Irwan Rinaldi Sikumbang
Irwan Rinaldi Sikumbang Pensiunan BUMN

menulis untuk melawan lupa.

Selanjutnya

Tutup

Jakarta Artikel Utama

Pekan Raya Jakarta Jangan Terlalu Komersial

12 Juli 2017   20:19 Diperbarui: 13 Juli 2017   14:18 1740 7 2
Pekan Raya Jakarta Jangan Terlalu Komersial
Suasana di PRJ (dok pri)

Pekan Raya Jakarta (PRJ) saat ini tengah berlangsung sebagai salah satu acara tahunan yang dikaitkan dengan ulang tahun kota Jakarta. Bagi yang belum ke sana masih ada kesempatan sampai PRJ tahun ini ditutup tanggal 16 Juli. 

Apa yang ada di PRJ? Sejak dibuka tanggal 8 Juni 2017 yang lalu, arena ini selalu disesaki pengunjung untuk berbelanja mendapatkan aneka produk dan jasa dengan harga promosi. Jadi, siapkan dana yang memadai bila ingin ke PRJ.

Bahkan tanpa berbelanja pun, tiket masuknya sudah lumayan mahal yakni dari Rp 20 ribu sampai Rp 35 ribu per orang (tergantung harinya, di akhir pekan lebih mahal). Bagi yang pakai mobil pribadi ditambah lagi ongkos parkir Rp 30.000.

Kalau niatnya untuk sekadar mencari hiburan mungkin akan kecewa, meski di hari tertentu ada penampilan dari artis top nasional di panggung musik. Di hari lain juga ada karnaval, festival, atraksi, dan sebagainya. Tapi semuanya "tertelan" oleh hingar bingar promosi penjualan barang.

Dilihat dari pemakaian ruangan, memang sebagian besar arena yang amat luas karena terdiri dari beberapa hal tersebut dipenuhi oleh stand pameran dagang barang dan jasa. Boleh dikatakan semua jenis produk dari yang tradisional sampai yang digital tersedia di PRJ. Itulah yang menggoda pengunjung.

Berikutnya juga kios-kios penjual makanan dan minuman lumayan banyak mengambil tempat di PRJ. Mungkin karena sewa tempat relatif mahal, jangan heran kalau hal ini berimbas ke harga makanan. Jadi agak kurang pas juga kalau publik datang ke PRJ dengan tujuan utama berburu kuliner. Tapi setelah capek melihat aneka barang, tentu banyak yang lapar dan haus, terus cari makan dan minum.

Harus diakui PRJ telah bertransformasi dari era Pasar Malam di zaman Belanda, kemudian dihidupkan kembali sebagai Jakarta Fair di Lapangan Monas saat Ali Sadikin menjadi gubernur, lalu menjadi PRJ dengan tempat permanen di Kemayoran seperti sekarang.

Dulu, puluhan tahun lalu, pasar malam marak di banyak kota, dan betul-betul menjadi pesta rakyat karena tiket masuk yang amat murah. Masyarakat kelas bawah pun bisa ramai-ramai sekeluarga berkunjung.

Di setiap pasar malam, unsur komersial dan hiburannya lebih berimbang. Ada permainan ketangkasan, ada panggung gembira, yang tidak kalah gaungnya dengan stand penjualan barang. Bahkan banyak pula stan yang bersifat sosialisasi dan edukasi atas berbagai program pemerintah.

Kembali ke PRJ, memang di sana ada stand Pemda DKI Jakarta. Tapi karena letaknya yang "terkurung" oleh stan-stan komersial, maka praktis tidak banyak pengunjung yang tahu dan tertarik ke stan Pemda.

Padahal PRJ adalah momen yang tepat untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat tentang hasil pembangunan yang telah diraih, yang sedang dibangun, dan yang direncanakan akan dilaksanakan. 

Tidak hanya dari Pemda, baik juga bila ada sosialisasi dari lembaga yang berwenang agar masyarakat menjauhi narkoba, memahami penanggulangan bencana, merancang sistem keamanan lingkungan, tertib dalam berlalu lintas, memupuk persaudaraan antar berbagai kelompok masyarakat, dan sebagainya.

Intinya, pada PRJ tahun depan mudah-mudahan warna komersialnya terimbangi dengan warna yang bersifat sosial dan mendidik. Namun bagaimanapun juga PRJ tahun ini tetap banyak nilai positifnya, terutama dalam menggerakkan perekonomian.

Mumpung masih ada waktu, mari kita ke PRJ.