Mohon tunggu...
Isharyanto Ciptowiyono
Isharyanto Ciptowiyono Mohon Tunggu...

Pencari Pengetahuan

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Artikel Utama

Komik Indonesia, dari Asing ke Wayang

9 Mei 2013   04:22 Diperbarui: 24 Juni 2015   13:52 531 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Komik Indonesia, dari Asing ke Wayang
1368053483306244720

[caption id="attachment_259962" align="aligncenter" width="576" caption="Ilustrasi/Admin (Romana Tari)"][/caption]

Komik, sebuah karya seni yang menyajikan suatu kisah tertentu dalam ujaran yang disertai gambar, nampaknya merupakan bagian penting dari unsur kebudayaan yang tumbuh di Indonesia. Bahkan tidak sedikit, pengamat asing yang mengatakan bahwa komik di negeri ini adalah sumber utama untuk memahami mentalitas bangsa  kita. Pada saat saya duduk di SD, ada “ancaman” keras dari ibu saya agar menghindari kegemaran membaca komik supaya tidak kecanduan. Dan memang, komik—di tengah minimnya akses hiburan alternatif saat itu—menjadi bacaan segar yang “memabukkan.” Seorang kawan saya waktu itu, bernama Lisa, akhirnya harus memakai kacamata (akibat sering membaca komik, termasuk ketika mengikuti pelajaran di kelas) dan dijuluki sebagai “Ratu Komik.”

Di Prancis, sejak 1958, E. Morin, seorang ahli sosiologi membela komik di sebuah edisi Majalah Le Nef. Karena dorongan F. Lacassin dan sineas Alain Resnais, sebuah Klub Komik dibentuk (1962), yang kemudian berubah menjadi Pusat Kajian Sastra Grafis (1964). Sejak saat itu, pameran dan konggres yang membicarakan komik bermunculan. Pada tahun 1967 Museum Arts Decoratifs menyajikan historiografi komik, buah karya Masyarakat Pengkaji dan Peneliti Sastra Bergambar. Televisi kemudian menyediakan slot khusus untuk membahas komik. Pada tahun 1971, di Universitas muncul kurikulum yang membahas “Sejarah dan Estetika Komik.”

Komik pernah menjadi bungkus diabadikannya mitos yang berkembang dalam memori publik. Di Amerika Serikat, pada tahun 1930-an berkembang mitos adanya sosok pahlawan dunia yang mampu memperjuangkan kejayaan liberalism sehingga muncullah berbagai tokoh untuk menafsirkan sosok semacam itu. Kita dapat melihat dalam komik-komik Brick Bradford, Flash Gordon, Jungle Jim, Terry and The Pirates, dan Superman.

Di Indonesia, umumnya teorisasi komik masih langka, tetapi hal itu bukanlah penghalang besar. Kata komik diterima sebagai istilah untuk mendefinisikan “sastra bergambar.” Ada pula, pekerja seni yang berpandangan bahwa istilah yang lebih tepat adalah “cerita bergambar” atau cergam, profesinya disebut “cergamis, jadi bukan komikus. Bahkan dulu pernah muncul Ikatan Seniman Tjergamis Indonesia (Ikasti). Berbagai karya komik di Indonesia dicetak dan diedarkan tetapi bukan untuk didokumentasikan sebagai rangkaian sejarah sastra. Dengan harga murah, komik dicetak pada kertas bermutu rendah. Sampulnya tipis, jilidnya tidak kuat, dan tidak ada kewajiban melakukan arsip terhadapnya. Kalangan peneliti acapkali mengeluhkan kondisi ini. Sumber data pada akhirnya dihimpun dengan cara detektif. Di negara Barat, komik diperlakukan bagus. Komik dimuat dalam surat kabar, dikeloksi orang, diasuransikan, sehingga penerbitannya pun bertahan. Faktor tersebut yang telah membuat sebagian besar produksi komik dilestarikan.

Namun, untuk sejarah pertumbuhan komik, Indonesia kaya akan data. Segera setelah kemerdekaan (1945), komik berkembang dan menghalangi ambisi para pedagang Amerika untuk menyerbu pasaran Indonesia. Tetapi kebanyakan koran, karena keterbatasan ekonomi, tidak melulu menyediakan tempat yang layak untuk “penayangan” komik ini.  Tidak terlalu banyak pengelola penerbitan yang berdedikasi khusus untuk komik, kebanyakan hanya memandang sebagai salah satu subunit usaha atau sebagai produk sambilan. Pada menjelang tahun 1965, karena krisis ekonomi, banyak usaha penerbitan yang bangkrut. Penjualan komik tersendat-sendat karena masalah ekonomi, mode, ancaman pendidik atau politik. Produksi mengikuti selera pembaca, seperti terjadi dalam komik mengambil cerita Mahabarata dan Ramayana, atau legenda-legenda yang muncul di Medan dan Surabaya.

Komikus bermunculan silih berganti. Komikus profesional masih langka, setidaknya hingga dekade 1970-an. Dalam situasi ini, Kossasih berjasa besar mempopulerkan komik dengan cerita wayang, atau juga Taguan Hardjo, walaupun bukan komikus profesional, tetapi memiliki bakat yang membuatnya bertahan dalam perubahan mode.

Dari sudut panjang sejarah, jika berminat merunut sampai ke masa lalu, komik sebetulnya kelanjutan dari “cerita bergambar” yang dapat diketemukan di jambangan Yunani, relief di pintu Katedral, atau permadani Bayeux. Pada abad pertengahan, tulisan-tulisan, relief, digunakan sebagai titik tolak kata-kata perenungan.

Candi Borobudur di Indonesia termasyur karena relief-relief yang menggambarkan adegan untuk membimbing pengunjung melakukan perenungan. Di Candi Prambanan epos Ramayana dipahat untuk membimbing umat. Sejak zaman Majapahit, sudah populer adanya wayang beber yang tak lain merupakan layar terkembang untuk tutur berdasarkan gambar yang mengambil setting cerita Panji. Kemudian, wayang kulit, secara tidak langsung menunjukkan pencitraan lewat gerak dan kecepatan olah hidup tiap karakter dari boneka-boneka wayang yang ditampilkan. Suatu kondisi yang sama saat kita membaca cerita dalam komik.

Pada masa Hindia Belanda komik sudah ada dalam koran-koran sebelum Perang Dunia II. Harian berbahasa Belanda, De Java Bode (1938) memuat komik karya Clinge Doorembos yang berjudul Flippie Flink dalam rubrik kanak-kanak. Petualangan Flash Gordon pertama kali dimuat di mingguan De Orient. Surat kabar lain yang berbahasa Melayu menyediakan juga tampilan untuk pemuatan komik ini. Koran Sin Po, seminggu sekali memuat komik humor. Pada tahun 1930, koran ini tiap minggu menayangkan karya komikus muda Kho Wang Gie. Pada 1931, tokoh gendut Put On segera akrab dengan pembaca dan dimuat tiap Jumat atau Sabtu. Ini berlangsung hingga koran ini dilarang terbit (1931-1960). Kemudian koran Warta Bhakti meneruskan pemuatan itu. Kho Wang Gie lalu memperoleh kesempatan mengisi satu halaman penuh di Pantja Warna, majalah bulanan yang satu penerbitan koran Sin Po. Karakter mirip Put On coba diorbitkan oleh mingguan Star Magazine (1939-1942) dalam sosok Si Tolol. Sesudah perang, mingguan Star Weekly juga memunculkan tokoh lain bernama Oh Koen.

Namun demikian, komik semarak sejak awal Perang Dunia II. Di Surakarta, mingguan Ratu Timur memuat legenda Mentjari Puteri Hidjau yang disusun oleh Nasrun A.S. Zaman Jepang, koran didedikasikan untuk propaganda di samping sensor ketat dan pemberangusan media lain. Harian Sinar Matahari di Yogyakarta menampilkan sosok Pak Loeloer (1942) di samping cerita Rara Mendoet yang disusun oleh B. Margono.

Setelah kemerdekaan, supply kertas merupakan ancaman bagi setiap usaha penerbitan. Tetapi Harian Kedaulatan Rakyat di Yogyakarta tiap minggu memuat Kisah Pendudukan Jogja yang disusun oleh pelopor komik Indonesia, Abdulsalam. Lalu Harian Pikiran Rakyat di Bandung memuat kisah Pangeran Diponegoro. Akibatnya, serbuan karya-karya komik Amerika tidak terbendung. Misalnya Tarzan hadir di Keng Po sejak tahun 1947. Kemudian, publik menggemari tokoh-t0koh yang pernah populer di Amerika seperti Rip Kirby (karya Alex Raymond), Phantom (karya Wilson Mc Coy), Johny Hazard (karya Frank Robin), dan sebagainya, terutama sejak 1952. Mingguan Star Weekly menyajikan Sie Djin Koei, seorang jenderal dan pendekar dari Wangsa Tan. Kalau tidak keliru, cerita mirip kisah “Seribu Satu Malam” ini diadaptasi dalam bahasa Jawa dengan judul “Manggalayuda Sudira” yang kemudian sangat populer sebagai salah satu lakon kethoprak, terutama di Yogyakarta dan Jawa Timur (mohon koreksi pembaca jika data saya keliru). Komik Sie Djin Koei dapat dikatakan pelopor komik silat, yang belakangan populer sejak tahun 1968. Sejak tahun 1954, serbuan produk Amerika tersebut mengilhami tumbuhnya komik-komik yang dibuat oleh komikus Indonesia. Karena mau dibayar minim, maka biaya produksi dalam sebuah buku menjadi rendah, dan bahkan ada cerita lepas yang menjadi 30 halaman. Sejak saat itu, perkembangan komik dengan pemuatan di media massa koran relatif berhenti.

Variasi lain adalah penerjemahan atau kadang-kadang adaptasi cerita komik dari Amerika dan disusun kembali dalam tampilan khas Indonesia. Pada tahun 1954, tampil tokoh Sri Asih, sosok hero dan dimirip-miripkan dengan Superwoman oleh penerbit Melodi (Bandung) yang disusun oleh Kossasih. Lainnya, Puteri Bintang dan Garuda Putih karya Johnlo. Muncul juga karya Kong Ong, Kapten Komet, mirip Flash Gordon dan terjadi di luar planet bumi. Tampil pula Popo yang berkisah permusuhan abadi antara tikus dan kucing (mirip Mickey dari Disneyland).

Hampir 20 tahun perkembangan komik pasca kemerdekaan juga membawa nuansa baru yang lain. Tokoh-tokoh dalam cerita komik Barat dikenal di Indonesia, juga melalui komik. Sebutlah di sini Iskandar Agung, Robinson Crosoe, Marcopolo, Alice di Negeri Ajaib, dan karakter dari karya Andersen. Juga berbagai karakter dari karya sastra Eropa seperti Hamlet dan Malbecht, Taras Bulba, Si Bongkok dari Notre Dame, Kapal Selam Rahasia Nautilus, dan sebagainya.

Selanjutnya, ada kritik dan semangat untuk melarang menampilkan karakter asing dalam komik Indonesia,termasuk adaptasi sosok-sosok seperti Sri Asih. Sejak tahun 1954 mulai terdengar ancaman untuk melarang penerbitan komik seperti itu. Tetapi bagi penerbit hal itu disambut lain dan segera mereka mengubah halauan. Sejak itu muncul komik wayang, bersumber dari kisah Mahabarata dan Ramayana yang sudah tertenam dalam memori bangsa Indonesia dan itulah yang dianggap “kebudayaan khas Indonesia.” Komik Lahirnya Gathotktja (terbitan Keng Po), Raden Palasara (karya Johnlo), seri panjang Mahabarata karya Kossasih misalnya, sepanjang 1954-1955, dapat dikatakan sebagai rintisan hal itu. Kemudian muncul juga majalah yang dimaksudkan untuk media pendidikan, seperti Tjahaja dan Aladin, yang antara lain memuat dongeng-dongeng yang sudah dikenal oleh anak Indonesia seperti Pak Katung dan Bawang Merah Bawang Putih.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x