Irwan Rinaldi Sikumbang
Irwan Rinaldi Sikumbang freelance

menulis untuk menikmati kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Kuliner Artikel Utama

Berburu Kuliner Malam di Kota Magelang

7 September 2018   17:46 Diperbarui: 7 September 2018   20:15 1140 7 2
Berburu Kuliner Malam di Kota Magelang
Warung kupat tahu (dok pribadi)

Kota Magelang relatif dekat dari Yogyakarta. Kota ini terkenal karena menjadi tempat pendidikan calon perwira militer. Maka siapapun yang sekarang ini menjadi petinggi angkatan bersenjata kita, bisa dipastikan punya kenangan indah dengan Magelang. 

Anekdotnya, yang paling tinggi jabatannya di Magelang bukan Walikota, tapi gubernur. Jelas bukan Gubernur Jawa Tengah maksudnya, namun Gubernur Akademi Militer yang berpangkat Mayor Jenderal TNI.

Bila kita berada di Kota Sejuta Bunga, demikian julukan yang diberikan buat Magelang, pada malam hari, suasananya terlihat semarak. Namun hal itu hanya berlangsung sampai sekitar jam 10 malam. Setelah itu kota yang terkenal tertib ini, mungkin karena ada akademi militer itu tadi, sudah sepi.

Sewaktu saya dan beberapa teman berada di kota Magelang, Sabtu (25/8) yang lalu, di senja hari sehabis salat magrib, kami berencana untuk berwisata kuliner dengan menjajal makanan yang mengundang selera di sana.

Sebelumnya perlu dicatat bahwa suasana kota Magelang tergolong nyaman untuk jalan-jalan. Tidak terlalu padat seperti Yogyakarta, tapi juga tidak terlalu sepi seperti Temanggung atau kota kecil lain di sekitar itu.

Bakso kerikil (dok pribadi)
Bakso kerikil (dok pribadi)
Yang juga membuat nyaman adalah kondisi pluralitas di sana. Ada masjid megah di alun-alun, ada klenteng cantik di pusat kota, dan banyak pula gereja yang bagus.

Baik, kita langsung ke topik utama, soal kuliner di malam hari. Menurut teman saya yang merupakan putra asli Magelang dan bertindak sebagai pemandu, makanan yang paling laku di malam hari adalah kupat tahu. 

Ternyata memang benar. Di jalan utama kota itu, ada banyak sekali warung kupat tahu, dan saat malam hari pembelinya melimpah sampai antre menunggu dapat giliran masuk, karena bangku yang tersedia sudah penuh.

Sate pisang (dok pribadi)
Sate pisang (dok pribadi)
Kami sendiri ikut antre di Kupat Tahu Pak Slamet, salah satu yang paling top di Magelang. Setelah saya dapat kursi, lalu menerima sepiring kupat tahu yang bahan utamanya ketupat, tahu, toge, kerupuk, dengan kuah bening yang bisa diberi kecap sesukanya, cukup menikmati makanan tersebut. Meskipun sebelumnya saya membayangkan akan menyantap kupat tahu berkuah kacang seperti yang pernah saya coba di Bandung.

Selesai makan kupat tahu, kami sejenak berkeliling kota sambil menunggu perut agak longgar lagi, karena sudah meniatkan agenda berikutnya, menjajal bakso kerikil. Kerikil? Ya, namanya memang aneh begitu, tapi pasti bukan kerikil beneran.

Tempat berjualan bakso kerikil. Dok pribadi
Tempat berjualan bakso kerikil. Dok pribadi
Bakso kerikil tersebut ternyata ada banyak pedagangnya yang terpusat di suatu lokasi, tepatnya di Taman Kota Badaan. Di sana tersedia tempat makan berupa meja dan bangku yang sederhana, namun cukup layak. Sesuai namanya, ukuran baksonya memang kecil-kecil.

Lho, bakso kerikil itu ada sejarahnya. Begini, di tahun 1995, salah seorang pedagang bakso punya ide saat melihat anak-anak yang rewel padahal orang tuanya lagi asyik makan bakso. Nah, untuk anak-anak diberikanlah bakso berukuran kecil tersebut, yang apabila diacak-acak, tidak terlalu sayang. Eh, lama-lama para orang dewasa pun suka minta bakso kecil itu.

Warung Ronde (dok pribadi)
Warung Ronde (dok pribadi)
Kupat tahu sudah, bakso kerikil juga sudah. Sang pemandu mengajak mencari kios oleh-oleh. Baik di pusat kota, maupun di pinggir kota yang merupakan jalur kendaraan ke arah Semarang, banyak sekali toko oleh-oleh yang representatif.

Ada banyak makanan berupa cemilan yang menjadi oleh-oleh khas dari Magelang. Namun yang paling banyak dibeli oleh pelancong dari luar kota adalah gethuk yang terbuat dari singkong. Gethuk ini dibungkus dalam ukuran kecil dan terdiri dari tiga lapis, masing-masing berwarna putih, coklat dan merah muda. Sayangnya, gethuk ini masa layak konsumsinya hanya sekitar empat hari saja.

Senja di pusat kota Magelang (dok pribadi)
Senja di pusat kota Magelang (dok pribadi)
Sebelum kembali ke penginapan, kami masih belum puas, ingin menjajal minuman penghangat badan. Maka pilihan kami adalah Warung Ronde Miroso yang terletak di Jalan Medang. 

Warung Ronde tersebut ternyata sudah punya sejarah panjang, sekarang agaknya dikelola oleh cucu dan cicit pendirinya, yang dari wajahnya terlihat saudara kita beretnis Tionghoa.

Lanskap Magelang (dok Bintoro)
Lanskap Magelang (dok Bintoro)
Dulu, Presiden Soekarno merupakan pelanggan warung ronde tersebut, setiap beliau berkunjung ke Akademi Militer Magelang. Namun yang membuat Soekarno ketagihan justru sate pisangnya, yang juga menu utama di sana selain ronde.  

Maka kami yang sebetulnya sudah kenyang, tadinya hanya ingin minum, tergoda untuk mencicipi sate pisang, yang konon hanya ada di Magelang. Sate pisang di warung Miroso, resepnya masih sama dengan saat dibuat oleh pendirinya yang membuat Presiden pertama kita ketagihan itu.

Dok. Bintoro
Dok. Bintoro
Hhmm, rasanya memang enak. Sate pisang tersebut diolah dari pisang kepok merah yang direbus, dipotong-potong, lalu ditusuk lidi sebagaimana layaknya sate ayam atau sate kambing. Dan ini dia yang bikin eanak, dilumuri saus santan kental yang manis gurih.  Adapun rondenya itu sendiri, minuman dengan jahe dan sereh,  juga tidak kalah nikmat. Bikin kami ingin nambah satu ronde lagi.
Oleh-oleh Magelang (dok pribadi)
Oleh-oleh Magelang (dok pribadi)
Sebetulnya, masih banyak kuliner lainnya di Magelang, selain yang kami makan dan minum di atas. Tapi, ya, namanya perut, kan ada kapasitas maksimalnya. Lain kali kalau ke Magelang lagi, kami akan coba yang lainnya.