Mohon tunggu...
Irwan Rinaldi Sikumbang
Irwan Rinaldi Sikumbang Mohon Tunggu... Freelancer

menulis untuk menikmati kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Artikel Utama

Beha-beha yang Meneror Mata

11 Februari 2019   21:38 Diperbarui: 11 Februari 2019   22:32 0 33 31 Mohon Tunggu...
Beha-beha yang Meneror Mata
Dok. Okezone.com

Bahwa saya kecanduan menulis di Kompasiana, tak perlu saya ulas di sini. Masalahnya kalau saya lagi di rumah saya di bilangan Tebet, Jakarta Selatan, saya lebih suka menulis di personal computer (PC) yang berada di lantai atas rumah.

Menurut teori yang saya yakini benar, agar mata kita sehat, setiap beraktivitas di depan layar PC selama sekitar satu jam, ambil break selama dua atau tiga menit dengan memandang ke kejauhan.

Itu artinya saya harus memandang ke arah depan, karena kalau ke sisi lain terhalang tembok. Di seberang rumah saya yang terpisah oleh gang yang hanya bisa dilewati sebuah mobil, ada dua rumah yang sama sebangun. 

Sebelumnya hanya satu rumah yang dibeli oleh seseorang yang merobohkannya, lalu membangun dua rumah baru yang kembar itu untuk dijual. Tak lama setelah selesai dibangun, rumah itu pun terjual keduanya.

Maka saya pun punya dua keluarga tetangga baru. Namun sudah budaya di lingkungan sekitar, antar tetangga tidak akrab, hanya sesekali saling bertukar sapa.

Saya tidak tahu kenapa rumah tersebut dirancang tanpa tempat khusus untuk menjemur pakaian di bagian belakang. Dugaan saya semua lahan habis terpakai untuk bangunan, kecuali teras depan untuk tempat parkir mobil dan teras depan lantai atas untuk menjemur pakaian.

Maka kalau saya break dari layar PC otomatis yang terlihat adalah aneka pakaian yang lagi dijemur. Tapi entah kenapa yang dipajang paling depan selalu beha-beha berukuran besar dengan warna-warna ngejreng. Saya merasa terteror setiap memandangnya.

Tapi mau diapakan lagi, saya tak punya hak untuk mengatur tetangga dalam menata jemurannya, jenis mana yang sebaiknya di depan, dan mana yang agak disembunyikan.

Ya sudahlah, tadinya saya tak ingin menulis hal ini, meskipun idenya sudah sangat lama muncul. Saya khawatir kalau dianggap lebai, masak yang begituan diangkat?

Tapi ketika anak lelaki saya yang punya pengetahuan di bidang arsitektur tiba-tiba melontarkan kritik atas posisi jemuran (bukan posisi beha ya), lalu disambar istri saya yang juga bilang hal itu merusak estetika, maka saya berpikir saatnya saya bertindak. Bukan untuk menegur si tetangga, tapi untuk menuliskan di Kompasiana. Siapa tahu tetangga saya membacanya.

Menurut anak lelaki saya sebetulnya sangat gampang melakukan renovasi kecil di bagian belakang dan biayanya juga relatif tidak banyak untuk membuat tempat jemuran yang tidak mengganggu mata orang yang lewat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2