Isson Khairul
Isson Khairul research l media monitoring l content writing l public relation

Selanjutnya

Tutup

Media Artikel Utama

Merayakan Kerja dengan Menteri Dhakiri di Kompasianival 2018

9 Desember 2018   04:56 Diperbarui: 11 Desember 2018   13:34 827 10 1
Merayakan Kerja dengan Menteri Dhakiri di Kompasianival 2018
Menteri Dhakiri berdiskusi secara lesehan di pelataran Lippo Mall Kemang. Asyik, nyaris tak berjarak. Ditemani kopi dan kunyah-kunyahan sedap. Foto: rahab ganendra


Menteri Dhakiri nge-vlog dengan para content creator Kompasiana di Kompasianival 2018. Inilah bagian dari cara merayakan perubahan untuk berkarya. Video: instagram.com/hanifdhakiri

Menteri Jaman Now. Itulah tulisan gede di kaus putih Menteri Tenaga Kerja Muhammad Hanif Dhakiri. Lengkap dengan jeans, topi, plus kacamata, ia benar-benar asli jaman now. Spirit apa yang hendak ia gelorakan?

Mandiri dengan Karya

Pertama, spirit untuk berkarya. Menteri Dhakiri percaya pada anak muda. Dunia digital kini adalah ladang yang subur bagi anak muda, untuk berkarya. Baik sebagai kreator, yang memproduksi barang dan jasa. Maupun sebagai kreator, yang memperdagangkan barang dan jasa. Semua itu kini leluasa dieksplorasi di ranah digital.

Kedua, spirit untuk mandiri. Menteri Dhakiri sangat mengapresiasi anak muda, yang berani mencoba untuk mandiri. Meski masih belia, meski secara usia belum masuk kategori usia kerja. Selaku Menteri Tenaga Kerja, Hanif Dhakiri optimis bahwa kualitas sumber daya manusia di negeri ini, akan terus tumbuh, berkat anak muda yang demikian.

Spirit berkarya dan spirit mandiri itulah antara lain, yang digelorakan Muhammad Hanif Dhakiri di panggung Kompasianival 2018, yang digelar di Lippo Mall Kemang, Jakarta Selatan, pada Sabtu (08/12/2018). Ia tak hanya memotivasi, tapi melebur menjadi bagian dari dinamika anak muda jaman now.

Mencerahkan, Mencerdaskan 

Dari panggung, Menteri Dhakiri kemudian berdiskusi secara lesehan di pelataran Lippo Mall Kemang. Nyaris tak berjarak. Ditemani kopi dan kunyah-kunyahan sedap, ia berbagi cerita tentang pentingnya anak muda mengeksplorasi diri, untuk berkarya dan mandiri. Itu adalah salah satu cara untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Kita tahu, kualitas sumber daya manusia yang ada kini, masih terbatas. Dari 133 juta angkatan kerja di Indonesia kini, didominasi lulusan SD dan SMP. Ya, lebih dari 58 persen lulus SD dan SMP. Indonesia harus membangun, harus sejahtera, modal dasarnya adalah 58 persen angkatan kerja tersebut. Itulah tantangan kita.

Itu dikemukakan Menteri Dhakiri di Denpasar, Bali, pada Senin (08/10/2018), dalam Forum Hubungan Industrial Penguatan Menghadapi Tantangan di Era Revolusi Industri 4.0. Kepada para content creator di Kompasianival 2018, Hanif Dhakiri berharap, agar menciptakan content yang mencerahkan, yang mencerdaskan.

Award untuk Dedikasi 

Sebagai content creator di Kompasiana, harapan Hanif Dhakiri tersebut, tentulah patut kita sambut dengan suka-cita. Karena, itu sejalan dengan cita-cita stakeholders Kompasiana. Artinya, kita memiliki banyak kesempatan, untuk turut meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang ada, melalui content yang kita ciptakan.     

Di tiap tahun pelaksanaan Kompasianival, misalnya, stakeholders Kompasiana memberikan award kepada content creator, yang telah menunjukkan dedikasi mereka. Itu adalah salah satu tahapan penting, dalam konteks menciptakan content yang mencerahkan, yang mencerdaskan.

Di Kompasianival 2018 ini, award untuk kategori Best in Specific Interest diberikan kepada Posma Siahaan. Best in Opinion kepada Krisna Pabhicara. Best in Fiction kepada Wahyu Sapta. Best in Citizen Journalism kepada Mbah Ukik. People's Choice kepada Mbah Ukik. Lifetime Achievement kepada Pepih Nugraha. Dan, Kompasianer of The Year 2018 kepada Girilu Makto.

Profesi yang Mandiri 

Nah, pemberian sejumlah award tersebut, bila dikorelasikan dengan harapan Hanif Dhakiri di atas, tentulah mengacu ke dua hal. Pertama, kita sebagai content creator, sudah sepatutnya terus-menerus meningkatkan kualitas content kita. Kedua, content yang berkualitas, tentulah berpotensi untuk mencerahkan, sekaligus mencerdaskan publik.   

Dalam konteks content creator, ini sesungguhnya sebuah profesi yang mandiri. Disebut profesi, karena nyatanya cukup banyak content creator, yang sudah mendapatkan income, dari berbagai kreasi yang mereka ciptakan. Disebut mandiri, karena untuk berkreasi, tidak harus terikat dengan institusi mana pun.

Dengan kata lain, content creator telah me-redefinisi pengertian kerja, yang selama ini kita kenal. Teknologi telah merubah banyak hal. Kita adalah bagian dari perubahan yang tengah dan akan terus bergulir. Karena itu, mari kita rayakan berbagai perubahan ini, dengan terus berkarya.

 Jakarta, 09-12-2018