Mohon tunggu...
Ismi Sukmayaningrum
Ismi Sukmayaningrum Mohon Tunggu... Perencanaan Wilayah dan Kota

Menulis untuk belajar, dan belajar untuk menulis

Selanjutnya

Tutup

Filsafat

Warugan Lemah: Konsep Kosmologi dan Penataan Ruang

11 Mei 2020   06:18 Diperbarui: 11 Mei 2020   19:14 656 0 0 Mohon Tunggu...

".....

Gunung teu meunang dilebur;

Lebak teu meunang dirusak;

Larangan teu meunang dirempak;

Buyut teu meunang dirobah;

Lojor teu meunang dipotong;

Pondok teu meunang disambung;

Nu lain kudu dilainkeun;

Nu ulah kudu diulahkeun;

Nu enya kudu dienyakeun."

Konsep tata ruang suatu masyarakat akan berkaitan dengan sistem religi mereka, terutama yang berkaitan dengan pandangan dunianya. Secara khusus, pandangan suatu masyarakat dapat terlihat dari kosmologi mereka.

Oleh karena itu, dapat dipahami betapa pentingnya pemahaman dan penghayatan kosmos sebagai prasarat untuk mencapai keseimbangan dan kawilujengan (menjadi lebih baik).

Istilah kosmologi berasal dari Bahasa Yunani "kos mos" yang dipakai oleh Phytagoras (580-500 SM) dalam melukiskan keteraturan dan harmoni pergerakan benda-benda langit. 

Selanjutnya, teori mengenai kosmologi dikeluarkan oleh ahli-ahli filsafat seperti Socrates, Plato, Aristoteles hingga ahli fisika modern seperti Newton dan Einstein meskipun masing-masing teori dapat memiliki paradigma yang berbeda,

Menurut Paradigma rasionalistik, kosmologi adalah dunia dan seisinya, yang terlihat jelas, nyata, dan dapat ditangkap panca indera (Titisari, Antariksa, Wulandari, & Surjono, 2017). 

Kajian-kajian kosmologi yang rasionalistik-empirik ini ada yang mengarah pada kajian astronomis, yaitu ilmu yang mempelajari kedudukan dan pergerakan benda-benda langit yang memiliki dampak terhadap perubahan iklim, cuaca, musim, arah gerak angin, kelembaban, dan lain-lain di bumi, yang mempengaruhi aktivitas sosial-ekonomi.

Dari Sprajc (2009), Nelson at al (2010) dan Blanchard (2010) diketahui bahwa pengetahuan mengenai kosmologi sangat membatu dalam pengaturan siklus kegiatan masyarakat agraris dengan mengasosiasikannya dengan symbol-simbol kehidupan, dewa-dewa, serta kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi (ramalan) (Titisari et al., 2017). 

Konsep kosmologi, selanjutnya, membentuk sistem ideologi yang pada akhirnya membentuk jalinan dan strukstur sosial, sistem kepemimpinan (politik), sistem budaya dan konsep penataan ruang.

Seiring dengan berkembangnya modernisme dengan ciri khas rasionalismenya, maka keyakinan-keyakinan meta-empirik perlahan mengalami pergeseran. 

Ketidakmapuan rasio membaca tanda-tanda alam yang tidak terindera menggeser sebagian pengetahuan kosmologi pra-modern ke wilayah mitos dan mistisme. 

Dalam kajian-kajian arsitektur, khususnya di Nusantara, kosmologi dipandang sebagai salah satu faktor pembentuk ruang (Mashuri, 2010; Sumalyo, 2001; Widayat, 2004; Widyatasari, 2002; Wesnawa, 2010; Xu, 1998; dan Kartono, 2005), ruang sakral-profan, bentuk atam, kolom, tata ruang rumah, permukiman, dan kota adalah wujud konsep-konsep kosmologis (Titisari et al., 2017).

Ada beragam pengertian mengenai ruang. perbedaan arti 'ruang' ini muncul karena perbedaan perspektif dan paradigma, terutama mereka yang menggunakan paradigma empirik dan meta-empirik.

Dalam keilmuan Eropa, filsuf klasik, Socrates, berpendapat bahwa di balik yang kasat mata terdapat 'being' yang lebih hakiki dan bersifat universal -- tidak kasat mata -- merupakan unsur metafisik. Unsur metafisik ini merupakan 'kesejatian'nya sedangkan unsur yang kasat mata (fisik/ empirik) adalah yang maya atau merupakan 'bayangan' dari objek yang sejati. Objek yang sejati ini berada di level ide-ide/ konsep.

Ide-ide Socrates ini dikembangkan Plato. Terkait dengan 'form'  (bentuk), Plato menyatakan bahwa substansi 'form' yang sesungguhnya adalah pada ide, sedangkan yang nampak merupakan perwujudan ide tersebut. 'Form' bersifat atemporal dan aspatial, artinya 'form' tidak terkait dan tidak tergantung dengan waktu maupun ruang tertentu. 

Dalam kaitannya dengan ide mengenai ruang sebagai objek, maka Socrates dan Plato memandang 'ruang' yang metafisik merupakan hakekat dari 'ruang' fisik/ empirik yang kasat mata.

Aristoteles mengembangkan ide metafisika Socrates dan Plato dalam konteks fisik-matematis. Aristoteles menangkap ide-ide dari objek fisik atau yang kasat mata terlebih dahulu, sementara Plato dan Socrates berangkat dari ide-ide metafisik. 

Ruang ditangkap esensinya dari fenomena yang kasat mata. Ide Aristoteles ini dikembangkan lebih lanjut hingga masa Renaissance sehingga ruang dipandang sebagai perluasan/ pengembangan/ perpanjangan tiga dimensional yang tidak terbatas, dimana objek dan peristiwa memiliki posisi dan arah yang relatif.

Ruang terbentuk dari pengalaman yang secara langsung dirasakan dalam bentuk tiga dimensional dengan bantuan indera penglihatan (Tuan, 2010) (Khairunnisa, 2014). 

Menurut (Lukito Kartono, 2005) tidak ada padanan kata yang tepat untuk menggatikan istilah ruang selain 'place'. Bagi masyarakat Nusantara, ruang merupakan pengejawantahan makrokosmos ke dalam mikrokosmos. 

Masyarakat Nusantara memahami eksistensi ruang lebih dari pada aspek meta-empiriknya, bukan wadah fisiknya. Ruang menjadi ekspresi ide-ide hubungan manusia -- Tuhan ,dan manusia -- manusia lain, juga manusia -- alam/ lingkunganya, seluruhnya adalah suatu kesatuan.

Manusia berperan sebagai khalifah yaitu pemegang amanah kelestarian ala,, termasuk manusia itu sendiri. Kelestarian di sini memiliki makna sama dengan sustainability. Hal tersebut dapat dicapai apabila manusia mampu menjaga perimbangan antara sumbu vertikal dan sumbu horizontal. 

Konsep dan prinsip perimbangan tersebut merupakan bagian dari kosmologi mereka. Ruang menjadi wadah aktivitas sekaligus transformasi ide-ide mereka dalam wujud fisik. Perubahan kosmologi berdampak pada perubagan prinsip-prinsip utama tata ruang (Pangarsa, 2006).


Lingkungan Tatar Sunda yang rawan akan bencana telah mengajarkan masyarakatnya secara turun-temurun untuk hidup Bersama alam. Pemanfaatan lahan harus sesuai dengan peruntukannya agar tidak tertimpa bencana, karena pada dasarnya bencana akibat kesalahan manusia dalam memanfaatkan alam.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x