke saku baju. Mungkin Wulan langsung mandi

******

Wulan adalah anak SMA Stella Duce 1. Jogya, yang kukenal melalui dunia maya. Hampir setiap aku mengupload tulisan, apakah itu di FB, Kompasiana atau di Blog pribadi, Wulan selalu memberi tanda jempol. Awalnya bisaa saja, tak ada sesuatu yang istimewa.

Bersamaan berjalannya waktu, aku mulai bergantung dan berharap. Selalu saja, setiap aku mengupload tulisan, apakah itu di FB, Kompasiana atau Blog pribadi, muncul harapan, kalo Wulan akan memberikan jempol. Jika saja tidak, maka ada sesuatu yang terasa kurang. Ada apakah? Apakah Wulan sakit? Apakah Wulan sibuk dengan tugas-tugas sekolahnya, hingga tak sempat membuka medsos atau karena kehabisan paket pulsa internetnya.

Pernah, tiga hari Wulan tak pernah memberiikan jempolnya. Aku kelimpungan sendiri. Ada apa dengan Wulan? Mungkinkah dia kehabisan paket internetnya. Untuk pertama kalinya, aku menghubungi Wulan melalui inbox FB. Aku tawarkan jika dia kekurangan paket internet untuk segera memberi tahu, agar aku dapat mengisi paket internetnya. Namun, Wulan menolak.

Pada kesempatan chatting yang lain, dia bertanya tentang buku-buku hasil karyaku yang terpampang di blog pribadiku, aku mengira, Wulan tentu ingin memiliki buku-buku tersebut. Aku menanyakan alamat rumahnya di Jogya. Aku akan kirimkan buku-buku itu gratis. Sekali lagi Wulan menolak. Tegas tidak mampu menerima gratis.

Sejak saat itu, kami sering chatting.

Aku selalu menjaga diri, untuk tidak memberi apa-apa, jika tidak ingin Wulan tersinggung atau bahkan marah.

Hubunganku dengan Wulan, murni hubungan antara seorang penulis dengan siswa SMA, antara Mas dengan adiknya. Tepatnya, antara orang tua yang berumur lebih setengah abad dengan siswa SMA.

Kalaupun mau dikatakan lebih dari itu, karena Wulan sekolah di SMA Stella Duce. Sekolah yang memiliki arti khusus dari masa laluku.

*****

“Okh… Jadi Mas tahu tentang SMA tempat Wulan sekolah?” tanya Wulan, pada kesempatam chatting yang lain.

“iya.. tahulah”. Jawabku

“akh, Wulan gak percaya?”  

“kok?”

“Tepatnya belum Mas, belum percaya, sampai  Mas kasi bukti meyakinkan”

“Gimana caranya, Mas kasi bukti untuk Wulan?”

“Coba Mas gambarkan situasi sekolah Wulan. Bagaimana.. sanggup?”

“Sanggup..” jawabku mantab’s

“Oke, mulai..”

“Janji ya, yang  Mas ceritain Stella Duce tahun 1975..”

“xixixixi… Mas curang, tahun segitu Wulan mah belum lahir”

“Jadi gak, Mas ceritanya?” desakku.

“Nggak deh… mending Wulan aja yang tanya Mas”

“Lho, kok malah kebolak… ekh. Kebalik?”

“Gpp dong… Mas mau gak?”

“Ok, silahkan tuan putri tanya Mas?”

“Sebenarnya, apa yang terjadi di tahun 1975 itu Mas?” tanya Wulan.

Entah karena, aku yang baper atau karena Wulan yang bisa ngorek-ngorek. Akhirnya, bocor juga kisah itu, kisah antara aku dan Lina.

Aku dan Lina, sama-sama satu kelas di SMP sekolah Missi, aku yang karena dianggap pintar, oleh kepala sekolah, diharapkan melanjutkan sekolah ke SMA De Brito, sedangkan orang tua menginginkan anaknya sekolah di Bandung, masuk kejuruan. Sedangkan Lina, sesuai dengan harapannya masuk SMA Stella Duce.

Perpisahan itu, tak terelakan. Hubungan kami yang awalnya masih inten dengan surat-suratan, akhirnya semakin menjauh sesuai dengan berjalannya waktu. Hingga ketika aku bertugas di luar Jawa, dari seorang teman, aku mendapat kabar kalo Lina sudah menikah.

