Mohon tunggu...
Zulkarnain El Madury
Zulkarnain El Madury Mohon Tunggu... Lahir di Madura pada tahun 1963,

Seorang pemburu kebenaran yang tak pernah puas hanya dengan " katanya". Adalah Da'i Pimpinan Pusat Muhammadiyah peeriode 1990 sd 2007, selanjutnya sebagai sekjen koepas (Komite pembela ahlul bait dan sahabat) hingga 2018, sebagai Majelis Tabligh/Tarjih PC. Muhammadiyah Pondok Gede, Sebagai Bidang Dakwah KNAP 2016 -219 . Da'i Muhammadiyah di Seluruh Tanah air dan negeri Jiran ..pernah aktif di PII (Pelajar Islam Indonesia), Tinggal dijakarta

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Bincang Wahabi Dengan Kang Musthofa Nahrawandaya

17 Oktober 2015   07:57 Diperbarui: 17 Oktober 2015   07:57 382 1 1 Mohon Tunggu...

 

Masalah wahabi bagi kelompok Nahdiyin dipandang sebagai sosok menakutkan,  sades,  dan kejam. Gambaran baru di munculkan Seiring peralihan kepemimpinan NU dari Hasyim Musyadi ke tangan Prof. Dr. Said Aqil Syiroj MA yang jebolan wahabi,  tetapi setelah kembali ketanah Air menjadi sosok Tokoh anti Wahabi yg cukup Narsis.

"tema wahabi" terus bergulir menjadi bola salju,  menimbulkan resistensi yg cukup alot ditengah masyarakat. medsos menjadi gendrang perang pro dan kontra wahabi. Lain di jejering sosial,  lain pula diarena dialog, debat bebas,  sarasehan, bertemu tokoh tokoh wahabi dan rivalnya saling mengklaim benar , tidak ada yang salah.

Mushthofa Nahrawandaya, salah satu tokoh Muda Muhammadiyah, yg sering tampil mewakili Muhammadiyah di media tv, menyarankan PP. Muhammadiyah,  terutama harapan disampaikan kepada Prof. Dr Yunahar Ilyas,  perlunya menjelaskan sikap muhammadiyah dan apa itu "Wahabi" . Perlu pp. muhammadiyah mengadakan diskusi/Dialog sehari, yg membicarakan kupas tuntas masalah Wahabi.

Terlebih terjadi persepsi berbeda antara Buya Yunahar Ilyas dg petinggi muhammadiyah yg lain,  misalnya pandangan sekilas prof. Muhammad Athahillah,  Dr. Haedar Nashir dan Buya Syafii Maarif. Mengsyaratkan standar intelektual yg berbeda didalam memahami sejarah wahabi. Obyektivitas mereka tidak bisa dipertahankan dalam terhadap sebuah subyek  sejarah. Pengaruh dan bias orang lain yg membawa aroma kurang sedang menjadi modal menilai,  bahkan terpasung kelompok antipati.

Itulah yg disesalkan Mushtofa Nahrawandaya,  sang pioner Muhammadiyah yg lantang suaranya mengganyang ketidak adilan media, ketika BNPT bertindak brutal terhadap media Islam.

Karena "Masalah Wahabi", menurutnya sudah menjadi nyanyian umat tiap hari,  berkolaborasi dengan usaha menyudutkan sunni sebagai biang kerok kerusuhan di seluruh dunia,  dilain sisi menampilkan  sosok Syiah yg seolah moderat. Ada peran anti dan mendukung,  saling meng-eksploitasi kebenaran kelompoknya. 

Kemudian pengikutnya berada dalam kendali aktor intelektualnya yg memerankan anti dan pro wahabi,  selain dari wahabiyun itu sendiri yg sensasional memerankan ketokohannya ditengah masyarakat yg  berbeda.

Penulis  beranggapan masalah wahabi akan terus bergulir dan karena dirasakan sebagai ancaman kepada anti Wahabi. Dan Anti Wahabi juga menjadi ancaman kepada yang pro wahabi,  positif dan negatif sudah pasti ada,  peran pro dan kontra tidak akan pernah tuntas,  karena dunia menuntut keduanya tetap bicara.

Wahabi bisa terlihat kejam dari mana sudut pandang dilakukan, sebagaima kekejaman lain kelompok terhadap kelompok lain, karena melihat sudut pandang berbeda,. Kesimpulannya,  biarlah bergulir keduanya untuk saling mencari jati dirinya sebagai sosok Islam.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x