Mohon tunggu...
Ali Warsito
Ali Warsito Mohon Tunggu... Seniman

Apa adanya, Mengalir Seperti Air

Selanjutnya

Tutup

Sehatdangaya Pilihan

Pilek dan Sariawan, Teman Sekaligus Ujian Kala Ramadan

28 April 2020   22:33 Diperbarui: 28 April 2020   22:57 21 1 0 Mohon Tunggu...

Puasa adalah Ujian

Puasa Ramadan selalu dirindukan seorang mukmin dimanapun berada. Bulan penuh ampunan, bulan penuh rahmat dengan pahala berlipat-lipat. Ada rupa ada harga. Konsekuensi logis dari semua kebaikan tersebut maka disertai ujian-ujian.

Dari subuh sampai maghrib tidak boleh makan, minum, berbuat keburukan dari yang paling halus seperti bersuudzon dalam hati sampai yang besar berbuat kejahatan di tengah masyarakat. Dari berbicara sia-sia sampai melakukan perbuatan syahwat. Bukan berarti kemudian berdiam diri. Justru harus semakin produktif bekerja dan beribadah.

Selepas berbuka puasa, malam hari dipenuhi dengan ibadah sholat tarawih dan tadarus Al Qur'an. Semua hal itu mesti dijaga selama sebulan penuh, dengan tren terjaga, semakin hari semakin naik kuantitas dan  kuantitasnya.

Tidak dapat dipungkiri, ujian puasa begitu komplit. Komprehensif semua aspek baik fisik-psikis, jiwa raga, mental-spiritual. Ujian tersebut begitu berat bagi kebanyakan umat Islam. Sehingga disebutkan dalam hadits Nabi,  "Berapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga saja."

Untuk itulah setiap orang Islam harus meningkatkan level spiritualitasnya dari level muslim menjadi mukmin sehingga mampu menjalankan puasa dengan berbagai ujiannya secara sukses, dan diakhir Ramadhan mampu mencapai level Muttaqin. Inilah level yang diimpikan setiap orang yang menjalankan ibadah puasa.

Ujian fisik adalah secuil ujian yang paling ringan bagi orang berpuasa. Tidak makan dan minum dari subuh sampai maghrib, bisa dimaknai sebagai perpindahan jam makan. Nabi SAW sendiri memberi kemudahan dalam ajarannya untuk mengakhirkan waktu kala sahur dan menyegerakan berbuka saat beduk maghrib. Betapa mudah dan tidak memberatkan.

Cuaca dan Ujian Fisik

Sedikit tantangan bisa datang dari cuaca. Daya tahan tubuh bisa lemah jika tidak bijak menghadapi cuaca. 10 tahun terakhir awal Ramadan selalu masuk di musim kemarau. 2010 di 10 Agustus, 2011 di 1 Agustus, 2012 di 20 Juli, 2013 di 9 Juli, 2014 di 28 Juni, 2015 di 18 Juni, 2016 di 2017 di 26 Mei, 2018 di 17 Mei, 2019 di 6 Mei, dan 2020 ini di 24 April.

Mungkin di beberapa daerah masih ada hujan, tetapi di Kota Kupang khususnya dan propinsi NTT umumnya sudah tidak ada hujan. Bisa difahami karena karakter klimatologi NTT cenderung kering dengan musim kemarau lebih panjang dari musim hujan. Tercatat hanya 4 bulan efektif diguyur hujan yaitu Desember - April.

Ketika kemarau, udara di luar begitu kering dan panas menyengat. Udara kering menyebarkan debu dan kuman yang amat halus yang dapat menganggu kesehatan. Jadi, saat puasa kali ini, aku sedikit mengalami tersumbat hidung karena pilek dan dititipi sariawan 1 buah di bibir bawah.

Pilek yang sering kurasakan di pagi hari, dari literatur yang kubaca,  lebih disebabkan karena alergi anomali udara dingin dan kering. Kalau muncul siang karena alergi debu. Disamping itu, ini mungkin yang lebih sering memicu yaitu kesukaan makanan pedas yang dibumbui cabai, bawang dan lada hitam. Ini agak susah diabaikan karena sudah jadi kesukaan. Hmm. Nah, pilek ini sering muncul tapi juga cepat hilang.

Sementara sariawan kecil bulat sedikit nyeri kalau tersentuh. Kepikir-pikir, bibir ini jadi manja, harus berhati-hati menyentuhnya. Saat terlupa agak perih terasa. Tapi dalam 3 hari biasanya juga segera sembuh sendiri. Alhamdulillah gangguan ringan, bukan termasuk penyakit berat.

Di musim wabah corona begini, kadang selintas menghubungkan gejala covid19 yang mirip flu, ada sedikit kekuatiran. Tapi tetap yakin tidak selama bisa menjaga kesehatan dan di rumah aja.

Bagaimana menyikapinya?

Selalu menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Sebisa mungkin tidak keluar saat terik siang dan berdebu, apalagi radiasi UV juga memiliki dampak yang tidak baik untuk kesehatan. Tidak makan dan minum yang terlalu panas atau dingin.

Dan yang utama, bersabar dengan keadaan, cukup berolahraga dan  beristirahat, aktivitas fisik dan psikis yang seimbang, dan yang utama berbahagia.

Mengapa begitu?

Selain dari lingkungan, dominan penyakit itu sumbernya dari hati. Maka menata dan menjaga hati sangat urgen.Jadi kalo ingin beraktivitas sesuatu, dan itu membahagiakan, maka perlu dilakukan. Apalagi di suasana wabah begini, tetap dalam koridor sehat bersama keluarga.  

Seluruh momen Ramadan begitu bermakna. Misalnya saat berbuka adalah saat yang begitu membahagiakan, setelah seharian bersabar. Saat itulah seorang muslim mengalami akselerasi hormon endorfin, karena dipenuhi rasa bersyukur dan mendatangkan kebahagiaan. Alhamdulillah bisa berbuka bersama. Saat itulah kebijaksanaan hidup benar-benar dirasakan maknanya.

Tetapi bagi yang salah memaknai, justru menjadi aktivitas balas dendam. Melampiaskan nafsu makan tanpa kendali sehingga justru tidak menyehatkan. Kelebihan makanan menimbulkan nyeri dilambung, kebanyakan minuman dingin bisa bikin pilek. Efeknya tidak bisa ibadah dengan baik. Ujung-ujungnya sebagaimana hadits diatas, sia-sia dalam berpuasa.

Hidup itu titipan, kaya titipan, cantik titipan, sehat titipan. Dengan membantu orang insya Allah selain menyenangkan orang juga akan membahagiakan diri. Jadi, olahraga penting, mesti teratur, terukur dan sesuai umur. Sabar, latihan ikhlas, tidak gampang suudzon pada orang lain. Insya Allah sehat dan berkah. Salam sehat. Aamiin

alifis@corner
280420

VIDEO PILIHAN