Irwan Rinaldi Sikumbang
Irwan Rinaldi Sikumbang freelance

menulis untuk menikmati kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Bola

Keuntungan Jangka Panjang bagi Pemain yang Berstatus Polisi dan Tentara

13 Desember 2018   11:57 Diperbarui: 13 Desember 2018   12:27 447 6 2
Keuntungan Jangka Panjang bagi Pemain yang Berstatus Polisi dan Tentara
Pelantikan pemain Bhayangkara menjadi polisi (bolasport.com)

Ada dua klub yang berkompetisi di Liga 1 yang latar belakangnya berbeda dengan klub lain, karena didirikan oleh atau setidaknya terafiliasi dengan lembaga kepolisian dan lembaga militer. Klub dimaksud adalah Bhayangkara FC dan PS Tira.

Memang, tak ada yang aneh dengan hal tersebut mengingat sejak dulu para polisi dan juga tentara di beberapa kota, banyak yang punya klub amatir. Nah apa salahnya kalau sekarang mereka punya klub profesional.

Toh di negara lain malah lebih dahulu lahir klub seperti itu yang ikut liga negara masing-masing. Ada klub Angkatan Tentara Malaysia  FA dan Persatuan Bolasepak Polis Di Raja Malaysia. Di Singapura ada Warriors FC  yang sebelumnya bernama Singapore Armed Forces FC. Di Thailand ada Army United, Air Force Central dan Police Tero FC.

Nah sebagai klub pro, di Bhayangkara FC dan PS Tira, tentu juga dihuni oleh pemain yang dikontrak untuk satu musim kompetisi yang bukan berprofesi polisi atau tentara. Meskipun begitu, ada pula polisi dan tentara yang justru main di klub lain.

Sayangnya tidak didapat informasi untuk polisi yang bermain di PS Bhayangkara apakah hak dan kewajibannya sama dengan yang bukan polisi, mengingat mereka juga menerima gaji sebagai polisi dan tentu juga ada kewajiban melaksanakan dinas di kesatuannya. Demikian juga untuk PS. Tira

Dari sekian banyak pemain polisi, yang tertinggi pangkatnya adalah Indra Kahfi. Pemain yang juga kakak dari penjaga gawang timnas senior Andritany ini juga menjabat kapten di Bhayangkara FC.

Indra beberapa bulan lalu berhasil naik pangkat menjadi Inspektur Dua (Ipda) setelah lulus pendidikan khusus di bidang intelijen. Hal ini menjadi bukti bahwa polisi yang pemain bola atau pemain bola yang polisi, bisa saja meraih sukses kedinasan dan juga sukses di karir sepak bola secara beriringan.

Adapun pemain lain seperti Putu Gede Juni Antara, Muhammad Hargianto, Wahyu Sebo Suto, Awan Seto, Dendy Sulistyawan, Sahrul Kurniawan, dan Fatchurohman, masih berpangkat Brigadir Remaja Polri atau Brigadir Polisi II.

Sedangkan para tentara di PS Tira, antara lain adalah Manahati Lestusen, Ahmad Rufiandani, Ganjar Mukti, Abduh Lestaluhu, Andy Setyo Nugraha, Pandi Lestaluhu, Rifad Marasabessy, dan Alwi Slamat. Dari semua itu, kecuali Manahati yang sudah berpangkat bintara, yang lain masih prajurit.

Dari berbagai berita di media daring, dapat disimpulkan,  pemain yang berstatus polisi dan tentara, memang dari kecil menginginkan profesi tersebut. Bahkan Manahati menolak tawaran dari klub luar negeri demi mengabdi sebagai tentara. Sedangkan dalam proses rekrutmennya, semua pemain tersebut harus melewati beberapa tahap seleksi seperti juga penerimaan polisi dan tentara dari jalur umum.

Ada keuntungan yang bersifat jangka panjang bagi pemain bersatatus polisi dan tentara tersebut, meskipun gaji sebagai abdi negara mungkin relatif jauh lebih rendah ketimbang pemain profesional murni. Mereka tak khawatir bila nanti karirnya di sepak bola meredup, karena sudah punya pekerjaan yang layak, bahkan di masa tuanya juga dapat uang pensiun.

Hanya saja, menjadikan keahlian bermain bola sebagai pintu masuk untuk dapat pekerjaan yang tidak berkaitan dengan sepak bola, sebetulnya sudah lagu lama. Ketika kompetisi di negara kita hanya mengenal klub perserikatan, banyak pemain yang di samping berstatus polisi dan tentara, juga pegawai pemda dan pegawai dari perusahaan milik negara.

Tentu saja bila prestasi pemain kita sudah hampir setara pemain di Liga Eropa yang diganjar gaji amat menggiurkan, tidak perlu ketakutan akan merana di masa tuanya, karena cukup dari mantab (makan tabungan) saja.