Mohon tunggu...
Iskandar Zulkarnain
Iskandar Zulkarnain Mohon Tunggu... Laki-laki, ayah seorang anak, S1 Tekhnik Sipil.

Penulis Buku ‘Jabal Rahmah Rendesvous Cinta nan Abadi’, 'Catatan kecil PNPM-MPd', 'Menapak Tilas Jejak Langkah Bung Karno di Ende', 'Sekedar Pengingat', 'Mandeh Aku Pulang' (Kumpulan Cerpen) dan 'Balada Cinta di Selat Adonara' (Kumpulan Cerpen). Ayah. Suami. Petualang. Coba berbagi pada sesama, pemilik blog http://www.iskandarzulkarnain.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Makam Mertua Soekarno, Ibu Amsi, Nan-Merana

17 September 2016   10:50 Diperbarui: 18 September 2016   00:19 1119 12 5 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Makam Mertua Soekarno, Ibu Amsi, Nan-Merana
Makam Ibu Amsi di Ende, Pak Usman.H.Harun berdiri disebelahnya, Perhatikan, tak ada nisan di sana, hanya tumpukan batu (dok.Pribadi)

Ini adalah kunjungan keempat saya ke Ende. Selalu saja, ingatan ini terpaut pada sosok Soekarno dengan segala warna yang mengiringinya, jika mengingat kata Ende.

Pagi menjelang siang, selepas melewati medan jalan yang “menantang” antara Maumere–Ende, Motor yang saya kendarai memasuki kota Ende, tepat jam 10.10 Pagi WITA.

Tujuan saya jelas, ingin menziarahi makam Mertua Soekarno. Ibu Amsi. Tapi dimana? Untuk menjawab pertanyaan itu, saya segera menuju rumah pengasingan Soekarno. Tentu akan  ada jawaban yang saya peroleh di sana, ketika saya tanyakan dimana poisi makam yang akan saya Ziarahi. Dan benar, “penjaga” rumah pengasingan Soekarno memberi saya alamat yang dimaksud. Saya menawarkan jika, ada jasa ojek, saya lebih baik diantar ojek saja. Sang “penjaga” menjawab tidak perlu. Karna alamat yang akan saya tuju, sudah diketahui oleh masyarakat sekitar. Sehingga, sangat kecil kemungkinan, saya tidak akan menemukan alamat yang dimaksud.

“Dari Taman Perenungan Soekarno, bapak jalan lurus saja. Bapak hitung Mesjid yang bapak lalui. Pada Mesjid ketiga, yang posisinya di kanan jalan. Di sana Bapak tanya, dimana letak kuburnya Ibu Amsi, Mertua Bung Karno. Semua penduduk di sana pasti tahu..” demikian penjelasan “penjaga” rumah Soekarno.

Eng ing eng…. Dan benar, alamat yang cari dengan mudah saya temui. Lorong Lingkungan Karara, Rt 01/01. Kelurahan Rukun Lima. Kode Pos. 86514. Ende.

Papan Nama Alamat menuju Makam Ibu Amsi. Lorong Lingkungan Karara, Rt 01/01. Kelurahan Rukun Lima. Kode Pos. 86514. Ende. Tertempel di Dinding Rumah Penduduk (dok. Pribadi)
Papan Nama Alamat menuju Makam Ibu Amsi. Lorong Lingkungan Karara, Rt 01/01. Kelurahan Rukun Lima. Kode Pos. 86514. Ende. Tertempel di Dinding Rumah Penduduk (dok. Pribadi)
Kesulitan kedua segera menyusul. Yang mana persis kuburan Ibu Amsi? Karna ternyata Ibu Amsi dikubur pada pemakaman umum. lalu, jika pun saya menemukan makam yang saya cari, saya masih butuh orang yang mau menceritakan sedikit tentang makam Ibu Amsi?

Dengan sedikit usaha, akhirnya saya bertemu dengan Bapak Usman.H.Harun. Seorang lelaki paruh baya yang bekerja di sebuah Koperasi dan bertempat tinggal di seberang jalan komplek pemakaman Umum dimana Ibu Amsi dimakamkan.  Beliau banyak tahu tentang makam Ibu Amsi. Dengan beliaulah saya mengunjungi makam Ibu Amsi.

Sebagai anak bangsa, saya trenyuh menyaksikan makam mertua Proklamator Indonesia Soekarno yang kondisinya sungguh memprihatinkan.

Bagaimana tidak? Makam Ibu Amsi, tak memiliki batu nisan, sehingga orang awam tidak mengetahui siapa yang di makamkan disitu. Tanggal berapa meninggalnya, tanggal berapa lahirnya. Apalagi jika harus ditambahkan siapa yang dimakamkan disitu, apa peranan almarhum dalam perjuangan bangsa Indonesia.

Perbandingannya, bagaikan langit dan bumi, jika dibandingkan dengan makam Soekarno yang berada di Blitar. Sesuatu yang seharusnya tidak mesti terjadi, jika mengingat peran almarhum dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Khususnya, peran almarhum pada Soekarno.

Dari rahim almarhum yang wafat pada 12 Oktober  1935 itu, lahir wanita (Ibu Inggit) yang kelak menjadi pendamping hidup Soekarno. Bukan hanya, merelakan putrinya disunting Soekarno untuk dijadikan pendamping hidup, almarhum juga rela mendampingi putri dan menantunya dibuang ke tanah interniran yang letaknya, ketika itu, bagaikan diujung bumi yang lain. Meninggalkan kenyamanan hidup di kota Bandung untuk hidup di tanah “nun jauh disana” dan tak tahu kapan akan kembali ke Bandung. Di tanah interniran itu pula akhirnya, wanita yang mulia itu, menghembuskan napas terakhirnya setelah lima hari terserang demam malaria.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN