Mohon tunggu...
ISJET @iskandarjet
ISJET @iskandarjet Mohon Tunggu... Storyteller

Follow @iskandarjet on all social media platform. Learn how to write at facebook.com/isjet. Click www.iskandarjet.com. #katajet. #ayonulis. Anak Betawi. Alumni @PMGontor, @uinjkt dan @StateIVLP. Penjelajah kota-kota dunia: Tokyo, Hong Kong, Kuala Lumpur, Langkawi, Putrajaya, Washington DC, Alexandria (VA), New York City, Milwaukee, Salt Lake City, San Francisco, Phuket, Singapore, Rio de Janeiro, Sao Paulo, Dubai, Bangkok.

Selanjutnya

Tutup

Media Artikel Utama featured

Berkat WhatsApp, Jam Kerja Bertambah, Pendapatan Berkurang

29 Oktober 2015   18:49 Diperbarui: 23 Mei 2019   14:29 0 64 43 Mohon Tunggu...
Berkat WhatsApp, Jam Kerja Bertambah, Pendapatan Berkurang
wikipedia

Dulu, di tahun 2008, seorang teman kantor dengan lantang berujar, “Ngapain lo pake BB. Nambah-nambahin kerjaan aja!”

Dia bilang begitu karena sudah merasakan sibuknya ke mana-mana bawa perangkat bergerak yang di dalamnya ada aplikasi email yang selalu aktif dan siap berbunyi tang-ting-tung setiap ada surat masuk.

Waktu itu dia pakai Nokia E62, sementara saya ceritanya mau membeli BlackBerry yang sedang naik-daun. Tujuannya ya kurang lebih sama dengan si teman tadi: agar bisa cek-cek email dan internetan setiap hari. Itulah sebabnya, di zaman dahulu itu, konsumen dikenalkan yang namanya paket browsing+email, paket BBM saja, paket lengkap, dan seterusnya (yang sekarang sudah tidak zaman lagi).

Alih-alih diberikan penjelasan apa beda BB dan Nokia, dia malah melarang saya beli gejet canggih.

Setelah sekian lama, atau bertahun-tahun setelahnya, nasihat teman tadi semakin hari semakin benar adanya. Setidaknya, aplikasi ponsel yang semula kita gunakan untuk bersenang-senang atau memenuhi kebutuhan pribadi, secara dramatis berubah menjadi media kerja baru yang tak terbantahkan. Ponsel yang kita beli untuk berkomunikasi, secara pasti berubah menjadi alat kerja yang semakin menjadi-jadi.

WA Jadi Meja Kerja

Mari kita bicara lebih spesifik. Menjurus ke satu aplikasi yang sedang sangat diganderungi karena mampu mengubah tagihan pulsa per pesan jadi tagihan data internet.

Tanpa kita sadari aplikasi WhatsApp yang semula hanya diciptakan untuk mengganti peran SMS dan menggeser dominasi BBM (sekarang dua misi itu terlaksana dengan baik), sekarang malah jadi meja kerja virtual yang membuat kita tidak bisa lepas darinya.

Sekarang coba cek lagi berapa Grup WA yang Anda punya. Saya yakin lebih dari satu. Dari sekian banyak grup tadi, akan ada satu yang isinya teman-teman kerja satu divisi atau satu departemen atau satu kantor atau satu grup perusahaan—yang dibuat untuk ngomongin kerjaan. Malah tidak sedikit pengguna WA yang punya 12 grup percakapan, sepuluhnya berisi grup kerjaan, satunya grup reuni, satunya lagi grup arisan.

Setiap saat jempol kita bekerja demi perusahaan.

Saat berangkat ke kantor, di tengah kemacetan berjam-jam, kita tetap bisa menjawab pertanyaan dan menyusun orderan atau menuntaskan pekerjaan yang tertunda. Di kantor, jempol masih menari untuk berkomunikasi dengan klien dan vendor di luar sana. Saat pulang kantor, kondisinya masih sama. Aplikasi WA masih berbunyi bergetar tiada henti, diselingi kiriman cerita-cerita dan gambar-gambar lucu yang tidak jelas siapa pembuatnya. Begitu sampai di rumah, notifikasi WA sudah sampai dua digit. Obrolan berlanjut. Sampai akhirnya, di atas kasur, mata yang sudah ngantuk dipaksa terus bekerja menatap layar ponsel yang tak berhenti bekerja.

Waktu istirahat tersita. Waktu bersama keluarga terpotong. Waktu untuk bersenang-senang raib entah ke mana.

Belum lagi kalau sudah berurusan dengan email dan lampiran di dalamnya. Kita semakin masygul di depan layar, tidak memperdulikan kondisi sosial di rumah atau di luar kantor.

Ironisnya, tidak ada perusahaan yang menganggap rutinitas kerja-pakai-jempol sebagai bagian dari pekerjaan (setidaknya berdasarkan obrolan saya dengan banyak teman di banyak kantor). Perusahaan tidak memperhitungkan gejet sebagai bagian dari kerja. Apalagi mengkalkulasi jam kerja di ponsel ke dalam sistem penggajian boro-boro ke dalam sistem penilaian karyawan.

Walhasil, tidak ada ceritanya karyawan, misalnya, dapat tunjangan pulsa agar bisa terus produktif bekerja via ponsel dengan memanfaatkan aplikasi WA dan sejenisnya. Sementara pendapatannya berkurang untuk beli kuota internet biar bisa online terus.

Jam kerja pun masih diberlakukan sebagai biasa, kalau telat potong gaji dan berpengaruh ke penilaian karyawan. Padahal, tidak sedikit yang memanfaatkan waktu macet di jalan untuk tetap bekerja untuk perusahaan.

Persepsi perusahaan memang belum menempatkan gejet dan perkembangan aplikasi sosial di dalamnya sebagai ‘sesuatu’. Bahkan masih ada perusahaan yang melarang karyawannya Facebook-an atau sama sekali menutup akses media sosial lewat jaringan internet kantor, dengan alasan media sosial hanya menghabiskan jam kerja, menghabiskan kuota internet dan menghambat produktifitas karyawan.

Padahal karyawan adalah manusia internet yang hidupnya selalu terhubung ke internet. Memang belum semua karyawan seperti itu. Tapi dalam waktu dekat, percaya deh, tidak ada lagi generasi yang tidak terhubung ke internet.