Mohon tunggu...
Alfathan Rahman
Alfathan Rahman Mohon Tunggu... Blogger, kompasiana kontributor

Full time Blogger Ismimalfathan www.ismimalfathan.wordpress.com, dan www.alfa27.com "Membangun bangsa dengan tulisan"

Selanjutnya

Tutup

Balap Pilihan

Dani Pedrosa,"Hidup Ini Terlalu Singkat untuk Memiliki Musuh"

12 September 2020   07:45 Diperbarui: 12 September 2020   07:34 63 5 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Dani Pedrosa,"Hidup Ini Terlalu Singkat untuk Memiliki Musuh"
Sumber: Kompas.com

Di balik sifatnya yang sangat tenang, kalem, dan jarang sekali terlibat dalam situasi konflik, Pedrosa akan selalu dikenang sebagai salah satu pembalap terbaik sepanjang masa bagi MotoGP. Bahkan sisi baik The Little Samurai bukan hanya tercerminkan oleh sikapnya saja. Melainkan data statistik pun juga cukup menginterpretasikan pembalap Spanyol ini dalam menyandang gelar tersebut.

tiga kali juara dunia di kelas pemula dan intermediate, meraih posisi runner-up sebanyak tiga kali dalam karirnya di MotoGP, rookie of the year, dan urutan ketiga peraih podium terbanyak sepanjang sejarah MotoGP. Sebagai seorang kuda hitam, record yang ditorehkan Pedrosa sangatlah luar biasa. Namun kini, ia memutuskan untuk tak lagi aktif membalap dan memilih untuk menjalani profesi sebagai development rider untuk KTM. 

Akan tetapi ada satu cerita menarik dan sarat akan makna yang melatarbelakangi sikap kalemnya itu. Cerita tersebut berawal dari konfliknya dengan Marco Simoncelli pada kecelakaan di GP Perancis yang berlangsung di Sirkuit Le Mans pada tahun 2011. Manuver tak berperasaan Simoncelli menyebabkan The Little Spaniard terjatuh dan mengalami patah tulang selangka. 

Hal itulah yang menjadi penjegal utama bagi dirinya dalam persaingan perebutan title juara di akhir musim. Pedrosa sangat emosional saat itu, dan sama sekali tak terima dengan apa yang menimpanya. Puncaknya adalah pada saat GP Mugello, Pedrosa menolak untuk berjabat tangan dengan Simoncelli.

Tindakan yang dilakukan Pedrosa bagaikan dua sisi mata uang. Di satu sisi sikap itu wajar karena manuver Simoncelli, Pedrosa harus mengalami cedera yang cukup parah dan absen beberapa balapan. Sementara di sisi lain, apa yang dilakukan Pedrosa tak semestinya dilakukan. Selaku pembalap ia sudah seharusnya mengerti akan resiko tersebut. Spekulasi ini tak akan pernah bisa berhenti apabila terus diperdebatkan. Karena pada dasarnya hal tersebut merupakan implementasi akan pemahaman yang subjektif.

Berselang beberapa bulan kemudian, Simoncelli harus meregang nyawa akibat kecelakaan fatal di Sirkuit Sepang Malaysia. Di sinilah titik balik dari sikap yang ditunjukkan oleh Dani Pedrosa. Ia terkejut dan syok, sangat terlihat dari mimik wajahnya sesaat setelah balapan dibatalkan oleh panitia lomba. 

Kepergian Marco Simoncelli menuntun The Litle Spaniard ke arah yang lebih sportif. Pembawaannya menjadi jauh lebih tenang dan menghindari konflik dengan pembalap lain. Beberapa hal yang membuktikan hal tersebut adalah Misano 2012. Di balapan yang sangat penting ini, Pedrosa ditabrak dari belakang oleh pembalap Ducati Pramac, Hector Barbera. Tidak ada ekspresi yang menunjukkan sikap emosional berlebihan saat berjalan di area run-off. Pedrosa seolah mengerti akan resiko yang harus ia hadapi dan kekecewaan adalah bagian dari itu.

Seterusnya, tidak ada konflik berarti yang melibatkan dirinya. Setiap ada masalah pasti selalu selesai saat itu juga. GP Amerika 2016 saat ia menjatuhkan Andrea Dovizioso. Pedrosa langsung menghampiri untuk meminta maaf. Mugello 2018 saat ia menjatuhkan Crutchlow, sikap emosional pembalap Inggris tersebut tak mempengaruhinya untuk terus meminta maaf dan mencoba menjelaskan apa yang terjadi. 

Jerez 2018 saat kecelakaan besar melibatkan dirinya Jorge Lorenzo, dan Andrea Dovizioso. Namun tidak ada sikap emosional yang menunjukkan kekecewaan yang berlebih. 

Hidup ini terlalu singkat untuk memiliki musuh

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x