Mohon tunggu...
Irwan Rinaldi Sikumbang
Irwan Rinaldi Sikumbang Mohon Tunggu... Freelancer - Freelancer

menulis untuk menikmati kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Cerdiknya PPP Merayu Sandiaga, Taktik Jitu Memperpanjang Napas

26 Oktober 2020   20:43 Diperbarui: 26 Oktober 2020   22:10 672
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sebetulnya masa depan Partai Persatuan Pembangunan (PPP), agak sedikit meragukan, jika melihat grafik perolehan suaranya dari masa ke masa. Terakhir, pada Pemilu 2019 lalu, partai berlambang Ka'bah ini, mencatat prestasi terburuk sepanjang sejarah, hanya meraup 4,52 persen suara.

Beruntung PPP tidak tergelincir lebih dalam. Bila perolehan suaranya di bawah 4 persen sebagai ambang batas minimal yang ditetapkan, maka habislah kiprahnya di parlemen. Adapun saat ini, masih ada  19 orang wakil PPP di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Apa boleh buat, PPP terlanjur dicitrakan sebagai partai orang tua, karena bawaan masa Orde Baru bersama dengan Golkar dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) yang sudah terhenti langkahnya. PDI yang ada sekarang adalah PDI Perjuangan yang lahir pada awal reformasi.

PPP dan PDI sepanjang rezim Soeharto hanya berstatus sebagai penggembira, agar Indonesia masih layak disebut sebagai negara demokrasi, meskipun Golkar menjadi partai pemerintah yang secara terus menerus sangat mendominasi hingga tumbangnya Soeharto pada 1998.

Sejatinya, PPP dimaksudkan sebagai wadah untuk menampung aspirasi politik umat Islam. Didirikan pada 5 Januari 1973, PPP merupakan hasil penggabungan 4 partai berlabelkan Islam, yakni Partai Nahdlatul Ulama, Partai Serikat Islam Indonesia, Partai Muslimin Indonesia, dan Partai Tarbiyah Islamiyah.

Masalahnya, sekarang ada banyak partai Islam yang lebih jelas segmen pemilihnya, sehingga membuat PPP kewalahan karena kurang jelas, mewakili Islam yang mana? Seperti Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) identik dengan warga NU. Demikian juga Partai Amanat Nasional (PAN) yang punya hubungan tidak langsung dengan Muhammadiyah. 

Ada lagi partai Islam yang lumayan berhasil menjadi partai kader dengan membidik kelompok pengajian di kampus-kampus, yakni Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Lalu, di mana tempat PPP? Makanya, ada yang menjuluki PPP sebagai partai orang tua yang memerlukan strategi khusus agar bisa memperpanjang napas.

Nah, strategi itu rupanya adalah dengan berusaha menarik sosok yang banyak disukai kalangan muda dan berkantong tebal, meskipun bukan berasal dari internal PPP. Sandiaga  Uno, nama inilah yang disebut-sebut menjadi bakal calon Ketua Umum PPP yang baru.

Setidaknya ada dua keuntungan yang diincar PPP jika nantinya berhasil memboyong Sandiaga dari petinggi Partai Gerindra menjadi Ketua Umum PPP. Pertama, bertambahnya basis pemilih dari kalangan warga berusia muda dan juga dari komunitas pelaku usaha kecil yang digalang Sandiaga. 

Kedua, tidak adanya hambatan masalah keuangan karena Sandiaga lumayan royal, tidak hitung-hitungan menggunakan uang pribadinya untuk perjuangan politik.

Perlu diingat, masalah dana diduga cukup krusial bagi PPP bila dilihat dari kasus korupsi yang menimpa dua orang ketua umumnya, Suryadharma Ali dan Romahurmuziy.

Namun demikian, meskipun peluang Sandiaga untuk menjadi orang nomor satu di Gerindra relatif kecil, tentu tidak begitu saja Sandiaga bersedia menerima tawaran PPP. Secara chemistry, partai lain di luar Gerindra yang lebih cocok dengan jiwa muda Sandiaga adalah PAN, bukan PPP.

Sandiaga juga harus cermat berhitung, belum tentu keberadaannya di PPP akan serta merta membuat banyak anak muda memilih PPP pada pemilu mendatang. Kecuali bila Sandiaga dibolehkan merombak total kepengurusan dengan membawa gerbong berisikan anak muda gaul yang kreatif.

Ada soal lain yang akan mengganjal langkah Sandiaga. Peraturan internal PPP sendiri menyatakan, calon ketua umum harus mempunyai pengalaman sebagai pengurus Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PPP, minimal untuk satu periode.

Nah, berdasarkan uraian di atas, kelihatannya Sandiaga tidak bakal bergabung ke PPP. Dengan demikian, PPP perlu memeras otak untuk menemukan strategi lain agar mampu memperpanjang napas. Jangan sampai Pemilu 2024 menjadi pemilu terakhirnya, bila gagal melewati ambang batas.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun