Mohon tunggu...
Irwan Rinaldi Sikumbang
Irwan Rinaldi Sikumbang Mohon Tunggu... Freelancer

menulis untuk menikmati kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Media Pilihan

Menyambut Kompasianival, Adakah Iri Hati Sesama Penulis?

21 November 2020   00:08 Diperbarui: 21 November 2020   00:49 370 85 27 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Menyambut Kompasianival, Adakah Iri Hati Sesama Penulis?
dok demystifysecurity.com, dimuat ruangfreelance.com

Hanya dua kali saya yang secara langsung mengikuti Kompasianival, yakni pada tahun 2016 dan 2018. Pada tahun 2016 acara berlangsung di Gedung Smesco, Jalan Gatot Subroto, Jakarta. Ketika itu, saya bertemu dengan banyak kompasianer, termasuk dua orang legenda, Pak Tjipta dan Bu Lina.

Pada tahun 2018 acara berlangsung di sebuah mal prestisius di Jakarta Selatan, Kemang Village. Alhamdulillah, saya menjadi salah satu nominator, kalau tidak keliru pada kategori "Best in Opinion". Tapi, akhirnya yang berhak mendapat penghargaan adalah penulis yang memang seorang pakar bahasa, Khrisna Pabhicara. Di forum tersebut saya lama berbincang-bincang dengan Mbah Ukik yang juga memenangi penghargaan di kategori yang lain.

Saya ingat tahun 2018 tersebut, disuruh berkampanye, tapi menurut saya (mohon maaf kepada pihak panitia), mungkin tipe saya, dan saya duga juga nominator lain, untuk berkampanye agar dipilih oleh teman-teman, akan sungkan. Bukan saya tidak ingin penghargaan, tapi biarlah itu mengalir dengan sendirinya, tidak mirip arena pilkada.

Mudah-mudahan saya tidak keliru, dari pengamatan saya sekilas, rata-rata teman-teman itu bukan tipe yang ingin menonjol sendiri, bahkan banyak yang humble, mencoba memahamai orang lain, dan tentu saja sangat ikhlas bila tidak mendapatkan penghargaan. Toh, Kompasiana ini saya juluki sebagai "universitas"-nya para penulis dengan aktivitas utama saling belajar, saling berbagi, dan saling memberi motivasi.

Tak ada dikotomi senior junior. Tak ada arogansi atas dasar kategori contreng biru-hijau-atau tanpa contreng. Saling berkunjung menjadi semacam panggilan hati dan akhirnya jadi ritual harian yang terlaksana secara otomatis.

Tentu tidak selamanya tercipta kondisi yang adem ayem atau sejuk damai sesama kompasianer. Sesekali, gesekan karena miskomunikasi, bisa saja muncul. Seingat saya ketika baru bergabung pada November 2013, beberapa penulis terlibat saling berkomentar dengan tajam dan sudah menjurus pada tindakan bullying. Hal itu, justru terjadi antar kompasianer wanita.

Nah, sekarang syukurnya sudah sangat jarang hal seperti itu terjadi. Tapi, karena di Kompasiana banyak sekali penulis wanita, yang mohon maaf, secara naluriah wanita lebih sering bergosip ketimbang lelaki, entah kenapa, muncul pertanyaan di benak saya, adakah tersimpan rasa iri antar sesama penulis?

Pertanyaan lanjutan saya, adakah penulis yang memilih-milih teman dan membuat semacam kelompok informal, bukan komunitas resmi yang memang diketahui pengelola Kompasiana. Kalau ada, apakah ada semacam "perang dingin antar geng"?

Jika dilihat di permukaan, maksudnya yang muncul pada sebuah tulisan dan komentar-komentar di bawahnya, kecil kemungkinan timbulnya hal yang bisa ditafsirkan sebagai cerminan rasa iri antar penulis. Yang ada justru saling memberikan apresiasi.

Nama-nama tertentu yang sering nangkring pada kategori artikel utama, nilai tertinggi, atau terpopuler, tidaklah dicemburui. Semuanya bisa memahami bahwa setiap tulisan akan menemukan "takdir" masing-masing, yang penting telah berusaha sebaik mungkin.

Dilihat dari permukaan boleh jadi memang tidak ada apa-apa. Tapi, siapa tahu, misalnya ada yang tersimpan dalam hati hal-hal yang berbau iri hati, mari kita luruskan kembali niat kita. Meskipun sebetulnya iri hati tersebut hal yang manusiawi. Toh, iri hati yang memacu semangat untuk lebih baik dari orang lain, sah-sah saja. Yang kurang sehat bila ada perasaan marah, sedih, atau kesal karena ada orang lain yang lebih beruntung nasibnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x