Mohon tunggu...
Iwan Dani
Iwan Dani Mohon Tunggu... Music for humanity

Pengelana yang tidak pernah berhenti menimba ilmu. Menikmati hidup. Mensyukuri berkat Tuhan.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Musik Kontemporer dan Tanggung Jawab Etikal dalam Perspektif Agamben tentang Kontemporer

15 November 2019   14:08 Diperbarui: 15 November 2019   14:21 0 1 0 Mohon Tunggu...

Tony Maryana dan 3 orang rekannya duduk bersila. Mereka masing-masing memegang telpon genggam (handphone/smartphone) yang terhubung ke laptop dan tersambung pada alat elektronik seperti sound generator atau sound mixer. Jika Tony Maryana dan ketiga rekannya itu  melakukan sesuatu dengan telpon genggamnya seperti : mengusap-usap layarnya, berbicara (atau meniup ?) melalui mikrofonnya atau bahkan menggoyang-goyangkannya maka akan muncul bunyi tertentu yang keluar dari perangkat sound generator. Alhasil mereka menyajikan kepada para penonton sensasi bunyi yang dikeluarkan secara elektronik dari tindakan yang mereka lakukan terhadap telpon genggam.

Bunyi yang muncul seperti dengingan atau ciutan dan sesekali muncul suara rekaman manusia. Sajian ini oleh Maryana diberi judul : 'Eh, Sound ? Khlithih bunyi smartphone' dan ditampilkan pada October Meeting 2017. October Meeting adalah sebuah event musik kontemporer tahunan yang diselenggarakan di Yogyakarta oleh organisasi Art Music Today[i].

Bagi orang awam, rangkaian bunyi yang disajikan Maryana tidaklah seperti musik, setidaknya musik seperti yang ada dalam bayangan mereka. Di sana tidak ditemukan melodi, ritme (irama/rhythm), dinamika apalagi harmoni yang membangun musik yang mereka kenal. Namun sajian Maryana disebut musik kontemporer oleh para seniman musik dan penggagas acara October Meeting. Erie Setiawan (2019, wawancara) mengakui bahwa sulit untuk menjelaskan apa itu musik kontemporer. Dia hanya bisa dikenali melalui ciri-cirinya yang 'melawan' teori-teori musik yang sudah matang dan mapan seperti diterabasnya pentingnya melodi dan harmoni atau dinamika, timbre dan ritme. Hal ini menimbulkan pertanyaan : jadi, kalau sudah tidak ada lagi melodi, harmoni, ritme apakah musik itu ?

Barangkali musik cukup didefinisikan sebagai 'upaya manusia dalam mengorganisasi bunyi' sebagaimana diungkapkan John Cage (Cage 1961,3) :

If the word "music" is sacred and reserved for eighteenth and nineteenth century instruments, we can substitute a more meaningfull term : organization of sound.

 Persoalannya bukan pada definisi musik. Kita bisa menerima penjelasan sederhana Cage tentang musik. Dan memang seperti itulah adanya. Jika musik dibedah sampai ke elemen dasarnya, maka dia hanya terdiri dari 2 elemen saja : bunyi[ii] dan senyap (sound and silence) (Cage 1961). Namun apakah setiap bunyi yang kita dengar adalah musik ? Bagaimana dengan deburan ombak di pantai atau suara angin mendesir di pegunungan atau bahkan suara deru kendaraan di jalanan, apakah mereka adalah musik ?

 Suka Hardjana menegaskan bahwa semua musik adalah ciptaan manusia. Bahkan Tuhan pun tidak menciptakan musik, Tuhan menciptakan manusia (Hardjana 2018, h.98). Bunyi dan senyap diorganisasi atau disusun oleh seseorang. Inilah yang disebut mengkomposisi musik. Bunyi yang menjadi unsur musik bisa dihasilkan dari berbagai sumber bunyi, contohnya adalah : instrumen musik (gitar, piano, violin, drum dll.), suara manusia atau bahkan tubuh manusia (jentikan pada jari, tepuk tangan, siulan dll) atau bunyi yang disintesa secara elektronik seperti pada pertunjukan Tony Maryana di atas. Orang yang membuat komposisi bunyi ini disebut komposer.

 Musik sebagaimana karya seni lainnya tidak lepas dari persoalan estetika, masalah keindahan. Ketika berbicara soal estetik, musik tidak lagi sesederhana definisinya. Karena setiap musik memberikan sensasi yang berbeda pada setiap manusia yang mendengarkannya. Dalam kenyataan hidup kita sehari-hari kita menemukan fakta ada begitu banyak jenis musik : musik klasik barat, musik karawitan Jawa, musik dangdut, keroncong, jazz, rock dll. Faktual juga bahwa setiap musik ada penggemarnya sendiri-sendiri.

Seorang penyuka musik jazz belum tentu suka dengan musik dangdut atau musik rock. Seorang penggemar klasik barat akan mengatakan bahwa musik karya Mozart sangat indah. Namun tidak bagi seorang penggemar musik tradisional Batak. Seorang teman lulusan ISI Yogyakarta jurusan Seni Pertunjukan Musik yang berasal dari Kabupaten Tapanuli Utara pernah bercerita bahwa pada suatu ketika dia mengajak orangtuanya yang orang Batak asli datang ke kampusnya untuk menonton konser musik klasik di mana dia ambil bagian sebagai pemain. Namun baru satu repertoire ditampilkan, orang tua teman saya itu langsung keluar ruang konser. Ketika selesai konser, teman saya itu menemui orang tuanya dan bertanya kenapa keluar sebelum konser berakhir lalu orang tuanya menjawab "Ah, musik apa itu? Gak ada penyanyinya.."

 Dari kumpulan fakta itu kemudian muncul pertanyaan : apa yang menyebabkan musik bisa menimbulkan reaksi yang berbeda pada manusia? Apakah ada yang disebut musik yang indah secara universal yang disukai oleh semua manusia di bumi ini ?

 Sekelumit Tentang Estetika Musik Menurut Adorno

 Sesungguhnya diskusi tentang estetika musik sudah terjadi sejak beradad-abad yang lalu dan melibatkan para filsuf mulai dari era Yunani kuno seperti Plato, Aristoteles, Plotinus hingga Emmanuel Kant dan dari Theodor Adorno hingga Guy Sircello. Wacana  estetika sebagaimana sains terus mengalami perubahan dan pembaruan sejalan dengan perkembangan peradaban manusia. Di dalam tulisan ini saya tidak akan membahas terlalu dalam mengenai persoalan ini. Yang akan saya ungkapkan adalah pemikiran estetika di era post-modern yang melandasi estetika musik kontemporer khususnya teori estetika menurut Theodor Adorno.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x