Mohon tunggu...
Irwan Rinaldi Sikumbang
Irwan Rinaldi Sikumbang Mohon Tunggu... Freelancer - Freelancer

menulis untuk menikmati kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Cukup Saya yang Jadi Generasi Sandwich, Anak Saya Jangan

30 Juli 2022   11:07 Diperbarui: 30 Juli 2022   11:10 2469
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi sumber: U-Report, dimuat viva.co.id

Ada yang menarik pada headline Harian Kompas edisi 28 Juli 2022 lalu. Judulnya "Orangtua Indonesia Makin Sulit Biayai Kuliah Anak".

Isinya kurang lebih bahwa meskipun orangtua sudah menabung secara rutin setiap bulan, tapi karena biaya kuliah setiap tahunnya naik cukup tinggi, tetap saja sulit bagi orangtua membiayai kuliah anaknya.

Apalagi, bagi yang tak menyiapkan tabungan secara rutin setiap bulan sejak anak-anaknya masih kecil. Asumsi yang dipakai Kompas, orangtua menyiapkan tabungan sejak 13 tahun sebelum anaknya kuliah.

Hasil penelitian Tim Litbang Kompas juga mengungkapkan bahwa rata-rata kenaikan penghasilan orang tua di bawah rata-rata kenaikan biaya kuliah.

Saya jadi teringat dengan anak-anak saya sendiri yang semuanya sekarang berada pada rentang usia 20-an tahun. Satu di antaranya sudah berumah tangga, bahkan sudah punya seorang bayi.

Dari tiga orang anak saya, ada satu putra yang dulu agak saya khawatirkan ketimbang dua anak lainnya. Hal ini menyangkut wataknya yang cenderung temperamental dan sering membantah ucapan saya atau istri saya.

Alhamdulillah, saat ini, justru "si pembangkang" ini yang menurut saya lebih sukses, khususnya jika dilihat dari pekerjaannya sekarang.

Saya tidak tahu, sejak kapan putra saya itu pacaran dengan teman sekolahnya. Yang jelas, setelah tamat kuliah dan punya pekerjaan tetap, meski di usia yang baru 25 tahun, ia berani menyatakan niatnya untuk berumah tangga.

Tentu, walaupun menurut saya seorang lelaki baru "matang" untuk menikah pada usia 27-28 tahun, saya langsung menyetujui rencana pernikahan anak saya. 

Saya tak mau memakai standar saya sendiri yang dulu menikah pada usia 31 tahun. Akibatnya, saat saya baru memasuki usia pensiun, masih ada anak saya yang kuliah.

Persis seperti tulisan di Kompas, putra saya bersama istrinya sudah punya perencanaan tentang masa depan anaknya. Makanya, mereka berdua menyisihkan gajinya untuk kuliah si anak kelak.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun