Mohon tunggu...
Irwan Rinaldi Sikumbang
Irwan Rinaldi Sikumbang Mohon Tunggu... Freelancer - Freelancer

menulis untuk menikmati kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Politik Juga Perlu Nyepi Sejenak

5 Maret 2019   22:44 Diperbarui: 5 Maret 2019   23:15 146 18 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Politik Juga Perlu Nyepi Sejenak
Nyepi di Bali (tribunnews.com)

Berbahagialah warga yang berdiam di Pulau Bali, baik yang beragama Hindu dan ikut merayakan Hari Raya Nyepi, maupun yang bukan Hindu yang juga karena situasi dan kondisinya, bisa beristirahat total selama 24 jam, bebas dari hal yang biasa dilakukan sehari-hari.

Untuk tahun ini, Hari Raya Nyepi jatuh pada hari Kamis, 7 Maret 2019. Biasanya, bagi masyarakat di luar Bali, hari tersebut tak beda dengan hari libur lainnya, banyak dimanfaatkan untuk pergi ke tempat rekreasi, mengunjungi sanak famili atau sekadar bersantai di rumah.

Tapi tidak demikian bila kita berada di Pulau Bali. Suasananya sungguh sepi sesepi-sepinya. Dalam keheningan tersebut tentu setiap orang bisa melakukan perenungan diri dan berdoa pada Sang Pencipta. 

Saya merasa beruntung pernah selama 2 tahun oleh perusahaan tempat saya bekerja ditempatkan di Kantor Wilayah Bali, sekitar dua puluh tahun lalu. Saya tinggal di rumah milik perusahaan di Jalan Diponegoro, Denpasar.

Saat pertama kali mengalami suasana nyepi, kami sekeluarga, saya bersama istri dan dua anak yang saat itu masih berumur 3 tahun dan 1 tahun, agak khawatir juga, mau ngapain selama 24 jam karena tidak boleh menghidupkan lampu dan tidak boleh beraktivitas, termasuk memasak. 

Kalau kami mengeluarkan suara, misalnya mengobrol, takut terdengar oleh pecalang (petugas keamanan dalam acara adat Bali yang bertugas memantau situasi). Akhirnya saya tidak tahan, saya menghidupkan televisi yang sengaja diletakkan di lantai, menonton sambil tiduran dengan suara sangat pelan. 

Saya tahu, kalau membaca aturan tentang larangan di saat nyepi, saya sudah melanggar satu hal. Ada empat hal yang tidak dibolehkan yakni amati geni (tidak menghidupkan atau menggunakan api termasuk listrik), amati karya (tidak boleh bekerja), amati lelungan (tidak boleh bepergian) dan amati lelanguan (tidak boleh  menikmati hiburan). Yang terakhir inilah yang saya langgar.

Saya tidak tahu lagi di zaman sekarang ketika semua orang selalu membawa gadget, tampaknya bagi para pendatang di Bali, suasana nyepi tak akan lagi mencekam, karena bisa "membunuh" waktu dengan berselancar di dunia maya. Tapi saya yakin, bagi saudara kita yang warga asli Bali, akan tekun menjalani hari nyepi.

Memang kalau keriuhan di media sosial, termasuk perang urat syaraf antar pendukung capres 01 dan 02, tetap berapi-api pada saat libur nyepi, mungkin antara lain karena banyak orang yang tidak mencoba mengambil hikmah dari perayaan nyepi.  

Makanya,  kalau boleh disarankan,  di manapun juga di Indonesia, selama perayaan Nyepi, cobalah berpuasa menggunakan gadget, maka otomatis hujatan atau sumpah serapah di media sosial pun akan puasa selama satu hari penuh.

Politik memang lagi panas, namun tidak ada salahnya  break sejenak, paling tidak ini berguna untuk menurunkan tensi, sehingga lebih memancarkan suasana yang damai dan teduh. Betapa "tercemar"-nya bila kita menganggap biasa kalimat bernada ujaran kebencian, apalagi bila ikut terlibat menyebarkannya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x