Mohon tunggu...
Islah oodi
Islah oodi Mohon Tunggu... Wong Ndeso

Penikmat kopi

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Ambyarisme di Puncak Pencapaian

28 November 2019   17:03 Diperbarui: 29 November 2019   03:53 32 1 0 Mohon Tunggu...
Ambyarisme di Puncak Pencapaian
Sumber pixabay.com

Puncak sebuah pencapaian tak selamanya mampu mengatasi atau menjadi jalan keluar dari kemelut dan problematika yang menjadikan diri ini seakan jatuh pada titik nol. Seperti pula pada dia; tokoh Aang dalam film Avatar the Legend of Aang. Walaupun keempat pengendalian elemen telah dikuasai tak lantas menjadikan dirinya mampu mengakhiri angkara raja api Ozai. Ambyarisme, buntu, titik nol melanda diri sang Avatar. Apa yang akan Avatar lakukan?

Pada episode akhir-akhir. Avatar pergi ke suatu tempat yang tidak diketahuinya. Ia bingung, tak tahu arah, ambyar serta berbagai pikiran berkecamuk dalam benak. Hingga ia sadar saat itu berada pada pulau yang tak lain adalah pulau dari kura-kura singa. Satu pelajaran penting yang ia dapat, ialah ia menemukan sebuah "kebijaksanaan" yang selama ini ia cari.

Avatar Roku, Avatar Kyoshi, Avatar Kuruk dan Avatar Yangchen hanya memberikan "kebijaksanaan"; untuk mengakhiri sebuah peperangan tak ada cara lain kecuali harus membunuh ia yang menjadi musuh. Namun "kebijaksanaan" tersebut serasa bukan jalan untuk mencapai perdamaian. Bagaimana mungkin cita-cita perdamaian ditempuh dengan membunuh? Begitulah pikirin yang dirasa oleh Avatar Aang.

****
Peradaban manusia masa kini jelas lebih unggul dibandingkan masa-masa sebelumnya. Ibarat sang Avatar yang telah menguasai keempat pengendalian elemen, tapi ia lemah, tak tau arah dan bahkan kehilangan jati dirinya, seperti itu pula yang generasi masa kini. Ambyarisme diri. Mampu berbuat apapun, namun tak ia temukan sebuah kedamaian hati, yang ada malah seperti anak ayam kehilangan induknya. Bebas, tapi seakan kebebasannya menjadi marabahaya untuk dirinya. Anak ayam butuh bimbingan, butuh sebuah "kebijaksanaan" yang mampu menentramkan diri.

Dilihat dari cerita Avatar, apa yang ia dapatkan? Ia mendapatkan pengalaman dari kura-kura singa bahwa pada zaman dahulu generasi mereka---kura-kura singa---tidak mengendalikan elemen alam, melainkan mereka mengendalikan elemen yang ada pada diri mereka sendiri (yin dan yang). Maka saat mereka mampu mengendalikan diri mereka, saat itu pula mereka menemukan kedamaian tanpa harus mengorbankan hal-hal diluar diri mereka.

Apa yang kita dapatkan dari "kebijaksanaan" sang kura-kura singa? Ada beberapa hikmah yang dapat kita gali. Pertama ada sebuah ajaran mulia yang terselip, yaitu tentang seberapa pun banyaknya pencapaian, berkeranjang-keranjang ilmu pengetahuan dan mampu menguasai segala-galanya akan percuma jika yin dan yang (nafsu) yang ada pada diri tak mampu ia kendalikan. P

ada poin pertama kita tahu bahwa untuk apa koar-koar kebenaran jika toh diri masih berada pada titik salah. Apa gunanya mengibarkan semangat jihad menumpas kemaksiatan pada orang lain jika toh yinnya (nafsunya) sendiri pun masih bergejolak melakukan hal bejat. 

Dewasa ini banyak oknum bahkan sekelompok orang yang bersembunyi dibalik konsep "wajib dakwah" untuk menghakimi mereka yang dianggap salah. Tapi bukannya benar bahwa dakwah hukumnya wajib? Ya, wajib. Dan diwajibkan yang paling awal dan utama ialah mendakwahi diri sendiri, lalu keluarga dan kemudian merambah ke lainnya. Dan begitulah fase-fasenya.

Kedua apa yang dapat diambil dari "kebijaksanaan" kura-kura singa? Ialah sebuah ajaran agar tidak lupa pada hal-hal luhur para leluhur baik itu budaya ataupun tradisi. Sang Avatar memilih mengakhiri angkara raja api Ozai dengan ia mengendalikan apa yang ada dalam diri. Avatar dalam satu dayung telah menempuh dua hal bersamaan; kedamaian tanpa menghancurkan.

Dan pada generasi maha cerdas kini mereka disatu sisi mencapai pencapaian emas, tapi disisi lain mereka melupakan hal-hal katrok, ndeso, jadul, norak yang diwariskan oleh para leluhur. Padahal banyak hal yang sebenarnya obat manjur untuk mengobati ambyarisme generasi masa kini. Satu hal contoh bagaimana cara merekatkan ke-bhinneka-an yang kini terasa tercerai-berai? Banyak konsep-konsep ilmiah yang ditawarkan, namun apa hasilnya? Hanya menjadi wacana. Dan jauh sebelum ribuan konsep njerimet perpaduan banyaknya ilmu pengetahuan, para leluhur cukup menawarkan satu resep; Tepo Seliro

Lalu bagaimana menciptakan kesetaraan sosial? Para leluhur cukup menjawab jangan adigang-adigung-adiguna. Lalu bagaimana agar tak tercipta fanatisme yang meretakkan persaudaraan? Para leluhur menjawab ojo rumongso iso, iso'o rumongso (jangan merasa bisa, bisalah merasa) konsep jadul inilah yang meleburkan egoisme kebenaran yang pada akhirnya menjadi dinding fanatisme. 

Lalu bagaimana cara mengimplementasikan sila ke-2 tentang kemanusiaan yang beradab? Para leluhur cukup menjawab cah angon-cah angon, dimana cah angon (anak penggembala) cukup meng-angon-i diri, rasa, raga dan jiwa untuk bertindak sesuai wilayahnya.

Dan apa hikmah dari kura-kura singa yang ketiga? Ialah senada dengan ajaran yang selalu disampaikan oleh Bapak Pluralisme kita, Gus Dur, sebuah kaidah indah Jalbul mashalih wa dar'ul mafasid (mendatangkan maslahat dan menolak bahaya). Dan sebenarnya masih banyak lagi hal-hal yang mungkin ada sisi positifnya, namun karena si author lagi capek baru pulang dagang cilok, maka cukup segini saja apa yang bisa saya tuliskan. Satu hal lagi, tulisan ini layak untuk diingkari.[]

Pinggi Sawah, Cilacap 281119

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x