Irwan Rinaldi Sikumbang
Irwan Rinaldi Sikumbang freelance

menulis untuk menikmati kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Film Pilihan

"Liam dan Laila" Mempertahankan Adat di Era Milenial

6 Oktober 2018   12:22 Diperbarui: 6 Oktober 2018   13:37 1265 3 2
"Liam dan Laila" Mempertahankan Adat di Era Milenial
Dok. Imra

Ada hal positif dalam perkembangan film nasional akhir-akhir ini, yang ditandai oleh lahirnya para sineas di beberapa daerah yang relatif jauh dari Jakarta. 

Dulu banyak juga film yang bertemakan kedaerahan, tapi sutradara, produser, aktor, aktris, dan pihak lain yang terlibat, hampir semuanya dibawa dari ibukota 

Sekarang, ambil contoh film-film yang dibuat penggiat film di Makassar, mayoritas personilnya adalah seniman lokal. Hebatnya, film tersebut beredar dan diterima baik oleh publik secara nasional.

Beberapa film dari Makassar yang menuai sukses adalah "Silariang" dan "Uang Panai". Jadi, Makassar telah mampu berbicara dalam kancah perfilman nasional. 

Nah sekarang giliran Sumatera Barat yang mulai unjuk gigi. Seorang sutradara muda dari Bukittinggi, masih 28 tahun, bernama Arief Malinmudo, telah sukses membuat film "Surau dan Silek" di tahun lalu.

Tahun ini, film terbaru Arief "Liam dan Laila" (selanjutnya ditulis LL) tengah diputar di banyak bioskop di tanah air. LL sebagian besar mengambil lokasi shooting di sekitar Bukittinggi, serta sedikit di Perancis dan Jakarta.

Kisah yang diangkat dalam LL tergolong sederhana, yakni kisah cinta beda budaya lintas negara. Laila, wanita tamatan S2 dan punya bisnis online, berkenalan dengan Liam melalui medsos, lelaki yang punya usaha peternakan di sebuah desa di Perancis.

Liam yang sangat serius untuk menikahi Laila, terbang ke Indonesia dan hanya diberi visa selama 30 hari. Konflik bermula dari sini, dengan waktu yang sempit Liam harus menghadapi berbagai rintangan.

Keluarga Laila sangat kokoh memegang adat Minang, yang dalam proses pernikahan banyak hal yang harus disepakati, tidak saja oleh orang tua Laila tapi juga ninik mamak yang punya otoritas secara adat.

Awalnya niat Liam untuk masuk Islam juga dicurigai. Tapi Liam lulus ujian tentang niat menjadi muslim setelah diamati secara serius oleh mamak dari Laila. Namun masalah berikut datang lagi dari rumitnya birokrasi pernikahan antar negara.

Menarik bagaimana menyaksikan dua kondisi yang kontradiktif dari seorang Laila yang diperankan dengan baik oleh Nirina Zubir. Sebagai generasi milenial Laila aktif berselancar di dunia maya dan menguasai berbagai bahasa asing. 

Tapi dalam soal jodoh, betapa tak berdayanya seorang Laila berhadapan dengan adat yang cenderung kaku dan terkadang bertele-tele dalam mengambil keputusan.

Dalam konflik adat versus milenial itu tadi, boleh dibilang Arief Malunmudo sukses menuangkannya ke layar lebar. Bagaimanapun begitulah fakta yang harus dihadapi warga Minang, terutama yang masih tinggal di kampung halaman saat ini.

Sebagai selingan diselipkan pula kelucuan saat Liam, yang diperankan aktor Perancis, Jonatan Cerrada, dikhitan di sebuah rumah sakit di Bukittinggi.

Selain Nirina Zubir, artis ibukota asal Minang lainnya yang tampil dalam LL adalah David Chalik dan Gilang Dirga. Selain itu bintang-bintangnya adalah pemain lokal Sumatera Barat yang tampil cukup baik.

LL membuktikan bahwa film daerah sudah layak bersanding dengan film nasional produksi ibukota Jakarta.