Mohon tunggu...
Irwansyah Saputra
Irwansyah Saputra Mohon Tunggu... Bukan siapa-siapa

Belajar itu harus, pintar itu bonus.

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Sains, Agama, dan Atheisme

26 Juni 2020   14:31 Diperbarui: 26 Juni 2020   14:40 2328 11 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Sains, Agama, dan Atheisme
ilustrasi: KOMPAS

Prolog

Meniadakan peran tuhan dalam kehidupan itu sangat mungkin untuk dilakukan. Kenapa? Karena memang Tuhan tidak terlihat. Logika sederhananya seperti ini.

Saat di hadapan kita ada gelas lalu kita berkata pada orang lain "tidak ada gelas di depan saya", maka orang tersebut tidak akan percaya karena pada faktanya kebenaran "adanya gelas disitu" bisa dibuktikan secara empiris. Berbeda dengan Tuhan, karena Dia tidak terlihat, maka mudah saja menganggap jika Dia tidak ada.

Lagi pula, saat mengatakan Tuhan itu tidak ada, semua kehidupan tetap normal kan? Api tetap panas, orang yang tertabrak mobil akan tetap terluka, jatuh di aspal tetap sakit, dan lain sebagainya.

Semua hukum fisika tetap berjalan walaupun kita menegasikan peran tuhan dalam kehidupan ini. Betulkan? Apakah saat kita bilang tuhan itu tidak ada, lantas bumi langsung berguncang? Gunung berapi langsung meletus?. Seakan-akan tuhan marah dan membuktikan eksistensiNya. Tidak kan?

Jadi pada faktanya, secara ilmiah, hasil riset saintis akan bisa menjelaskan kenapa suatu fenomena bisa terjadi, dari kacamata sains. Tanpa melibatkan peran Tuhan itu mungkin saja dilakukan. Letak perbedaan pola pikir antara saintis dan agamawan adalah bagaimana mereka memandang fenomena alam ini dari kacamata masing-masing. 

Paradigma Berpikir Saintis (Atheisme) dan Agama

Saintis (yang atheis), saat melakukan riset dan terbukti kebenarannya, ia meyakini hasil penelitiannya dapat dibuktikan walaupun tanpa adanya Tuhan. Seperti halnya saat menjelaskan bagaimana air bersih yang kita minum dapat berubah menjadi zat cair kotor yang disebut air kencing. 

Saintis berpandangan kalau hal tersebut bisa dibuktikan secara ilmiah, adanya proses yang berurutan mulai dari air tersebut masuk ke dalam tubuh lalu diproses sedemikian rupa sehingga berubah menjadi air kencing. Jadi, saintis yang atheis ini merasa tidak perlu adanya Tuhan untuk membuktikan kebenaran empiris terkait proses tersebut. 

Beda halnya dengan agamawan, pandangannya terhadap proses air minum tadi tidak hanya sampai pada proses berubahnya air minum menjadi air kencing. Mereka meyakini adanya kekuasaan mutlak yang dapat mengatur proses tersebut sebagai tanda kekuasanNya. 

Fenomena yang terjadi di alam semesta merupakan tanda-tanda untuk membuktikan wujud kehebatan sang pencipta. Ibaratnya "alam semesta yang ciptaanNya aja hebat gini, gimana penciptanya". 

Saat fenomena alam semesta dapat dibuktikan oleh metode ilmiah, justru hal tersebut agar menambah rasa syukur terhadap pencipta dan semakin meyakini keberadaanNya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN