Mohon tunggu...
Isson Khairul
Isson Khairul Mohon Tunggu... Jurnalis - Journalist | Video Journalist | Content Creator | Content Research | Corporate Communication | Media Monitoring

Kanal #Reportase #Feature #Opini saya: http://www.kompasiana.com/issonkhairul dan https://www.kompasiana.com/issonkhairul4358 Kanal #Fiksi #Puisi #Cerpen saya: http://www.kompasiana.com/issonkhairul-fiction Profil Profesional saya: https://id.linkedin.com/pub/isson-khairul/6b/288/3b1 Social Media saya: https://www.facebook.com/issonkhairul, https://twitter.com/issonisson, Instagram isson_khairul Silakan kontak saya di: dailyquest.data@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

WS Rendra-Ken Zuraida, Cinta Abadi Bengkel Teater

12 Agustus 2021   16:45 Diperbarui: 12 Agustus 2021   16:51 1134
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
WS Rendra dan Ken Zuraida. Mereka mewariskan Bengkel Teater untuk Indonesia. Foto: Dok. Maryam Supraba 

Ken Zuraida. Inilah sosok perempuan tangguh di dunia teater Indonesia. Publik mengenalnya sebagai istri penyair serta dramawan besar WS Rendra. Ken Zuraida mengenyam pendidikan di Universitas Padjadjaran Bandung dan di Akademi Seni Rupa Indonesia, Jogjakarta. Dalam konteks Bengkel Teater sebagai sebuah komunitas seni, Ken Zuraida adalah sosok organisatoris yang andal.

Trisnoyuwono, sastrawan dan wartawan jempolan Indonesia, menggambarkan, Ken Zuraida relatif kurang menonjol sebagai artis Bengkel Teater, tapi sesungguhnya ia adalah sosok perempuan yang tangguh sebagai organisatoris. Ia terbuka, luwes, tapi tegas dalam mengelola kehidupan sehari-hari di Bengkel Teater Rendra. Salah satu aktivitas utama di sana adalah berlatih dan berlatih, serta belajar. Sosok organisatoris sangat penting.    


Senin (09/08/2021) pukul 08.57 WIB lalu, seniman teater itu wafat di Rumah Sakit Antam Medika, Pulo Gadung, Jakarta Timur. Perempuan tangguh tersebut tutup usia akibat penyakit paru-paru dan jantung yang telah lama diidapnya. Ia meninggal di usia 67 tahun.

Ketika diwawancarai Majalah Tempo untuk edisi Februari 2020 lalu, Ken Zuraida mengaku paru-paru kirinya sedang bermasalah. Beberapa kali di tengah percakapan, ia terbatuk. Batuk yang dalam dan panjang, hingga suaranya menjadi lirih sekali. "Paru-paru kiri saya sedang jadi pemalas akhir-akhir ini," ujar Ken Zuraida kepada jurnalis Majalah Tempo.

Suaminya, Willibrordus Surendra Broto Rendra telah berpulang lebih dulu, pada Kamis (06/08/2009) malam di Rumah Sakit Mitra Keluarga, Depok, di usia 73 tahun. Artinya, Ken Zuraida wafat tiga hari, setelah peringatan 12 tahun meninggalnya sang suami.

Ketika melepas jenazah suaminya, pada Jumat (07/08/2009), Ken Zuraida dengan terbata-bata berkata: "Saya tidak patut menjadi guru di Bengkel Teater. Sebagai istri saya kurang berbakti. Aku cinta padamu."

Sepeninggal WS Rendra, Ken Zuraida dengan tegar terus berupaya menjaga kekokohan Bengkel Teater Rendra yang bermarkas di kawasan Cipayung Jaya, Citayam, Depok, Jawa Barat. Ia aktif berkeliling dari satu daerah ke daerah lain, untuk melakukan pertunjukan, sekaligus mempromosikan Bengkel Teater Rendra.

Pada Rabu (30/10/2019), Ken Zuraida mengenang WS Rendra bersama komunitas Sastra Reboan, di Warung Apresiasi, Jalan Bulungan, Blok M, Jakarta Selatan. Ia senantiasa memberikan dukungan terhadap berbagai komunitas sastra dan teater di negeri ini.

Malam itu, di hadapan publik sastra dan teater, Ken Zuraida mengenang WS Rendra dengan cara yang khas Bengkel Teater. Ia membius yang hadir dengan kisah romantika, sebagaimana romantisnya pasangan seniman. Penuh dengan kata-kata mesra, juga lengkap dengan "permusuhan" yang menggambarkan khasnya karakter egois para seniman.

Di kesempatan tersebut, Ken Zuraida juga menginfokan sejumlah aktivitas Bengkel Teater, termasuk rencana pementasan naskah legendaris WS Rendra yang berjudul Panembahan Reso. Ini kisah tentang Raja Tua, yang hanya percaya pada bayangannya sendiri. Sementara, para pembantunya sibuk dengan diri dan kelompok mereka masing-masing. Pada saat yang sama, rakyat hidup dalam ketidakpastian.

Lakon Panembahan Reso ini pernah dipentaskan WS Rendra bersama Bengkel Teater pada 26-27 Agustus 1986. Dipentaskan di Istora Senayan, Jakarta Pusat, selama 7 (tujuh) jam. Sekitar 15.000 penonton menghadiri  dua hari pementasan teater tersebut. Pada pentas teater itu, Ken Zuraida menangani Penataan Panggung, dengan supervisi Rudjito, penata panggung kawakan yang sangat disegani.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun