Mohon tunggu...
Isnaeni
Isnaeni Mohon Tunggu... Guru - Belajar dengan menulis.

Belajar sepanjang hayat

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Imajinasi Berkelana Lewat Buku

19 Mei 2022   20:30 Diperbarui: 19 Mei 2022   20:39 101 5 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Edukasi. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Waktu kecil saya sering melihat-lihat buku untuk melihat-lihat gambarnya saja. Dengan melihat gambar, saya membayangkan apa yang ada di gambar dengan banyak prasangka. Hal itu saya lakukan karena saya belum bisa membaca, bahkan saya biasa menambah coretan-coretan pada buku tersebut. 

Setelah saya bisa membaca, saya mulai membaca apa yang tertera dalam buku disamping melihat gambarnya. Saya mulai penasaran dengan isi sebuah tulisan dari lembaran-lembaran kertas. Mulai menghubungkan apa yang saya baca dengan apa yang saya dengar dan saya alami. Mulai menyadari dan kritis terhadap pernyataan-pernyataan dalam suatu tulisan. Mungkin itulah yang disebut kemampuan berpikir kritis.

Selanjutnya saya bisa mendapat buku-buku yang ada di sekolah yang tergeletak di perpustakaan, di lemari-lemari kelas. Berimajinasi menjadi seorang anak bima, anak papua atau anak luar negeri yang berkelana ke daerah lain atau ke tempat yang asing. Semua dilakukan dengan duduk di kursi di sebuah kelas, di kursi di dalam rumah atau di atas kasur di kamar tidur.

Berkenalan dengan Pahlawan-pahlawan Indonesia, pahlawan-pahlawan luar negeri atau pahlawan-pahlawan keluarga. Berkelana ke pojok-pojok ujung negeri dan ke sempitnya pipa-pipa keran air karena buku ini menceritakan perjalanan setetes air. 

Perpustakaan-perspustakaan yang saya sering kunjungi hanya perpustakaan-perpustakaan sekolah atau perguruan tinggi. Pernah saya berkunjung ke perpustakaan nasional, tapi saya malah kebingungan. Mungkin karena tata cara peminjaman dan berkunjungnya tidak saya fahami. Tapi melihat koleksi buku atau majalahnya sangat lengkap. Saya sampai terpana melihat banyaknya buku dan tidak tahu harus membaca apa.

Setelah pernah membaca di perpustakaan SD yang umurnya tidak lama karena petugas perpusnya mengundurkan diri, saya bisa merasakan perpustakaan yang nyaman waktu di SMA. Koleksinya begitu banyak dan beragam, mulai dari roman-roman, novel, majalah-majalah olah raga (mungkin sumbangan lembaga-lembaga Olah raga) juga buku atau majalah profesional lainnya. Bila ada waktu luang, saya biasa berkunjung dan menyepi atau berkumpul dengan teman-teman untuk mengobrol.

Rumitnya belajar fisika dan matematika membutuhkan pelampiasan dengan membaca roman-roman penulis lama. Membayangkan hidup di masa penjajahan, di masa kemerdekaan dan dimensi waktu lainnya. Mencari motivasi untuk terus belajar dan berjuang menghadapi sulitnya pelajaran dan suramnya masa depan. Melihat berbagai situasi dan masalah dari berbagai sudut pandang agar menilai sesuatu dengan lengkap.

Perpustakaan yang lebih banyak koleksi buku dan banyak lokasi tempatnya adalah perpustakaan di sebuah Perguruan Tinggi Negeri di Bogor. Dengan pusat perpustakaan yang koleksi bukunya begitu melimpah. Di waktu kosong kuliah, mengunjungi perpustakaan tersebut menjadi pengisi waktu dan berekreasi dengan tempat baca menghadap pemandangan danau yang terlihat dari jendela kaca perpustakaan yang lebar-lebar. 

Karena begitu banyaknya koleksi buku, sehingga membutuhkan waktu yang lama untuk melihat-lihat judul buku yang hampir semuanya menarik hati. Waktu itu,  masuk ke perpustakaan pun sudah terbilang canggih dan terkomputerisasi.  Sehingga bolak-balik perpustakaan tidak bisa begitu saja, apalagi meminjam buku pun harus mengantri. Bila perpustakaan pusat tersebut terlalu jauh dan terlalu besar, saya bisa juga masuk ke perpustakaan yang ada di Fakultas. Hanya saja buku-bukunya lebih sedikit dan tidak terlalu banyak pilihan. Kalau ke sini pun biasanya untuk mencari buku yang berhubungan dengan bidang kuliah yang sedang digeluti.

Tidak kuliah atau sekolah berarti kegiatan membaca hanya terbatas untuk membaca di perpustakaan sekolah tempat bekerja, atau hanya membaca buku yang ada di perpustakaan pribadi. Bila ingin mencari buku yang berbeda, saya biasa mengunjungi toko buku yang memberikan kebebasan untuk membuka-buka bukunya. Toko buku tersebut dijaga oleh seorang bapak yang dengan baik hati memberikan kebebasan boleh membayar kapan saja kalau kita berkunjung lagi. Tentunya saya berusaha tidak mengutang, walau beliau membolehkannya.

Buku koleksi toko buku itu banyak sekali, baik yang bekas maupun yang baru. Hanya saja ada beberapa buku yang bagus tapi harganya murah dan itu ternyata wajar, karena ada beberapa halaman yang rusak.  Saya bisa agak lama memilih dan membaca-baca buku yang ada, walau akhirnya membelinya disesuaikan isi kantong.  Bila ada uang lebih, saya biasa berkunjung ke toko buku tersebut yang lokasinya di lantai paling atas pasar. Ada beberapa buku yang menurut saya sangat bernilai saya temukan di sana. Walaupun kualitas kertasnya bukan istimewa, setidaknya saya bisa tahu isi buku tersebut.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Edukasi Selengkapnya
Lihat Edukasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan