Mohon tunggu...
Isti Mulyani
Isti Mulyani Mohon Tunggu... Lainnya - Penyuka corat coret

Be different, be the best and be an inspiration

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Pembully Itu Pembunuh?

30 Oktober 2019   15:25 Diperbarui: 30 Oktober 2019   15:36 96
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pendidikan. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Bagi kebanyakan orang pasti akan menjudge. Ahh.. drama deh. Masak dikatain begitu aja langsung punya fikiran kalap gitu.

Tapi lagi-lagi kita tidak akan pernah benar-benar merasakan apa yang dirasakan orang lain kecuali kita berada di posisi dan kondisi yang sama dengan orang itu.

Kita pernah kan denger yang namanya syndrome baby blues. Ya. Suatu kondisi dimana seorang ibu baru mengalami depresi karena belum bisa menerima keadaan baru dalam hidupnya.

Banyak hal yang menyebabkan seorang ibu bisa mengalami hal tersebut. Mulai dari kekhawatiran seorang wanita muda yang tiba-tiba punya anak. Dia khawatir tidak dapat merawat anaknya dengan baik. Dia selalu merasa cemas jika anaknya tidak bisa seperti yang diharapkan.

Selain hal itu seorang ibu muda juga akan mengalami cultur shock. Dimana kebiasaan sebelum menjadi ibu dan setelah menjadi ibu yang sangat berbeda dan mendadak terkadang tidak serta merta langsung diterima oleh mental si ibu.

Mulai dari kebiasaan begadang yang mengakibatkan kurangnya waktu untuk beristirahat, memberi ASI yang cukup dll. Hal itu diperparah dengan adanya cibiran dari orang lain. Yang kadang dengan mulut enteng bilang, "Anaknya kok kurus, nggak seperti anaknya si B." Atau "kok belum bisa jalan sih umur segitu? Normalnya unur segitu udah bisa jalan" dll.

Membully, mencibir dan membanding-bandingkan dengan berkedok care dan simpati yang nyatanya malah membuat orang lain semakin tertekan.

Tak jarang seorang ibu yang tertekan justru akan melampiaskan kekesalan kepada anaknya sendiri karena dianggap sebagai sumber masalah dalam hidupnya. Bisa jadi.

Pembunuh itu seorang pembully.
Ya..saya rasa cap itu yang paling tepat buat para pembully. Membully sama dengan membunuh mental seseorang secara perlahan.  Bagaimana tidak? Kata-kata atau perlakuan tidak baik itu nyatanya mampu membuat orang lain melakukan hal nekad..

Saya punya murid SMK yang sangat berbeda perilakunya dari anak pada umumnya. Dia tidak pernah berbicara di kelas, bahkan makan minumpun tidak. Suatu hari karena saking gemasnya saya dekati dan coba bertanya tentang apa yang membuatnya seperti ini.

Jawaban yang cukup mencengangkan. Benar saja ketika SD dia mengalami pembullyan dari kakak kelasnya. Dia selalu dikasari secara fisik dan verbal. Katanya hal itu terjadi berulang-ulang selama satu tahun setiap jam olahraga. Ketika lari-lari keliling desa biasanya kakak kelas akan mencegatnya di tempay sepi dan kemudian melakukan tidakan pembullyan tersebut.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun