Mohon tunggu...
Iskandar Zulkarnain
Iskandar Zulkarnain Mohon Tunggu... Laki-laki, ayah seorang anak, S1 Tekhnik Sipil.

Penulis Buku ‘Jabal Rahmah Rendesvous Cinta nan Abadi’, 'Catatan kecil PNPM-MPd', 'Menapak Tilas Jejak Langkah Bung Karno di Ende', 'Sekedar Pengingat', 'Mandeh Aku Pulang' (Kumpulan Cerpen) dan 'Balada Cinta di Selat Adonara' (Kumpulan Cerpen). Ayah. Suami. Petualang. Coba berbagi pada sesama, pemilik blog http://www.iskandarzulkarnain.com

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Filosofi Gema

18 Mei 2020   05:47 Diperbarui: 18 Mei 2020   05:46 87 5 3 Mohon Tunggu...

Tahun 1987 ketika saya membangun Gedung BCA Medan dengan ketinggian Sembilan lantai (zaman itu, inilah gedung Bank tertinggi di Medan).  Saya dibantu oleh  mandor yang canggih, disegani anak buahnya, sekaligus di sayangi anak buahnya.  Nama sang Mandor itu SUGEMA, biasa di panggil GEMA.

Beberapa hari lalu, saya membaca seorang anak muda dengan gelar berderet yang saya tidak familiar dengan gelar itu, MM,CAT,CSA,CWM,CFTe. Seorang  penemu Astronacci yang mendapat rekor MURI pada tahun 2014 sebagai "Penemu Metode Analisis Keuangan dengan menggunakan siklus Astrologi dan Fibonacci" dan di liput majalah FORBES sebagai penemu dan trader sukses dari Asia.

Nama anak muda yang sukses itu   Gema Goeyardi.

Saya begitu terkesan dengan GEMA.

Dua orang yang saya tahu, dua-duanya sukses. Ada apa dengan Gema? Apakah secara kebetulan mereka memiliki nama Gema? Atau Gema memiliki arti,  yang dapat menjadikan seseorang sukses.

Dalam tulisan ini, saya tidak akan mengkaji dua sosok sukses itu. Namun, saya ingin mengkaji perihal gema itu sendiri. Istilah kerennya  membahas filosofi gema.

Di dalam ilmu fisika dasar.  Gema di ketahui sebagai pantulan bunyi.

Jika kita berbicara.  Maka, suara yang keluar dari mulut kita. Akan menjauh dari kita. Lalu, ketika suara bertemu dengan  sekat penghalang, sang bunyi akan kembali  ke  arah sang pembicara. Suara yang di dengar oleh pembicara dan orang sekitarnya, dikarenakan kembalinya suara tadi. Itulah, yang disebut gema.

Ketika, sang suara yang kembali tadi, tidak di dengar secara jelas oleh sang pembicara dan orang sekitarnya. Suara demikian, tidak disebut gema. Tetapi, disebut Gaung.

Untuk memperoleh suara gema yang sempurna, jarak  dinding sekat pantulan, minimum 16,2 meter. Kurang dari jarak minimum 16, 2 m, maka suara yang dihasilkannya  tidak jelas. Inilah yang disebut dengan Gaung.  

Gema dapat juga digunakan untuk mengukur kedalaman laut, dengan sebuah system yang disebut "system Sonar".  

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x