Mohon tunggu...
Iskandar Zulkarnain
Iskandar Zulkarnain Mohon Tunggu... Administrasi - Laki-laki, ayah seorang anak, S1 Tekhnik Sipil.

Penulis Buku ‘Jabal Rahmah Rendesvous Cinta nan Abadi’, 'Catatan kecil PNPM-MPd', 'Menapak Tilas Jejak Langkah Bung Karno di Ende', 'Sekedar Pengingat', 'Mandeh Aku Pulang' (Kumpulan Cerpen) dan 'Balada Cinta di Selat Adonara' (Kumpulan Cerpen). Ayah. Suami. Petualang. Coba berbagi pada sesama, pemilik blog http://www.iskandarzulkarnain.com

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Transformasi

28 Maret 2017   10:51 Diperbarui: 28 Maret 2017   19:00 847
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
sumber gambar disini

“Jangan nangis dong Bonar” bisik Hani di telinga Bonar.

Tak ada jawaban, hanya linangan air mata yang mengalir di pipi Roman tak kunjung reda. Setiap disebutkan nama Bonar, rasa dalam dada Roman, semakin terkoyak. Tidak kah kau tahu Hani, aku ini bukan Bonar, tapi Roman. Sudahilah penyebutan nama Bonar. Dalam hari-hari penuh lara ini, paling tidak aku ingin kau memanggil  diriku sebagai Roman. Sebagai diriku sendiri. Begitu jerit hati Roman pada Hani. Roman yang kini terkena stroke, tak mampu untuk bicara, tak mampu mengutarakannya pada Hani.

Hanya air mata yang mewakili rasa kecewa hati Roman.

*****

Tiga puluh delapan tahun lalu.

Roman, Hani dan Bonar. Tiga sahabat yang runtan-runtun kemana-mana bersama, bukan hanya di ruang kelas, di sekolah, juga pulang dan pergi sekolah. Tetapi dibanyak waktu dan banyak tempat. Hacking ke Goa Pakar, ke Maribaya dan kebanyak tempat.

Apalagi  setelah setahun berikutnya, mereka sama-sama naik kelas dua, sama-sama jurusan IPA. Persahabat ketiga sahabat itu semakin kental saja. Tak terpisahkan.

Bonar yang agresif dan Hani yang tomboy, tak jarang terjadi perselisihan kecil. Tapi ada Roman yang kalem, cool habis. Menjadi jembatan bagi kedua mereka yang berantem. Roman yang menjadi perekat mereka bertiga, Bonar yang biang kerok, yang selalu menjadi warna dalam persahabatan itu dan Hani yang tomboy, yang membuatnya semuanya menjadi hidup.

“Man, kalau aja gak ada kamu… Mungkin kita sudah bubar” kata Hani suatu saat, ketika mereka hacking ke Maribaya. Saat itu, Bonar sedang buang air kecil ke bawah. Hani dan Bonar, baru saja berdamai.

“Akh… Tapi kalau gak ada Bonar, gak rame Han” jawab Roman.

“Tapi dia biang kerok” kata Hani lagi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun