Iskandar Mutalib
Iskandar Mutalib pengabdi Ilmu

Pengabdi Ilmu

Selanjutnya

Tutup

Politik

Tangkap Pengusung Bendera Terorisme di Indonesia

9 November 2018   05:18 Diperbarui: 9 November 2018   11:07 547 2 0
Tangkap Pengusung Bendera Terorisme di Indonesia
Foto ilustrasi

KABAR mengejutkan datang dari Kota Mekkah, Arab Saudi. Imam besar organisasi Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab ditahan Polisi Mekkah lantaran di rumah yang ditempati terpasang bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid.

Pemerintah Arab Saudi melarang keras segala bentuk jargon, label, atribut, dan lambang apa pun yang berbau terorisme seperti ISIS, Al-Qaedah, Al-Jama'ah al-Islamiyyah dan segala kegiatan yang berbau terorisme dan ekstremisme.

Bahkan, negara Arab Saudi, tempat kakek-nenek buyut Rizieq Shihab dilahirkan, melarang keras semua aktivitas terorisme. Anak buah King Salman memantau seluruh pergerakan penduduknya di media sosial (medsos) yang berbau terorisme karena itu sangat dilarang, masuk dalam kriteria pidana berat.

Belum terdengar dalih dari para pejuang bendera tahid Indonesia yang biasanya berteriak kalau bendera hitam yang terpasang di kediaman Rizieq Shihab bukan bendera teroris. Itu bendera tahid yang menjadi kebanggan umat muslim seluruh dunia. Bendera hitam itu bukan milik ISIS, Al-Qaeda, Jamaah Islamiyyah ataupun Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Itu bendera tahid yang menjadi simbol perlawanan Nabi Muhammad SAW.

Anehnya, pembelaan yang dilakukan orang nomor satu organisasi FPI berbeda seratus derajat. Tidak adalagi keyakinan bahwa itu bendera tauhid. Bendera perang zaman rosul. 

Berkata secara tegas kepada Kepolisian Mekkah bahwa sah-sah saja umat muslim membentangkan bendera tahid di manapun berada. Yang keluar malah bantahan bahwa Rizieq Shihab tidak memasang bendera tersebut. Ada orang yang sengaja memasang bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid di depan rumahnya. Ia minta polisi mengusut peristiwa itu.

Berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di Indonesia. Tentu kita semua belum lupa dengan peristiwa pembakaran bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang dilakukan tiga pemuda anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) di Garut beberapa waktu lalu.

Peristiwa tersebut membuat tensi politik di Indonesia memanas. Para pecinta bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid meyakini seribu persen kalau Banser melecehkan umat muslim lantaran membakar bendera tahid.

Walaupun telah berulangkali diberi penjelasan oleh ulama, kiai, tokoh masyarakat, imam Masjid Istiqlal dan pemerintah bahwa bendera yang dibakar tiga pemuda Banser tersebut bendera HTI.

Para pejuang bendera tahid tetap berkeyakinan kalau Banser membakar kalimat tauhid. Apalagi kemudian organisasi HTI yang telah dibubarkan pemerintah membantah kalau bendera bertuliskan kalimat tauhid tersebut bendera mereka. Mereka sama sekali tak memiliki bendera.

Walaupun rekam jejak digital tidak bisa dibantah begitu saja oleh para pengurus HTI. Sebab, setiap kali melakukan aksi demonstrasi para pengikut HTI selalu menyertakan bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid. Tidak sedikit yang menjadikan bendera itu sebagai alas duduk.

Yang menjadi pertanyaan, apakah pembelaan terhadap bendera bertuliskan kalimat tahid yang dibakar Banser pesanan politik atau bibit-bibit ISIS tumbuh subur di Indonesia?.

Mengapa juga para pembela bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid tidak pergi ke Arab Saudi menentang pelecehan pemerintah Arab terhadap umat muslim karena telah menangkap dan mengintrogasi imam besar organisasi FPI yang memasang bendera tahid di kediamannya?.  

Paling tidak melakukan demo di depan kedutan besar Arab Saudi menolak segala bentuk penyamaan antara bendera tahid dengan bendera ISIS ataupun terorisme lainnya.

Mari kita bahas satu persatu pertanyaan yang menyeruak tersebut. Pertama, memanasnya kasus pembakaran bendera HTI oleh tiga pemuda Banser NU di Garut, Jawa Barat (Jabar) lantaran bertepatan dengan tahun politik. Semua isu bisa digoreng untuk menjatuhkan wibawa pemerintahan Joko Widodo (Jokowi).

Isu yang paling mudah dimainkan adalah isu SARA (suku, agama,ras dan antargolongan). Terutama isu agama. Elit politik yang mengolah isu pembakaran bendera HTI menjadi penodaan agama memahami betul psikologi umat muslim Indonesia yang mudah di sulut dengan berita-berita terkait penodaan agama.

Sayangnya hampir semua umat muslim rasional Indonesia memahami tujuan para produser konflik tersebut. Mereka ingin menciptakan Pemilihan Presiden (Pilpres) rasa Pilkada DKI Jakarta yang berhasil menjungkalkan Ahok. Dengan harapan duet Jokowi-KH Ma'ruf tidak lagi dipilih umat muslim Indonesia.

Kedua, aksi demonstrasi terakhir pasukan bela bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid telah secara terang-terangan meneriakkan hasteg ganti presiden. Tentu saja kepala semua orang akan mengarah pada para deklarator #GantiPresiden yang bernaung di bawah bendera Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Sebut saja nama Mardani Ali Sera, Neno Warisman dan lainnya.

Mengapa kemudian mereka tidak berupaya membangun #GantiKingSalman. Sebab, Arab Saudi telah melecehkan sekaligus menghina kalimat tauhid yang disamakan dengan bendera teroris ISIS, Al-Qaedah, Al-Jama'ah al-Islamiyyah dan lainnya. Melakukan upaya mengajak seluruh umat muslim dunia melawan Arab Saudi karena telah melecehkan bendera bertuliskan kalimat tauhid. Mengapa memasang bendera bertuliskan kalimat tauhid dilarang dan diinterogasi oleh pemerintahan yang notabene tempat agama Islam diturunkan pertama kali.

Ketiga, Pemerintah Indonesia harusnya meniru apa yang dilakukan pemerintahan Arab Saudi dengan berlaku tegas terhadap upaya pihak-pihak tertentu yang menginginkan pembentukan negara Islam. Jangan hanya bibit-bibit terorisme yang di tangkap. Semua simbol yang menyerupai atau berkaitan dengan organisasi terorisme harus ditindak. Apapun dalihnya, siapapun pelakunya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2