Irwan Rinaldi Sikumbang
Irwan Rinaldi Sikumbang freelance

menulis untuk menikmati kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Karir Pilihan

Bos Pindah, Anak Emas Ngikut?

16 Maret 2019   10:43 Diperbarui: 16 Maret 2019   16:09 99 11 3
Bos Pindah, Anak Emas Ngikut?
dok. gemintang.com

Dalam sepak bola, bila seorang pelatih pindah ke klub baru, biasanya beberapa orang pemain yang menjadi anak emasnya di klub lama, ikut dibawa ke klub baru. Nah, dalam dunia bisnis pun cara seperti itu lazim ditemukan.

Ambil contoh di perusahaan-perusahaan milik negara, yang sekarang ini relatif sering melakukan rotasi pejabat dari sebuah perusahaan ke perusahaan lain, tentu berstatus sama-sama BUMN. 

Seorang direktur utama yang telah menakhodai PT ABC (bukan nama sebenarnya) selama 5 tahun, ditunjuk untuk memimpin PT XYZ. Bila sang dirut merasa nyaman dengan orang-orang yang melayaninya di PT ABC seperti sekretaris atau sopirnya, bisa saja dibawa menjadi sekretaris atau sopir di PT XYZ.

Rahasia seorang bos memang sering yang tahu hanya sekretaris atau sopir. Makanya bila orang-orang yang seperti ini mendapat kepercayaan yang tinggi dari bosnya, si bos akan susah untuk pindah ke lain hati.

Memang dari sisi jabatan atau kepangkatan, sekretaris biasanya berada di level yang relatif rendah. Tapi karena kedekatannya dengan dirut, seorang sekretaris menjadi begitu bernilai, dan agar seseorang bisa menemui dirut, kuncinya dekati dulu sekretarisnya. 

Kepindahan seorang sekretaris untuk mengikuti bosnya, prosedurnya tidaklah rumit. Beda dengan bila si bos juga ingin membawa pejabat lain, katakanlah seorang kepala divisi di perusahaannya yang lama, belum tentu tertarik dengan ajakan mantan bosnya, kecuali bila diiming-imingi jabatan yang lebih tinggi, seperti menjadi direktur.

Banyak pertimbangan seseorang untuk ikut atau tidak, bila bosnya yang lama mengajaknya pindah. Di samping ingin jabatan yang lebih tinggi itu tadi, bisa juga prospek perusahaan, fasilitas yang disediakan perusahaan, sistem pemberian bonus, bahkan sampai budaya kerja dan gaya hidup para personilnya, ikut pula diperhitungkan. Maksudnya membandingkan plus minus tempat yang mau ditinggalkan dengan yang mau dituju.

Namun kepindahan seseorang mengikuti bosnya yang lama bisa pula karena inisiatif si pegawai, yang memohon untuk dibawa. Kalau begini, giliran si bos yang mempertimbangkan akan menerima permohonan itu atau tidak. 

Soalnya ada juga bos yang bertipe tidak bergantung pada anak emas. Ia yakin di manapun ditempatkan bisa menjalin kerjasama dengan orang-orang yang baru dikenalnya. Justru ia khawatir mendapat penolakan secara diam-diam bila membawa anak emas dari tempatnya yang lama, karena dianggap akan menghambat karir mereka yang sudah berjuang dari bawah.  

Intinya, kalau kita bekerja di sebuah perusahaan, gak usah antipati melihat kedatangan bos baru yang datang membawa gerbongnya. Tetaplah loyal, tunjukkan prestasi, sehingga pada saatnya kita juga bisa mendapat promosi. Hindari dikotomi "orang luar vs orang dalam" karena tidak lagi relevan, toh semuanya berjuang untuk kemajuan perusahaan dan berada dalam "perahu" yang sama, terlepas dari mana masing-masingnya naik perahu.