*****  

Sore ini, Wulan si anak Stella Duce itu akan datang ke tempat acara pameran yang aku terlibat di dalamnya. Tempatnya, kebetulan di Jogya.

Wulan, siapapun dia, bagiku merupakan benang merah yang menghubungkan dengan masa laluku. Aku akan berusaha berikan buku-buku yang telah aku tulis pada Wulan. Jika Lina tak mungkin membacanya, maka ada Wulan yang akan membacanya. Tokh, mereka sama-sama anak Stella Duce, meski terpisah dengan rentang waktu yang begitu panjang. Begitu pikirku, pemikiran yang sesungguhnya absurd dan lebay. Tetapi, bukankah cerita cintaku dengan Lina, juga kisah yang penuh aroma lebay. Cinta monyet yang menjadi kenangan panjang. Jadi, apa masalahnya.

*****

Matahari sudah mulai meninggi, pukul sebelas lewat empat menit. Jogya memang semakin panas saja. Aku yang duduk di depan Benteng Vredeburg, diseberang Istana Presiden merasakan hal itu. Sudah sejak sejam lalu, aku duduk menunggu kedatangan Wulan. Semalam, Wulan mengabarkan, jika dia ingin menemuiku.

“Ada hal penting yang ingin disampaikan Mas” begitu tulis Wulan. Sebenarnya, aku sudah tawarkan, mengapa tidak melalui telepon saja. Tapi, Wulan bersikeras untuk bertemu langsung. Jika saja Wulan tetap tidak nongol hingga pukul 14 siang nanti. Maka, aku akan pergi, karena Bus yang akan membawaku ke Jakarta, akan berangkat pukul 14.30 siang. Masih ada waktu tiga setengah jam lagi.

Tiba-tiba, aku melihat Wulan muncul berdua, bersama seorang wanita lebih separuh baya. Ibu Wulan kah? Wajahnya, dari jauh tak begitu jelas bagiku.

Jarak diantara kami, semakin dekat dan semakin dekat. Wulan kulihat menggandeng sang wanita dengan setengah memaksa. Dan….. MasyaAllah, benarkah penglihatan mata tua ini?  Wanita bersama Wulan, adalah Lina.

Dengan riang, Wulan memperkenalkan wanita yang digandengnya itu, sebagai ibunya.

“kenalkan Mas… Mama Wulan” kulihat Lina, sedikit kaku, sedikit jengah dan aneh mendengar Wulan memanggilku dengan sebutan Mas.

Kujabat tangan Lina, agaknya, aku tak perlu memperkenalkan diri lagi pada Lina, begitu pula dengan Lina. Jabatan itu begitu lama, tak ada kata yang terucapkan tentang masa lalu kami. Dari binar matanya, aku kok merasa GR.

“Sehat Lin?”

“Sehat. Kamu sendiri gimana No?” akh, selalu saja Lina memanggilku dengan No.

“Waktu Wulan pulang bawa buku, aku lihat fotomu, aku yakin kalo gak salah orang” lanjut Lina.

“iya Mas..semalam Ibu maksa untuk ketemu Mas” Wulan ikutan nimbrung.

“Hus! Saru. Panggil Om kek.., Pak lik Kek, mosok Mas” sergah Lina pada Wulan.

“Wulan sudah biasa Bu, hanya panggil Mas” bela Wulan.

******

Lina cerita banyak tentang diri dan keluarganya. Bagaimana si sulung sudah memberinya cucu usia satu setengah tahun, dan anak kedua kedua, si Bontot Wulan baru saja selesai UN. Lina sendiri masih tetap menjadi dosen di salah satu Universitas swasta, sebagai single parent lima tahun terakhir ini, Lina hanya berharap agar Wulan lulus dengan nilai baik dan diterima di universitas pilihannya. 

Wulan masih saja dengan kemanjaannya memanggilku Mas. Hingga akhirnya, ketika jam menunjukkan jam 14.20 dan aku harus berpisah dengan mereka, aku masih menyisakan asa, mungkinkah suatu waktu kelak, Wulan mengubah panggilannya dari Mas menjadi Ayah?