Mohon tunggu...
Isharyanto Ciptowiyono
Isharyanto Ciptowiyono Mohon Tunggu...

Pencari Pengetahuan

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Widodo, "Penyambung Kekuasaan" Soeharto

14 Oktober 2013   13:58 Diperbarui: 24 Juni 2015   06:33 0 0 0 Mohon Tunggu...

Barangkali satu diantara sekian banyak pejabat di masa Orde Baru yang dekat dengan Presiden Soeharto adalah Widodo Sutiyo. Fungsi pokoknya adalah penerjemah, terutama saat mendampingi Soeharto menerima tamu negara asing. Karena itu, tak heran tempat duduk Widodo disediakan secara khusus selalu di antara Pak Harto dan tamunya. Sejumlah album foto kenangan menjadi saksi kiprah Widodo yang telah 30 tahun mendampingi Pak Harto sebagai penerjemah.Menjadi saksi pembicaraan antara kepala negara tentu saja bukan tugas ringan. Ini karena dia harus bisa menjaga rahasia negara yang mungkin para menteri Pak Harto pun tidak ada yang mengetahui. "Satu kalimat pun tidak akan keluar dari mulut saya," ujar Widodo.

Selama tiga dasawarsa Presiden Soeharto berkomunikasi dengan dunia melalui tutur kata Widodo Sutiyo, juru bahasanya yang setia. Widodo yang berperangai penuh rasa humor yang tinggi dan rasa rendah hati yang sudah berurat akar, tidak pernah bersedia mengomentari isi percakapan yang harus diterjemahkannya karena ia memang terikat oleh kerahasiaan yang perlu dijaga dalam perundingan negara.

Pria kelahiran Purwakarta tahun 1939 ini berasal dari keluarga diplomat. Ayahnya pernah menjadi Atase Pertanian untuk Badan Pangan Dunia PBB (FAO) yang berkedudukan di Roma, Italia. Tahun 1984, atas prestasi Indonesia yang mampu berubah dari negara pengimpor beras menjadi negara yang berswasembada beras, Presiden Soeharto pernah menerima penghargaan dari badan ini.

Dengan kedudukan sang ayah, Widodo kecil menjalani kehidupan di Italia. Widodo kemudian menamatkan program studi Hubungan Internasional dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta dan memperoleh gelar sarjana (Drs). Widodo lalu menjadi diplomat karier di Kementerian Luar Negeri (1965). Ia juga sempat menjalani magang di Kedutaan Prancis di Jepang.Tahun 1968, Widodo memperoleh sertifikat kemahiran Bahasa Prancis dari International d’Administration Publique, Paris. Keterampilan berbahasa Prancis itulah yang menjadi cikal bakal menjadi pendamping Soeharto dari 1968 hingga lengsernya sang penguasa Orde Baru pada 1998.

Kisahnya ketika, Mayor Jenderal Widya Latief, salah satu asisten pribadi Soeharto, meminta Kementerian Luar Negeri untuk menyiapkan penerjemah yang menguasai Bahasa Prancis guna mendampingi Soeharto menerima Menteri Luar Negeri Kamboja. Puas dengan kinerja Widodo, Soeharto pun mengangkatnya menjadi penerjemah. Sebagai konsekuensinya, karir diplomat Widodo berhenti. Soeharto tidak pernah mau menunjuk penerjemah pengganti lainnya.

Dalam buku Soeharto:Untold Story beberapa bekas menteri Orde Baru mengatakan bahwa Soeharto sebenarnya lancar berbahasa Inggris. Hanya seperti halnya orang Prancis, Jerman, dan Jepang yang selalu menggunakan bahasa nasionalnya ke manapun, maka Soeharto juga berusaha selalu berbahasa Indonesia. Saya ingat saat masih kecil dan menonton siaran televisi tahun 1992, saat Soeharto menerima penghargaan dari Badan PBB untuk Pembangunan Kependudukan, ia menggunakan bahasa Indonesia di hadapan sidang PBB yang dipimpin Sekretaris Jenderal, Javier Peres de Cluair.

Menurut kesaksian Yusril Ihza Mehendra, mantan Asisten Khusus Menteri Sekretaris Negara, yang bertugas menulis teks pidato Soeharto, talenta Widodo luar biasa. Yusril mengatakan dia bisa menghabiskan 3 jam untuk mempersiapkan naskah pidato Soeharto tetapi sebagai penerjemah, Widodo mampu menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris atau bahasa Prancis hanya dalam 30 menit.

Dalam waktu itu, jika pers mengatakan, “Soeharto mengadakan pembicaraan empat mata dengan kepala negara asing”, maka yang terjadi adalah pembicaraan enam pasang mata. Widodo menempati kursi yang diletakkan tepat di tengah, diantara Soeharto dan tamu asing. Bahkan, saat mengadakan pembicaraan dengan Perdana Menteri Jepang Suzuki (1981), yang terjadi adalah 8 delapan pasang mata. Selain Soeharto dan Suzuki, 2 pasang mata lain adalah Widodo dan juru bahasa Jepang.

Sebagai bukan orang Jawa, Widodo kadang-kadang “kesulitan” menerjemahkan ujaran Soeharto. Maklum, sekalipun menjadi pionir pembicaraan dalam bahasa Indonesia, Soeharto bukan contoh penutur bahasa Indonesia yang “baik.” Sekalipun pada 17 Agustus 1972, Soeharto meresmikan penggunaan Ejaan yang Disempurnakan (EYD), tutur kata Soeharto tidak mengalir dan pengaruh bahasa Jawa tetap mengemuka. Widodo harus bekerja ekstra keras saat menerjemahkan kata-kata seperti “tut wuri handayani”, “gemah ripah loh jinawi”, beberapa diantara idiom Jawa yang acapkali dituturkan Soeharto. Pernah suatu ketika, Soeharto memaparkan proyek “Lahan Gambur Sejuta Hektar” di Kalimantan Tengah di hadapan tamu asing. Karena benar-benar tidak tahu, sebelum menerjemahkan, Widodo bertanya kepada Soeharto apa yang dimaksud dengan “gambut” itu.

Jangan lupa, Soeharto bukan tipe orang yang berterus terang terutama ketika berbicara di muka umum. Ekspresi, tutur kata, dan emosinya di hadapan umum begitu terjaga. Soeharto sendiri jarang melakukan presentasi di hadapan pers, termasuk saat menjelaskan kebijaksanaan negara. Semua diserahkan kepada juru bicara handal, Menteri Penerangan Harmoko, hampir selama 15 tahun. Suatu kejadian di tahun 1980-an mungkin penting untuk dikenang. Kala itu, Presiden Filipina Ferdinand Marcos yang berbicara kepada Soeharto mengajukan gagasan untuk memberikan otonomi khusus kepada Timor Timur, suatu kebijakan yang hampir pasti selalu ditolak Soeharto. Keesokan harinya, pers memberitakan berdasarkan penjelasan Marcos, Soeharto akan memberikan otonomi khsusus kepada Timor Timur. Ternyata yang terjadi adalah saat gagasan itu disampaikan, Soeharto sambil tersenyum dan manggut-manggut. Oleh Widodo diterjemahkan sebagai “Ya, saya paham” (Yes, I understand). Oleh Marcos, diterima sebagai “Ya, saya setuju” (Yes, I agree).

Suatu ketika Widodo mendampingi Soeharto menerima Presiden Republik Federasi Swiss (negara yang mengakui 3 bahasa resmi, yaitu Swiss, Jerman, dan Prancis). Presiden Swiss yang humoris mengatakan kepada Widodo, “bahasa Prancis Anda baik sekali. Anda harus minta kenaikan gaji kepada bos Anda (maksudnya Soeharto).Untuk menjaga kehormatan Soeharto Widodo menerjemahkannya,”Kerja Anda hebat. Sementara bos Anda makan, Anda diam saja.” Dan Soeharto pun tertawa geli menerima “terjemahan” itu.

Saat menerjemahkan hal yang lucu pun, Widodo harus bersikap formal. Setelah diungkapkan kepada Soeharto dan kemudian Soeharto tertawa, barulah Widodo ikut tertawa.

Sesudah Soeharto berhenti menjadi Presiden, Widodo kembali ke Kementerian Luar Negeri. Ia kemudian menjadi duta besar di Tahta Suci Vatikan (2002-2006). Sesudah pensiun pada tahun 2009, Widodo masih sibuk menerjemahkan buku dan menjadi penerjemah di Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Pertahanan.

Pada hari Minggu (13/10/2013), penerjemah dan diplomat senior itu meninggal dunia. Widodo meninggal dunia dalam usia 74 tahun karena menderita penyakit ginjal kronis.

Sosok Widodo telah menduduki tempat yang unik dalam sejarah pemerintahan Indonesia, sekalipun jarang dipublikasi. Widodo teguh menjalankan etik pemerintahan dengan tidak pernah membuka hal-hal yang pernah dilihatnya selama 30 tahun menjadi penerjemah Soeharto. Sosok Widodo adalah sosok yang tekun menjalani amanah yang disematkan kepadanya sekalipun harus memendam keinginan pribadinya. Dengan posisi itu, sebenarnya Widodo menjadi penyambung kekuasaan Soeharto. Ia menerima Bintang Mahaputra Utama. Sebagai orang dekat Soeharto, ia tidak bergelimpangan dengan kemewahan lazimnya kroni-kroni Orde Baru lainnya.

Selamat jalan sang penyambung kekuasaan.