Mohon tunggu...
Isa Rian Fadilah
Isa Rian Fadilah Mohon Tunggu... -

Penikmat kuliner

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Semua Mata Tertuju pada Leicester City

3 Desember 2015   21:38 Diperbarui: 3 Desember 2015   21:58 909
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bola. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

[caption caption="Para penggawa Leicester City sedang melakukan selebrasi"][/caption]

Siapa sangka Leicester City, tim yang baru promosi musim 2014-2015 setelah absen selama 10 tahun di Liga Premier Inggris, mampu melaju mulus dan menduduki puncak klasemen sementara terhitung sampai hari ini (28/11). Tim yang tidak memiliki sejarah mentereng ini sukses menyita perhatian para penikmat sepakbola di tanah Ratu Elizabeth maupun internasional berkat sepak terjang heroiknya di Liga Inggris musim ini. Padahal, peta kekuatan tim-tim Liga Inggris terkenal merata dan tidak melulu didominasi oleh 2 atau 3 tim. Lalu apa sebenarnya yang membuat The Foxes (julukan Leicester City)tampil menjadi sebuah fenomena?

     Mari kita tengok ke belakang saat terakhir kali tim asal Kota Leicester ini menduduki peringkat pertama Liga Inggris. Cukup lama, 15 tahun lalu, tepatnya Oktober 2000. Ya, ketika itu Leicester City duduk di puncak klaseman Liga Premier Inggris setelah menyapu bersih delapan pertandingan pembuka Liga.

Dan sebelum itu, Leicester City juga pernah memuncaki klasemen Liga Inggris, tapi sudah terlampau lama, tahun 1963! Di musim 2000-2001 peta kekuatan Liga Inggris tidak semerata musim ini. Saat itu hanya ada tiga tim terkuat; Manchester United, Liverpool, dan Arsenal, sedangkan kini Liga Premier Inggris sudah dihuni kekuatan-kekuatan baru macam Chelsea dan Manchester City. Oleh karena itu, bisa kita katakan bahwa prestasi Leicester City musim ini lebih baik dibanding musim 2000-2001 setidaknya sampai paruh musim.

[caption caption="Claudio Ranieri"][/caption]

     Kunci kesuksesan Leicester City musim ini ada pada sosok Claudio Ranieri. Ya, pelatih kawakan ini baru saja managani tim ini di awal musim 2015-2016. Perbedaan yang diberikan Ranieri semakin kentara karena sebelum kedatangan manajer asal Italia itu, Leicester City, di bawah polesan Nigel Pearson, susah payah bertahan di Liga Premier Inggris musim lalu dan hanya terpaut 6 poin atas Hull City, tim terakhir yang terlempar dari Liga Premier Inggris. Ranieri sudah berkiprah sebagai pelatih di tiga liga top dunia; Serie A, EPL, dan La Liga. Meski secara prestasi, dia tidak sesukses Jose Mourinho, Van Gaal, atau pun Jurgen Kloop, namun pengalamannya melatih sejak tahun 1988 membuatnya memiliki banyak referensi. Terbukti, segudang pengalamannya itu membawanya mengenyam sukses musim ini bersama Leicester City.

Terlalu dini memang menyebutnya sukses ketika liga belum usai, namun pencapaiannya sampai saat ini bersama Leicester City patut diberi kredit karena ia menangani tim dengan segala keterbatasan ditambah lagi dengan kompetitor-kompetitor tangguh Liga Premier Inggris. Dia punya cukup pengalaman di Liga Inggris saat dulu menukangi Chelsea selama empat musim (2000-2004) sebelum era Abramovic. Dan rupanya pengalaman inilah yang menjadi rujukan Ranieri sehingga mampu membawa Leicester tampil impresif di luar dugaan siapa pun.

[caption caption="Jamie Vardy"][/caption]

[caption caption="Riyad Mahrez"][/caption]

     Selain Ranieri, Jamie Vardy dan Riyad Mahrez juga bisa dianggap sebagai sosok berpengaruh yang menjadi kunci sukses Leicester City musim ini. Hingga akhir November Vardy dan Mahrez telah menyumbang 84 persen dari total gol Leicester City hingga pekan ke-14. Vardy sukses 14 kali mengukir nama di papan skor dan Mahrez 7. Pencapaian Vardy semakin lengkap setelah ia berhasil mencetak gol di 11 pertandingan berturut-turut memecahkan rekor legenda Manchester United Ruud Van Nistelrooy kala berjumpa Setan Merah di pekan ke-14 Liga Inggris.

Penyerang 28 tahun ini, yang dulunya hanya sekadar pesepakbola paruh waktu, memiliki gaya bermain seperti penyerang modern; suka mendribel, dan terampil memberi umpan silang. Kelebihannya terletak pada penyelesaian akhir, kecakapan menahan bola dan kontribusi bertahan. Meskipun demikian, dia tidak begitu baik dalam duel udara dan mengoper bola. Tidak jauh berbeda, dribel dan umpan silang yang akurat juga menjadi ciri Mahrez. Selain itu, pemain Timnas Aljazair ini juga memiliki kebiasaan melepesakan tembakan jarak jauh yang baik. Mahrez, sama halnya dengan Vardy, lemah dalam duel udara.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bola Selengkapnya
Lihat Bola Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun