Mohon tunggu...
Isma Swastiningrum
Isma Swastiningrum Mohon Tunggu...

Berburu kala siang, menuliskannya ketika malam. http://pilea-eureka.blogspot.com/

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Ceritaku Tentang Jurusan Filsafat

8 Juni 2013   09:04 Diperbarui: 30 September 2015   09:59 0 0 1 Mohon Tunggu...

Aku nanya ke sahabat aku, kalau misalnya aku kuliah aku cocoknya ambil jurusan apa? Trus dia balas..

"Maa, maaf baru ada pulsa, kamu cocok di bidang yang berhubungan dengan praktek berpikir, mungkin filsafat"

Trus aku balas..

"Tapi aku nggak tahu prospek kerja filsafat??"

Waktu itu aku balasnya malam-malam. Ah kawan, masak iya ntar jadi kayak Socrates, keluyuran gak jelas lupa anak istri, hahaha. Atau kayak Kant yang hidupnya dogmatis banget, giliran sehari berubah ditertawakan. Yang paling layak mungkin Hegel sama Sartre filsuf plus dosen. Atau kayak Plato dan muridnya Aristoteles yang pada diriin sekolah.

Trus aku buka fesbuk, langsung aja ku tanya sama seorang teman "anak filsafat" universitas terkemuka disana (jujur aku kagum sama anak ini, produktif banget nulis)

I: Kak, kalau boleh tahu.. prospek kerja filsafat itu apa aja yaa?

G: Di jurusan filsafat kita dikasih alat-alat berfikir. Kerja bisa jadi apa aja. Sesuai keinginan dan passion-nya masing-masing. Mau jadi entrepreneur, mau jadi akademisi, mau jadi artis, pialang saham, penulis, PNS, up to you. Mungkin kesannya jadi ketidakjelasan prospek kerja, tapi sesungguhnya adalah kebebasan prospek kerja.

*Dengan sok tahu aku membalas

I: Menurutku yang paling cocok jadi pemimpin kali ya Kak.. Kayak ketua Badan Intelejen Negara, karena menurutku lagi di filsafat sangat susah untuk tidak menjadi jenius.

Di filsafat itu yang menarik, kalau rata-rata orang memakai otaknya 5%, orang filsafat mungkin akan memakainya hingga >15%. Ada hal menarik juga saat aku mampir di sebuah fanpage filsafat gitu, ini saat adu argumen.. salah satu komennya mendobrak banget, aku yang gini aja bacanya udah ngrasa beratnya minta ampun..ehhh, ada orang yang nyerocos dengan santai "Apa nggak ada yang lebih ekstrim??". Jadi dia pikir "bacaan berat gini kurang ekstrim???". Benar dah kata orang, kalau kita pintar, ada yang lebih pintar dari kita.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x