Iis Siti Aisyah
Iis Siti Aisyah Teacher | Reader | Freelance Writer

Penikmat buku dan coklat secara bersamaan

Selanjutnya

Tutup

Wanita

"The Perfect Muslimah" di Hari Perempuan Internasional

8 Maret 2018   18:46 Diperbarui: 15 Maret 2018   15:28 564 1 0

"Setiap laki-laki menginginkan wanita yang sempurna." Ah, benarkah? Lalu bagaimana dengan saya yang begitu banyak kekurangan. Perspektif sempurna akan berbeda setiap orang. Bahkan untuk mencari yang sempurna entah ada dimana. Sebagaimana  dalam buku Ahmad Rifai Rif'an disebutkan bahwa wanita sempurna adalah yang senantiasa menebar manfaat, tidak pernah mengalah dalam keadaan, memiliki visi dan cita-cita yang tinggi, serta tentunya memiliki akhlak yang mulia. Lantas dimana posisi cantik pada wanita sempurna? Teman laki-laki saya pernah curhat di group whatsapp dan berkata ingin segera menikah karena mungkin keinginan batiniahnya. Teman yang lain menjawab, cari wanita yang ingin kamu peristri dengan keunggulan di salah satu saja. Misal ingin perempuan cantik, atau perempuan pintar, atau perempuan yang penurut. Karena tidak ada yang sempurna, tambahnya. Pilihan tersebut tentunya dengan resiko masing-masing. Perempuan cantik, beresiko banyak belanja peralatan make up yang harus ditambahkan selain dari uang belanja dapur. Perempuan pintar dengan sedikit egoisme dan tidak mau kalahnya, meskipun dalam hal ini mungkin wanita tersebut bisa sebenarnya untuk mengalah. Perempuan penurut berarti kamu harus siap dengan resikonya sebagai orang yang terus mengatur dan mengajarinya.  Pernyataan teman saya tersebut pada dasarnya adalah menyebutkan bahwa tidak ada perempuan yang benar-benar sempurna di dunia ini. Mungkin akan lebih baik hal ini kembali kepada masing-masing pribadi, agar kebahagiaan rumah tangga itu bisa untuk saling melengkapi dan saling memahami. Menuju pertanyaan, lalu yang seperti apa wanita terbaik? Seorang Arab Badui yang merupakan pengamat masalah wanita, pernah ditanya tentang hal ini. Kemudian dia berkata:

"Wanita terbaik adalah wanita yang paling tinggi bila berdiri, paling besar jika duduk, paling jujur jika berbiacara. Yaitu yang jika marah, dia akan selalu sabar, jika tertawa, dia tersenyum, jika melakukan sesuatu, dia melakukannya dengan sebaik-baiknya, yang selalu menaati suaminya, lebih banyak tinggal di rumah, yang mulia di tengah-tengah kaumnya, dan merasa hina terhadap dirinya sendiri, yang subur, dan yang setiap urusannya terpuji."

Tentu pernyataan tersebut hanya pendapat semata. Setiap wanita pasti menginginkan dirinya menjadi yang terbaik bagi siapapun. Tetapi hati yang tulus dan benar-benar ikhlas menjalani setiap kejadian memerlukan suatu kesadaran dan terpaan cobaan yang tak sebentar. Ibarat sebuah berlian, tekanan dan suhu panas yang menerpanya bisa membentuk kepribadian tersebut. Setidaknya itulah mungkin yang menjadi titik balik dan harapan besar juga bagi setiap wanita. Banyak juga perempuan-perempuan hebat  yang ingin pergi ke luar daerah perbatasan, atau daerah tertinggal karena ingin menebar bermafaat . Menjadi pengajar anak-anak yang jauh dari hiruk pikuk keramaian kendaraan, dan sedikit akses untuk meminta bantuan. Bukankah itu juga cita-cita mulia?

Di "Hari Perempuan Internasional" kali ini, kaum perempuan sedang dilanda cobaan tentang cara berpakaian yang menurut sebagian laki-laki adalah penyebab terjadinya pelecehan seksual. Pihak laki-laki dan wanita bertarung nyali dan bertarung urat syaraf seakan tidak saling membutuhkan. Tidak sedikit juga laki-laki yang mendukung gerakan, bahwa pemikiran laki-laki yang ngeres itu sebenarnya yang harus diubah, bukan pakaian wanitanya. Akhirnya, pertarungan ini bisa jadi tiada akhir jika saling ingin membenarkan diri sendiri. Bagi saya, siapapun harus bisa menempatkan diri. Wanita harus bisa menjaga diri dengan cara sebaik-baiknya, laki-laki harus bisa menahan diri dan berperilaku sopan pada wanita. Baru keseimbangan untuk saling menghargai ada. Justru yang harus dipertentangkan adalah kenapa cadar harus dilarang dipakai seorang perempuan muslim? Itu adalah hak dan mungkin bagi sebagian perempuan adalah kewajibannya dalam menutup aurat. Ketika perempuan-perempuan memakai pakaian terbuka meminta haknya, seharusnya pemakai cadar juga diberi hak untuk hal tersebut. Bukan dilarang dengan ketakutan yang mengada-ada. Selagi niat yang dilakukan perempuan tersebut memang baik dan tidak merugikan siapapun.

Dalam hal pendidikan saya kira wanita sudah memiliki tempat yang layak. Banyak inspirator wanita yang bisa dijadikan contoh dalam kebaikan. Namun bukan berarti pula Ibu Rumah Tangga itu sesuatu yang jelek untuk dijadikan contoh. Sebab nyatanya, memang Ibu Rumah Tangga yang baik, dan dengan sukarela merawat anak dan suami dalam rumah sangat langka hari ini. Itu tidak harus diperdebatkan, setiap orang punya persepsi dan batasannya masing-masing. Semoga memang di Hari Perempuan Internasional ini, tidak ada lagi kata "jangan" bagi perempuan-perempuan yang memang mampu untuk melakukan kebaikan yang mendatangkan manfaat. Semoga membuka hati kita untuk terus berkarya. Siapapun Anda, mari berkarya walau hanya sebatas Ibu Rumah Tangga. Karya tidak sebatas pada kata, engkau ibu rumah tangga yang membuat rumah menjadi hangat dan penuh senyum juga bagian dari karya. Semoga kita bisa menjadi  The Perfect Muslimah versi yang Allah ridhoi dan selamat Hari Perempuan Internasional.