Mohon tunggu...
Isti Yogiswandani
Isti Yogiswandani Mohon Tunggu... Sarjana pertanian, akta biologi, tp lbh suka menulis. Hobi memasak, menjahit dan travelling.

Manusia merdeka. Menikmati hidup penuh syukur.....

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan

Nuansa Kebhinekaan dalam Berpikir

8 Februari 2017   10:53 Diperbarui: 8 Februari 2017   11:16 249 1 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Nuansa Kebhinekaan dalam Berpikir
Dok.pribadi

Revolusi pola pikir sangat diperlukan pada era sekarang ini, di saat tuntutan kebhinekaan dan keberagaman berbenturan dengan egoisme keyakinan. Sudah saatnya kita bukan berpikir aku dan kamu, tapi kita. Apa yang aku suka dan apa yang kamu suka, tapi apa yang sama-sama kita suka. Dalam revolusi pola pikir ini, diperlukan pemikiran yang positif terhadap keberadaan orang lain.  Bukan perasaan saya lebih baik, tapi kita sama-sama mempunyai kebaikan. Bukan agama dan keyakinanku lebih baik, tapi agama dan keyakinan kita sama-sama memberikan kebaikan. Agama adalah wahyu langit sebagai pondasi atau dasar dari seluruh kebaikan, sedang bagaimana melaksanakannya, Allah memberi kebebasan sesuai dengan kemampuan melaksanakannya, salah satu pelaksanaannya seperti yang dicontohkan Rasulullah dan para sahabat serta keluarganya, khususnya bagi kita yang muslim.

Di dalam Al quran sudah dijelaskan, bahwa Nabi Isa, yang untuk umat kristiani biasa disebut Yesus, adalah putra dari Maryam atau biasa disebut Bunda Maria oleh umat kristiani. Sedangkan Ruhul Khudus, atau Roh Kudus, adalah malaikat Jibril, sang penyampai wahyu.  Bukan masalah perbedaan yang kita bahas, tapi Tuhan yang Esa, seperti yang telah dijelaskan dalam Al qur an bagaimana zat Allah dan sifat-sifatnya. 

Tentunya kita harus menyampaikan kebenaran, bahwa Allah yang maha segalanya adalah Allah yang Esa, sedang Yesus atau nabi Isa adalah salah satu Rasul Allah yang terpilih, yang mempunyai kondisi hamper mirip Rasulullah, sama-sama dilahirkan dalam keadaan tak ber ayah, Rasululullah lahir pada saat Abdullah , ayahnya sudah wafat, sedang Nabi Isa terlahir tanpa ayah karena merupakan jelmaan dari ruhul kudus atau malaikat jibril yang menampakkan sifat-sifat kemanusiaannya, tapi sifat malaikat masih melekat, sehingga beliau tidak menikah sampai terjadi peristiwa penyaliban dan masa kebangkitan, sebab separuh sifatnya adalah sifat jibril, hakekat malaikat, yang mempunyai sifat kekal dan senantiasa taat pada Allah tanpa kompromi. Yang perlu ditekankan adalah, Tuhan kita semua adalah Allah, itu adalah ilmu ketauhidan, sedangkan cara beribadah, seperti tertulis dalam Al qur’an, bukanlah menghadapkan tubuh kita ke timur atau ke barat, tetapi keyakinan dan ketulusan kita akan pengakuan zat yang maha semuanya, Allah SWT. Monggo……

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x