Irwan Rinaldi Sikumbang
Irwan Rinaldi Sikumbang freelance

menulis untuk menikmati kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Kuliner Artikel Utama

Berburu "Street Food" di Jalan Sabang

12 Juni 2018   09:25 Diperbarui: 12 Juni 2018   19:03 5208 6 4
Berburu "Street Food" di Jalan Sabang
Penjual sate kambing (dok pribadi)

Street food atau makanan yang dijual di pinggir jalan, sangat gampang ditemui di ibu kota Jakarta. Salah satu yang legendaris karena terkenal sejak puluhan tahun lalu adalah yang mangkal di Jalan Sabang. 

Lokasinya yang terletak di pusat Jakarta, relatif dekat dari mana-mana. Jalan sepanjang lebih kurang 1 km ini berada di belakang Gedung Sarinah di Jalan Thamrin, toko serba ada pertama di Indonesia.

Nama resmi jalan yang setiap sore sampai tengah malam ini selalu sesak adalah Jalan Agus Salim. Namun publik Jakarta lebih sering menyebut sebagai Jalan Sabang, nama lamanya sebelum berganti nama pahlawan nasional asal Minang tersebut. Yang menyesaki jalanan ini untuk berburu street food tidak hanya warga lokal, namun juga turis asing atau ekspatriat.

Mengira bahwa Jakarta mulai sepi ditinggalkan sebagian besar warganya yang mudik lebaran, kemarin sore (Senin 11/6) saya sekeluarga bermaksud mencari angin dengan berbuka puasa di Jalan Sabang. Ternyata di sana masih macet dengan banyaknya kendaraan roda empat dan roda dua yang melewatinya.

Saat saya sampai di Jalan Sabang sekitar pukul 16.30, sudah sulit mencari tempat parkir. Untung ada space di depan sebuah toko yang sudah tutup yang ditunjukan oleh juru parkir di sana. Lalu kami pun berjalan kaki di sepanjang Jalan Sabang untuk menjajaki kira-kira makanan apa yang akan kami lahap nanti pas berbuka puasa.

Boleh dikatakan di kedua sisi trotoar sepanjang Jalan Sabang mulai sore hari telah dikuasai pedagang makanan kaki lima. 

Mereka menggunakan gerobak tempat menaruh makanannya, serta bangku-bangku plastik di bawah tenda seadanya sebagai fasilitas bagi pengunjung yang mau makan di tempat. Ada pula yang berdagang menggunakan mobil yang diparkir di trotoar, semacam food truck berukuran kecil.

Nasi Goreng Gila (dok pribadi)
Nasi Goreng Gila (dok pribadi)
Apa saja makanan yang ditawarkan di sana? Yang paling top of mind sih nasi goreng kambing, dan terbukti memang cukup banyak pedagang nasi goreng yang saling bersaing. 

Ada yang memberi nama warungnya dengan "Nasi Goreng Gila", maksudnya mungkin agar setelah makan, orang-orang akan berkomentar: "Gila, enak banget".

Makanan lain adalah sate, soto, bakso,  martabak, dan juga seafood. Namun kalau ingin lebih nyaman, bisa juga masuk ke restoran yang ada di jalan tersebut. 

Salah satu yang terkenal adalah Rumah Makan Garuda yang menyediakan masakan Padang dan Melayu Medan.

Hanya saja, baik yang di kelas kaki lima, ataupun masuk restoran, harga makanan di Jalan Sabang relatif sedikit lebih mahal ketimbang makanan sejenis yang dijual di kawasan lain di Jakarta. Bagi pengunjung yang membawa uang pas-pasan, tak ada salahnya bertanya dulu ke si penjual tentang harga makanan.

Satu lagi, di sini, meskipun memarkir kendaraan di pinggir jalan, telah diterapkan sistem jam-jaman dengan tarif Rp 5.000 per jam. Petugas parkir dilengkapi mesin kecil yang mengeluarkan slip tagihan parkir yang harus dibayar. 

Tapi yang saya alami kemarin, tidak merugikan saya, tapi mungkin merugikan pengelola parkir yang dalam hal ini adalah Pemda DKI Jakarta.

Saya memang memarkir mobil selama 2 jam lebih beberapa menit, dan itu digenapkan sebagai 3 jam. Maka saya membayar sebesar Rp 15.000. Namun setelah saya teliti di slip-nya tercetak  hanya parkir 1 jam dengan tarif Rp 5.000. Apakah si petugas menilap uang parkir sebesar Rp 10.000? Wallahu'alam.

Bagaimanapun juga berburu street food di Jalan Sabang terasa cukup mengasyikkan. 

Mobil martabak di Jalan Sabang (dok pribadi)
Mobil martabak di Jalan Sabang (dok pribadi)